Benci Jadi Cinta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS

    Namaku Ardi, aku siswa disalah satu  SMA dikota Cirebon. Aku mempunya adik perempuan yang bernama Chika, sekarang ia baru kelas lima SD. Setiap hari aku selalu pergi dan pulang sekolah bersama Chika karena sekolah kami sama. Namun kadang aku harus menunggunya pulang karena dia harus mengikuti pelajaran tambahan ya... karena aku sayang adik jadi aku rela deh nungguin dia tapi aku sebel juga sih soalnya teman sekelas aku juga nungguin adiknya, jadi kita nungguin bareng deh. Hmmm... sumpah ya anaknya yebelin banget! Namanya Tia, dia itu tomboi, sombong, nyebelin, suka pamer, so cantik, cerewet, gak tau sopan santun pokoknya nyebelin benget deh anaknya. Tapi yang paling nyebelin tuh waktu si Tia ngedeketin adik aku.
“Eh... kamu adiknya Ardi ya?” tanya Tia ke adikku.
“Ia, emang napa?”
“Gak apa-apa sih Cuma nanya doang kok.. Ardi kalo dirumah suka main sama siapa?”
“Sama aku, hmmm...” Chika berfikir, “Tapi kadang temennya main kerumah juga sih”
“Oh, kalo main biasanya ngapain?”
“Kalo main sama aku biasanya main boneka Barbie soalnya aku suka sama boneka. Kalo sama temennya paling main games”
“Hah... Ardi main boneka Barbie?”
Gara-gara itu aku suka diejekin sama Tia “cwok jadi-jadian” soalnya akukan cwok masa main boneka sih (meskipun bener tapi itukan karena aku sayang adik)... dan karena mulutnya yang gak bisa dijaga setiap detik dia selalu ngejek aku.
“Ardi... ardi... main barbie yuks”
“Heh... diem kamu!” aku sangat kesal dengan semua ini.
“Ih... takc....yut... deh...” Tia naik keatas kursi “temen-temen main boneka yuks sama Ardi” otomatis sorak-sorai temen-temen sekelas mewarnai.
“Ya ampun Ar, kamu malu-maluin derajat cwok aja sih” teriak Anto, teman sekelasku.
“Tapi kalo dia main boneka cocok juga kok sama mukanya” Dea memandang wajahku, Dea adalah teman sekelasku “Bulu mata yang lentik, kulit putih, tinggi, langsing, punya sikap dan sifat yang lembut hmmm.... cocoklah ya kalo jadi cewek”
“Kalo kamu cewek aku mau dong jadi pacar kamu hehehe.....” teriak Erick.
Aku langsung pergi ke kamar mandi (bukannya nyali aku kecil ngadepin mereka aku Cuma takut masuk ruang BP). Aku mencoba meredam amarahku.
***
Karena aku tak pernah menanggapi ejekan anak-anak perlahan-lahan anak-anak udah gak ngejekin aku lagi, tapi Tia masih ngejekin aku. setiap pagi, istirahat, maupun pulang sekolah dia selalu menghampiri aku dan mengucapkan “Hay..... mau main boneka Barbie?” lama kelamaan aku merasa geram juga. Amarahku ada batasnya dan dia berada di tingkat yang paling atas. Hingga aku memutuskan pulang sekolah nanti aku akan menunggunya di gerbang dan membicarakan semua kekesalanku.
Setelah aku menunggunya lumayan lama  akhirnya dia muncul juga.
“Heh... Tia apa sih salah aku sampe-sampe kamu lakuin semua ini sama aku?” aku melampiaskan semua kekesalanku.
“Kamu gak salah apa-apa kok” jawabnya santai.
“Kalo aku gak punya salah terus kenapa kamu ganguin aku dan buat semua anak-anak jadi ikutan ngejekin aku? dan yang lebih parah kamu selalu ngejek aku tiap hari!”
“Loh... bukannya itu fakta ya...? jadi menurut aku kamu gak perlu marah kayak gini”
“Ia, aku akuin semua itu bener. Tapi setidaknya kamu tau kalo berita itu tersebar itu akan membuat aku sangat MALU!”
“Aku niatnya Cuma bercanda doang gak ada maksud buat bikin kamu malu dan aku selalu ngejek kamu karena kamu selalu cuek sama aku. aku penasaran sama kamu yang lebih suka menyendiri dan gak akrab sama temen-temen sekelas. Kamu lebih suka main sama geng kamu aja” jelasnya.
“Terus kalo aku mainnya sama temen geng aku doang apa urusannya sama kamu?”
“Gak ada sih...” Tia menundukan kepalanya.
“Apa maksud kamu lakuin semua ini? JUJUR!” tanya ku. Tia hanya mampu terdiam.
“Jawab Tia, kamu punya mulutkan? Apa maksud kamu lakuin semua ini?”
 “Hmmm.... aku Cuma pengen temenan sama kamu”
“Ok, aku gak mau temenan sama kamu! Kamu udah denger jawaban dari akukan, sekarang mending kamu pergi dan gak usah gangguin aku lagi!” ucapku. Tia langsung berlari meninggalkanku. Aku langsung menjemput adikku dan pulang kerumah.
Sesampainya dirumah kenapa aku kepikiran sama kata-kata aku tadi ya? Apa ucapanku terlalu sadis? Apa aku melakukan hal yang salah? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiranku.
***
Pagi ini aku berangkat sekolah dengan rasa yang bahagia karena aku yakin Tia pasti gak akan berani lagi ngejek aku. aku berjalan menuju kelas dengan langkah yang santai dan bahagia dan dugaanku benar Tia gak ngejek aku lagi. Bel tanda masuk udah bunyi tapi si Tia kok belum keliatan juga ya? Dia kemana ya? Apa dia sakit hati sama omonga aku yang kemarin dan gak masuk sekolah gara-gara gak mau ketemu aku ya? Atau jangan-jangan dia sakit? Aku ingin tau jawab dari pertanyaanku.
Sudah tiga hari Tia gak masuk sekolah, kata guru Tia sakit. “Apa dia sakit karena aku ya?” pertanyaan muncul dibenakku lagi. Aku jadi khawatir. Tapi kenapa perasaan aku jadi gak tentu gini ya? Apa karena aku ngerasa bersalah kali ya? Pertanyaan yang membuatku bingung sampai-sampai tanpa ku sadari aku termenung di bawah pohon dan mamah sudah berada dibelakangku.
“Kamu lagi ngapain disini?”
“Mamah, ngagetin aja sih” aku sedikit kesal.
“Kayaknya kamu lagi ada masalah, kamu ceritain aja kemamah siapa tau mamah bisa bantu” tawaran mamah menggiurkan. “Mamahkan cwek jadi dia pasti tau perasaan Tia kayak gimana” pikirku dan akhirnya aku mencritakan semua tentang Tia dan aku.
“Mending kamu datng aja kerumahnya terus minta maaf. Ya... walaupun dia duluan yang salah tapi dia punya niat yang baik kok, lagian kamu juga salah. Ardi, dia gak meminta berlian atau emas kekamu dia Cuma mau berteman aja gak lebih. Jadi masa kamu gak bisa ngabulin permintaan dia” saran mamah.
Setelah aku pikir-pikir mamah ada benernya juga sih. Dengan memberanikan diri akhirnya  aku pergi  kerumah Tia dan meminta maaf (mesipun aku masih sebel sama dia tapi terpaksa deh soalnya aku kangen juga sama dia).
“Ngapain kamu kesini?” tanya Tia dengan jutek.
“Aku kesini mau minta maaf sama kamu, aku tau aku salah. Lagian kamu juga sih pengen temenan tapi pake cara yang buat aku sebel hmmm... yang ada aku bukannya suka tapi benci sama kamu”
“Kalo kamu benci sama aku mending kamu pergi aja dari sini” Tia mengusirku. (aduh... ini anak gak ngerti juga ya kalo aku mau temenan sama dia, tapi aku gak tau harus ngomong apa) pikirku.
“Hmmm.... ok, aku punya salah sama kamu dan kamu juga punya salah sama aku jadi kedudukan kita seri. Hhmmm.... jadi, kita mulai dari awal aja dan lupain semua yang udah terjadi”
“Ada angin apa kamu ngomong kaya gitu?” pertanyaan yang gak aku harapkan akirnya terlontar dari mulut Tia. Apa yang harus aku jawab? Masa aku harus jujur kalo semenjak gak ada dia aku jadi kangen sama dia dan karena rasa kangen itu akhirnya tumbuh benih-benih cinta. gengsi banget aku harus ngomong gitu! “Hmmm... aku Cuma bercanda kok. Jadi mulai sekarang kita berteman” Tia tersenyum padaku dan akhirna akupu tersenyum lega juga.
Sekarang aku berteman dengan Tia dan rasa benci yang aku rasakan berubah jadi Cinta. Tapi aku gak mau ngakuin semua perasaan aku karena aku gak mau merusak persahabatan kita yang baru aja terjalin. Biar semua berjalan seperti air megalir dan saat tibawaktunya nanti aku akan mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.

                            Nama: Suslia Dwi Ati S.E
                             Kelas : XB

IBU

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS

    Aku mempunyai 3 orang kakak yang bernama Nico, Ardi, dan Sisil. Sekarang aku baru berusia empat tahun. Bagi mamah aku adalah malaikat kecilnya, aku sangat senang mempunyai mamah sepertinya. Meskipun kadang aku merasa tak pantas berada dikeluarga ini karena bagi kak Sisil aku adalah derita baginya karena mamah lebih menyayangiku dari pada dia. Hampir setiap hari kak Sisil selalu memarahiku dan menyalahkanku atas semua masalah yang terjadi padanya. Mungkin karena rasa benci yang begitu menggebu kak Sisil jadi jarang pulang. Aku sangat sedih dengan semua ini namun tangan mamah selalu memberikanku kedamaian dan menguatkan hatiku. Mamah adalah wanita yang paling aku sayangi didunia ini.
   Malam ini hujan turun begitu deras, petir yang menggelegar membangunkanku dari alam mimpi. Aku ketakutan dan berlari kekamar mamah, ternyata mamah tidak ada dikamar. Karena petir terus menyambar akupun bersembunyi dibawah meja sambil menangis dan memanggil mamah. Mamah menghampiriku dan memeluku dengan begitu hangat.
"Mamah abis dari mana? Aku cari-cari mamah"
"Mamah ada diruang tamu, mamah lagi nungguin papah kamu"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, mamah membukanya dan yang datang adalah papah. Mata papah merah dan mulutnya mengeluarkan bau alkohol. Mamah menuntun papah kekamar. Hampir setiap hari papah pulang malam dan selalu pulang seperti ini. Kadang aku merasa kasihan pada mamah karena ia hanya mampu terdiam melihat papah. Setiap hari mamah selalu bekerja untuk menafkahi keluarga, meskipun papah bekerja namun ia tak pernah menyerahkan uangnya pada mamah sedikitpun. Papah juga gak pernah tau gimana kehidupan keluarganya. papah gak pernah tau kalo kak Sisil jarang pulang, kak Nico dan kak Ardi yang selalu mebuat masalah disekolah, ataupun makanan yang setiap hari kami makanpun dia gak tau karena dia selalu makan diluar. Aku jarang melihat papah karena ia selalu berangkat pagi dan pulang malam, aku gak pernah tau apa pekerjaan papah dan gak pernah nikmatin uang hasil kerjanya. Entah uangnya ia kemanakan.
   Seperti biasanya sepulang mamah kerja kakak-kakakku selalu menghampiri mamah dan meminta uang lalu pergi entah kemana.
"Mah, minta uang dong. Aku mau main nih" pinta kakak-kakakku.
"Maaf ya sayang tapi hari ini Mamah lagi gak punya uang"
"Hah.... kalo kamu gak punya uang terus buat apa kamu kerja?" bentak kak Nico.
"Kakak jangan bentak mamah!" aku menangis dan memeluk mamah, namun kak Sisil menyeretku kekamar dan memukuliku tanpa belas kasihan.
"Sekarang kamu mulai berani ya ngelawan kakak kamu! Kamu diajarin sama siapa sih hah...." bentak kak Sisil.
Aku menangis bukan karena rasa sakit akibat pukulan kak Sisil namun aku menangis saat aku mendengar jerit kesakitan dari mamah. Mamah menghampiriku dan memeluku.
"Gak apa-apa kok sayang. Maafin mamah ya gara-gara kamu belain mamah kamu jadi ikut dipukulin sama kak Sisil. Kamu jangan benci sama mereka ya, ini semua salah mamah sayang..." mamah menangis.
Malam ini papah pulang cepat tanpa bau alkohol yang menjadi ciri khasnya, ia melihat mamah penuh dengan luka pukulan.
"Kamu abis dipukulin sama siapa sampe babak belur kayak gitu?" tanya papah.
"Tadi Nico, Ardi sama Sisil minta uang tapi aku lagi gak punya uang jadi mereka mukulin aku" jelas mamah.
"Hah... seorang anak mukul ibunya? Ini akibatnya kalo kamu gak becus ngurusin anak. Jujur aja aku nyesel udah nikah sama kamu, aku gak mau punya anak yang berandalan!" papah mengemasi pakaiannya dan pergi meninggalkan mamah. Karena kejadian itu bukan hanya papah yang meninggalkan mamah tapi kak Nico juga pergi dari rumah bersama kekasihnya.
                                                                 ***
    Satu tahun berlalu hidupku tanpa papah dan kak Nico. Mamah terlihat biasa saja menghadapi semua ini namun aku tau di dalam hatinya ia pasti sangat sedih dengan semua ini. Kehancuran hati mamah sangat terlihat dari fisiknya yang semakin kurus kering. Dulu badan mamah gemuk namun sekarang hanya tulang yang terlihat dari balik kulitnya yang tipis. “Kriiing..... kringg...” bunyi telepon berdering, aku langsung menghampiri dan menjawab telepon itu.
“Hallo... ini dengan siapa?” tanyaku.
“Apa ini nomor telepon rumahnya pak Anwar?” tanyanya.
“Ia, saya anaknya. Tapi papah gak ada di rumah, memangnya ada apa ya?”
“Apa mamah kamu ada?”
“Mamah lagi kerja. Apa ada pesan? Nanti saya sampaikan”
“Begini dik, kalau mamahmu pulang suruh mamahmu kerumah sakit secepatnya ya”
“Memang siapa yang sakit?”
“Nanti juga mamahmu tau setelah ia datang kesini”
“Baiklah, nanti saya sampaikan”
“Terima kasih”
Aku menutup telepon itu dan menunggu mamah pulang diteras depan.
Aku melihat mamah berjalan menuju rumah. Aku berlari dan memeluknya.
“Mah, tadi ada telepon katanya mamah harus kerumah sakit sekarang juga”
“Dari siapa?” tanya mamah heran.
“Gak tau mah, aku lupa tanya”
Aku dan mamah segera pergi keruma sakit itu. Sesampainya dirumah sakit ada seorang polisi yang menghampiri kami.
“Apa anda istri Bapak Anwar?” tanya polisi itu.
“Ia, saya istrinya. Ada apa ya pak?”
“Silahkan ikut saya” polisi itu berjalan menuju ruang jenazah. Mamah tidak mengerti mengapa polisi itu mengajak mamah keruangan itu. Polisi menunjukan seorang mayat lelaki yang sudah terbujur kaku. Samar-samar aku mencoba mengingat siapa lelaki itu. Mamah menangis dan menciumi jenazah lelaki itu dan aku menyadari bahwa lelaki itu adalah papah.
“Bapak Anwar mengalami overdosis. Sudah lama saya mencari suami anda karena suami anda terlibat dalam jaringan pengedar NARKOBA dan perjudian. Namun saya gagal karena menemukan suami anda dalam keadaan seperti ini di markas besar perjudian” mamah hanya mampu terdiam dan menangis mendengar semua penjelasan polisi. Aku menatap muka papah yang sudah pucat. Aku menghafal raut muka papah supaya aku tidak lupa dengan wajahnya. Wajah yang selalu aku rindukan dan yang selalu aku inginkan meskipun aku membencinya namun dia tetaplah ayahku karena seburuk apapun dia aku tak dapat memungkiri bahwa darah daging yang ada di dalam tubuhku sebagian adalah miliknya.
                                                                        ***
Semenjak papah meninggal mamah jadi lebih suka melamun. Mamah berhenti bekerja dan sakit-sakitan. Kami hidup hanya mengandalkan uang tabungan mamah dan warisan yang diberikan oleh nenek. Setiap sore mamah suka duduk dikursi yang terletak dihalaman depan. Tiba-tiba kak Nico muncul dihadapan mamah dan meminta maaf sambil menangis.
“Maafin Nico mah, aku tau aku salah. Aku mau minta maaf sama mamah. Aku nyesel udah ninggalin mamah. Aku kangen mamah” kak Nico memeluk mamah.
“Mamah juga kangen banget sama kamu sayang. Kamu harus janji sama mamah gak akan pergi lagi ya nak. Kamu harus jagain adik-adik kamu, mereka mengandalkanmu sayang”
Mamah menerima kehadiran kak Nico dengan tangan yang terbuka dan pintu maaf yang terbuka lebar. Mamah bagaikan malaikat yang menyamar jadi manusia. Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu itu sepanjang masa dan itu memang benar nyatanya.
Hari ini mamah masak masakan special untuk menyambut kehadiran kak Nico dan untuk merayakan kembalinya keutuhan kelurga kami. Kami berbagi canda tawa, makan bersama, nonton bersama, bahkan mamah sempat bermain piano dan bernyanyi untuk kami. Mamah memang pandai bermain piano. Kami sangat gembira dengan semua ini, namun tak ku sangka hari itu juga mamah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Tanpa mamah apa yang bisa aku lakukan? Aku malihat hanya aku dan kak Nico yang menangis dan tak menginginkan mamah pergi. Kak Ardi dan kak Sisil sibuk dengan pembagian harta warisan mamah. Apa kak Sisil dan kak Ardi lebih menyanyangi harta dari pada mamah?
Setelah pembagian harta selesai kak Ardi dan kak Sisil pergi entah kemana. Karena aku masih kecil jadi warisan aku dititipkan kepada kak Nico. Kak Nico memanfaatkan uang itu untuk modal berjualan makanan.
                                                                              ***
Setelah satu tahun berlalu akhirnya kak Ardi dan kak Sisil pulang juga, namun aku merasa sedih karena mereka pulang bukan karena keinginan untuk bersatu atau rindu padaku tetapi karena uang mereka habis dan mereka tak punya tempat untuk tinggal. Mendengar semua alasan mengapa mereka kembali kak Nico merasa geram dan marah. Terjadilah pertengkaran yang hebat. Kak Nico memutuskan untuk pergi dari rumah. Sekarang aku tinggal bersama kak Sisil dan kak Ardi. Karena mereka tak punya uang untuk membeli makanan mereka menyuruhku untuk meminta makanan pada kak Nico. setiap pulang sekolah aku selalu pergi kerumah kak Nico untuk menunggunya pulang dan membawa sisa makanan yang tidak terjual dan membawanya pulang supaya kak Ardi dan kak Sisil bisa makan. kadang ketika aku sendirian aku merindukan kehadiran mamah. “Mah, sampai kapan hidup aku kayak gini terus. Aku kangen mamah. Tanpa mamah aku gak bisa menghadapi semua ini. Mending aku ikut mamah aja kesurga. Aku kangen banget sama mamah, aku mau merasakan hangatnya pelukan dari mamah”
                                                                       ***
Sepuluh tahun berlalu dan kehidupanku masih sama seperti dulu. Bahkan lebih parah karena tetangga-tetangga selalu membicarakan keluarga kami dan selalu menyepelekan kami karena kami hidup tanpa orang tua. Kadang orang-orang menganggapku anak yang nakal karena tidak ada yang mendidik. Meskipun aku hidup tanpa orang tua namun aku juga tau etika dan sopan santun, meskipun aku bukan belajar dari orang tua namun aku juga belajar dari sekolah. Setiap aku keluar rumah dan bertemu tetangga mereka pasti menanyakan “Anak siapa de?” aku bingung harus menjawab apa. meskipun aku menjawab merekapun pasti gak akan kenal orang tua aku karena orang tua ku sudah meinggal ketika uasiaku masih kecil, maka aku hanya tersenyum dan langsung pergi dari hadapa mereka. Namun semua ini gak terlalu menyakitkan jika dibendingkan dengan kakak aku yang selalu membenciku dan mereka menyalahkan mamah dan papah atas semua ini. Bahkan mereka menganggap aku ini bodoh dan tak berguna. Jika aku melakukan kesalahan sedikitpun mereka langung memukulku. Tak bisa aku bayangkan bagaimana hancurnya perasaan mamah memiliki anak seperti kakak-kakakku sampai-sampai mamah sudah meninggalpun mereka masih membenci mamah. Semasa hidupnya mamah jarang mempunyai kesempatan untuk bahagia tapi dia tak pernah mengeluh. Dia hanya mampu terdiam melihat semua ini, meskipun hatinya sangat terluka dia tetap diam karena dia gak mau orang-orang yang dia sayangi pergi dari sisinya sehingga ia hanya mampu terdiam asalkan mereka tetap berada disisi mamah. mamah hatimu bagaikan malaikat yang turun dari bumi. Mah, aku kangen banget sama mamah. Tuhan setiap hari ibu aku selalu berharap mamah bisa hadir dimimpiku dan memelukku, hanya itu harapan aku tuhan.





                                                                                                         karya: Suslia Dwi Ati S.E
                                                                                                         kelas: xb

My Talents Show

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS


Kelulusan ku dari bangku SMP, mengakhiri semua penderitaan ku, selama aku duduk di bangku SMP. Kelulusan itu aku rayakan dengan berlibur ke kota kelahiranku, udara yang cukup segar mengawali perjalanan ku di kota Bandung. Awalnya aku kaget ketika melihat kota ini sangat berbeda dengan Bandung yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Ketika itu aku dan keluarga ku masih tinggal di Bandung, aku sempat sekolah di sebuah sekolah yang cukup popular di kota ini. Dulu letak sekolah ku tak jauh dari taman kota, namun apa yang ku lihat sekarang hanyalah sebuah Mall yang yang menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di sekolah itu aku menempati ruang kelas 7-D, sebuah ruang kelas yang berada dekat dengan lapangan basket. Candy, adalah orang pertama yang aku kenal di sekolah ini, maklum saja dia teman sebangku ku ketika aku baru masuk di sekolah ini.

Baru seminggu aku sekolah disini, aku tertarik untuk bergabung dengan salah satu tim basket yang ada di sekolah ini. Spyre adalah salah satu tim basket yang memiliki prestasi terbanyak di antara tim basket lainnya. Yang aku dengar dari Candy, sekolah ini memiliki tiga tim basket, yang semuanya memiliki peringkat berdasarkan prestasi yang dimiliki setiap tim. Keinginan itu, aku ceritakan kepada kedua orang tua ku dan Candy. Setelah mendengar hal  itu, Candy segera mengajak ku untuk menemui Pa Jimmy, dia salah seorang pelatih tim basket yang ada di sekolah ini. Hal utama yang ditanyakan oleh Pa Jimmy ketika aku meminta untuk bergabung dengan salah satu tim basket, ternyata pertanyaanya tidak lepas dari prestasi basket yang pernah aku peroleh. Jujur saja aku ga pernah mendapat prestasi apapun, apalagi prestasi dalam bidang basket. Mendengar hal itu Pa Jimmy menolak ku untuk bergabung dengan tim basket yang ada di sekolah ini. Candy yang pada saat itu dekat dengan aku, mencoba untuk menghibur aku, dan dia sudah seperti sahabat baru bagiku.

Nomong-ngomong soal Candy, dia adalah pacar pertama aku. emm yaa lumayanlah dapet 254 hari. Kalo ga salah ceritanya sih begini. Randy, dia adalah kakak kelas sekaligus mantan pacar Candy. Mereka putus karena beberapa hal, salah satu yang aku tahu penyebabnya adalah, cowo Candy ketahuan selingkuh. Semenjak itulah hidup Candy menjadi hancur. Suatu hari aku diajak candy untuk mengerjakan tugas di rumahnya, pada saat itu Candy sedang keluar rumah untuk membeli sedikit cemilan. Dan orang tua Candy pun segera menceritakan seluruh hal tentang masa lalu Candy, dan dia juga meminta kepada aku untuk selalu menjaga Candy. Next day aku selalu dekat dengan Candy, waktu itu sih tujuannya cuma pengen buat dia selalu tersenyum, seperti apa yang diminta orang tua Candy kepada ku. Dua bulan berlalu, aku mulai menyukai dia. Dan aku tak mengira bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama. Singkat cerita kamipun jadian.

                Memasuki akhir semester 2, setiap siswa diberi angket untuk memilih salah satu ekstrakulikuler yang akan di ikuti masing-masing siswa pada semester mendatang. Dalam angket tersebut terdaftar berbagai jenis ekstrakulikuler, namun aku tak menemukan ekstrakulikuler yang sesuai dengan kemauan ku, pilihan yang ada membuat aku bingung untuk mengisi angket tersebut. Di awal libur kenaikan kelas, aku bersama teman-temanku, pergi ke Mall untuk menonton sebuah film. Saat itu film tersebut menjadi hitz di kalangan remaja. Usai nonton film tersebut, kami berjalan menuju distro kaos sembari menghabiskan sisa pop corn yang kami beli. Ditengah obrolan tiba-tiba Girald bertanya tentang ekstra yang akan aku ambil, dan ia menanyakan hal yang sama pada teman-temanku yang lainnya. Chris yang melihat raut wajahku yang penuh dengan tanda tanya, memotong pembicaraan tadi, dan ia menyarankan ku untuk mengikuti ekstra band. Saran yang berbeda di sampaikan oleh beberapa temanku. Semuanya itu membuat tanda tanya di kepalaku ini semakin banyak dan besar.


Ketika menikmati waktu libur yang tinggal sedikit, aku meminta kedua orang tua ku untuk membantu aku dalam memilih ekstrakulikuler yang ada. Kedua orang tuaku sependapat bahwa, aku sebaiknya mengikuti ekstra Photography. Menurut mereka, Photography adalah satu-satunya kegitan yang tidak terlalu banyak memakan energy, dan sangat bermanfaat. Aku sempat menolak pilihan mereka, karena menurutku kegiatan Photography itu terlalu membosankan. Dengan sangat, sangat, sangat terpaksanya aku mengikuti kemauan kedua orang tuaku tersebut.

           Seminggu sebelum batas akhir pengumpulan angket, kepala sekolah kami mengeluarkan kebijakan untuk menambahkan 3 ekstrakulikuler kedalam angket tersebut. Hal tersebut diharapkan dapat menggali setiap bakat-bakat yang ada, untuk mepersiapkan pekan olahraga tingkat pelajar yang akan di laksanakan pada tahun depan. Ekstrakulikuler yang ditambahkan diantaranya volly, softball, dan basket. Aku mempertimbangkan lagi pilihan ku, untuk mengikuti ekstra Photography. Bahkan Candy pun sependapat dengan aku. Dan akhirnya aku putuskan untuk mengubah pilihan ku, dan mengubah data yang ada pada angket sesuai dengan keinginanku.

               Setiap hari aku mengamati cara bermain tim Spyre, yang sedang berlatih untuk mempersiapkan diri dalam mendulang prestasi di ajang yang cukup berkelas, Bandung Basketball Tournament. Hasil pengamatanku, aku kembangkan ketika ekstra basket. Beberapa temanku yang mengikuti ekstra basket telah dipilih untuk bermain dalam sebuah tim yang dipersiapkan untuk pekan olahraga pelajar. Tim yang dibentuk tersebut merupakan tim khusus karena anggota dari tim basket yang lainnya harus berfokus pada ujian akhir sekolah, sedangkan tim Spyre harus bertanding dalam laga yang berkelas “Bandung Basketball Tournament “. Aku sangat kecewa ketika mendengar hal tersebut, dan aku mulai pesismis untuk menggeluti olahraga basket.

Semenjak jatuhnya perusahaan ayah, kelurga ku memutuskan untuk pindah ke Jakarta, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan sekolah ku di salah satu sekolah swasta yang ada di sana. Perlahan keekonomian keluarga ku mulai membaik, dengan modal yang tersisa, ayah membuka kembali kedai rotinya yang pernah tertidur. Disinilah kehidupan ku dimulai, aku mencoba untuk beradaptasi dengan sekolah ku yang baru. Di sekolah tersebut aku berusaha mencari bakat yang tertanam dalam diriku, disana aku belajar Design Graphic, dan hasilnya pun tidak jauh seperti ketika aku menggali potesi ku dalam bisang olahraga.

Inilah saat yang paling membahagiakan dalam hidup ku, dan inilah awalan untuk aku mengukir sejarah indah dalam hidupku,. Yaap,… aku sekarang duduk di bangku SMA. Teet ,. Teeeet,… bel masuk mengawali hari pertamaku di bangku SMA, oh ya masalah ospek kayaknya ga perlu di ceritakan, sepertinya sudah pada tau bahwa aura-aura yang membawa nasib jelek masih menyelimutiku.  Jakarta 45 Oktober 2012, ” Dear Diary,.” .  

            Daniel, Petrus, Michelle, and Liona mereka adalah teman-teman yang aku kenal pada hari ini. Michelle , dia seorang yang sangat menggemari photography, katanya sih dia sudah menggemari dunia photography sejak SMP, dan dia pernah menerima bayaran mahal dari foto-fotonya itu. Emm,. Soal kebenarannya sih aku, masih kurang tahu heehhe,.. mungkin bisa di tanyakan langsung pada micel. Ok sekarang Liona , menurut ku dia seorang pribadi yang mudah bergaul. Saking mudahnya ia bergaul sampai-sampai dia memiliki banyak teman mulai dari cewe, cowo, sampe yang jenis kelaminnya di ragukan. Daniel ‘n Petrus , mereka adalah pencinta anime, bahasa kerennya sih OTAKU. Hoamzz,.. aku rasa sudah cukup cerita untuk hari ini

           Pagi ini aku berangkat pukul 06.20, setidaknya aku berangkat tidak terlalu pagi, dan tidak terlalu siang. Sesampainya di sekolah, aku menaruh tas di ruang kelas dan bergegas untuk nongkrong di gazebo. Aku lihat satu persatu siswa berdatangan dari arah pintu gerbang. “ asik nee, kalo udah nongkrong gini, gw pasti bisa ngamatin cewe-cewe yang lewat di depan sini “, gumam ku dalam hati. “ Muantaaap “, kataku ketika melihat seorang yang tampak seperti bidadari.

                “ Heey Dick, ngamapin lu disini “ Petrus menepukku dari belakang
                “ Gw nunggu temen-temen dateng, Pet “ jawab ku
                “ Ahh, yang bener luu, tadi gw denger lu ngomong Muantaaap “ Petrus terus meledek ku
                “ Apaan yang Muantaap Pet ? “ Bego Mode ON
                “ Ahhh, udah ga usah pura-pura bego luu, gw gabung yaa “

Saat itu pun dimulai pengintaian, pengincaran, pengamatan, atau apa pun istilahnya yang penting intinya satu, yang aku lakukan bersama Petrus.

                “ WoW…… “ Petrus terpesona
                “ Ada apa pet ? “ Tanya ku penasaran
                “ luu liad ce di sebelah sono “ menunjuk kearah mading sekolah
                “ Beeuh,itukan Vero, beruang kaya gitu lu bilang Wow ??  “
                “ Ituu yang di sebelahnya bego“
               
Melihat hal yang ditunjuk oleh Petrus aku pun ga bisa memalingkan mata dari cewe itu. Aku yang sedang berhayal tiba-tiba menjadi penasaran  sebab pengunjung mading tersebut makin banyak. Melihat hal ituaku pun segera menuju mading, dan mencari informasi yang di tempel pada mading tersebut. Modern Dance, yap itu acara yang akan di kompetisikan bulan depan.

                Aku dan petrus kembali berhayal akan berbagai hal yang kami dapat, setelah kami menjadi salah atu juara dalam kompetisi tersebut. Selesai berhayal kami pun memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Aku dan petrus segera membentuk Grup MD, awalnya memang susah mencari orang yang mau bergabung dengan kita yang dancenya aja masih pas-pasan.

                “ Micel, lu mau ga gabung bareng buat ikut lomba MD bulan depan ? “
                “ Sorry ya, Dick gw bukannya gamau, tapi gw ga bisa “
                “ Gapapa koq cel, kita kan masih punya waktu buat latihan “ pintaku sekali lagi
              “ Aduh gimana yaa,.. oh yaa aku jadi photographer kalian pas kalian show aja  yaah “
                “ oke dech thank’s yaa “ jawabku dengan sedikit kecewa

Seminggu kemudian aku berhasil membentuk sebuah grup dance. Waktu tersisa 3 minggu lagi, awalnya petrus sempat pesimis akan hal tersebut. Karena keterbatasan biaya, kami  tidak berlatih di sanggar. Kami latihan dance di sebuah komunitas dance, mereka yang ada di sana selalu memberi masukan pada setiap bagian dalam koreo yang telah di susun. Oh yaa,.. grup dance kami bernama, Jmbc.

                Inilah waktunya aku menunjukan skill ku dalam dunia dance, dan ini merupakan pertamakalinya aku berdiri di sebuah pangung. Dari atas sini aku lihat Michelle siap dengan kameranya. Aku sangat gugup melihat penonton yang begitu banyaknya. Saat yang ku tunggupun tiba, pengumuman pemenang dimulai dari juara 3, dan pemenangn juara ketiga adalah Floop. “ kalau grup yang senior aja Cuma juara 3, apa lagi kita ? “ kata Petrus dengan nada rendah. Juara 2 diperoleh oleh Div MD, dan juara satu diperoleh oleh Jmbc. Mendengar itu seluruh grup hanya tercengang setengah sadar. Dan inilah Show pertama aku yang aku bawakan.


Penulis :  Valentino Leo Saputra, XII IPA





Cintaku Garis Keras

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS


“ Oh ya, kita belum kenalan. Aku Jonas “ katanya tiba-tiba. “ Oh iya, aku Tita “ jawabku gugup. Aku gugup sekali, aku tidak pernah menyangka dia akan mengajakku berkenalan sambil bersalaman. Terlihatjelas senyuman manis di bibirnya. Aku pura-pura bersikap bisaa saja. Aduh ! mendadak tanganku gemetar. Memang sejak tadi aku bersama dia, tapi baru sekarang kami berkenalan.

            Siang ini aku bermain bersama Bayu kakak kelasku, Rio keponakanku yang masih seumuran dengan ku, dan Jonas teman dekat keponakan ku. Karena libur panjang, Jonas tinggal di rumah Rio selama tiga hari. Entahlah, ini menjadi sebuah kabar menyenangkan untukku. Siang ini kami hanya jalan-jalan sambil ngobrol. Tapi aku hanya diam, cukup mendengarkan mereka yang asik ngobrol.

            Apa ? Jonas seorang frater ? aku kaget mendengar hal itu. Yang aku tau, seorang frater itu adalah calon pastor. Seorang pastor tidak di perbolehkan untuk menikah, itu merupakan peraturan dalam agama Katholik. Itu artinya Jonas tidak bisa pacaran. Aduh ! apa sih yang sedang aku pikirkan ?
           
            Saat sedang berpikir begitu, aku melihat kearah Jonas. Ku perhatikan dia baik-baik. Tiba-tiba dia menoleh kearahku. Aku merasa udara di sekitar kami jadi terasa panas. Rasanya ingin cepat pulang saja.

            “ Anu ……. Kita pulang saja yuk, “ kataku.
            “ Okay ! tapi nanti sore kita ziarah ke gua yuk, “ ajak Rio.
            “ Ayuu … “ jawab Bayu semangat.
           
Saat itu kami sepakat untuk pergi ziarah. Karena Jonas ikut, aku juga ikut. Rasanya aku ingin lebih mengenalnya.           

            Sorenya aku datang ke rumah Rio, disana juga ada Jonas. Aku kira mereka sudah siap untuk pergi ziarah. Rio yang megajak ku berziarah malah belum siap apa-apa. Aku terpaksa menunggu sambil nonton tv. Aku melihat jam tangan ku. Sekarang sudah pukul 18.10. masih ada waktu 20 menit dari waktu yang kami tentukan. Kulihat Jonas masih saja mondar-mandir ke kamara mandi. Dia belum sempat mandi. Aku ingin menyapanya, tapi sepertinya aku lebih baik diam menunggu.

            Setelah siap-siap,kami langsung menuju tempat ziarah. Sedangkan Bayu, dia sudah menunggu di jalan yang akan kami lewati. Kami berangkat hanya berempat. Aku baru sadar. Aku hanya seorang cewek disini !

            Kini langit mulai gelap. Meskipun sudah memakai jaket, badanku terasa dingin terkena hembusan angin utara. Kami berjalan menempuh tempat ziarah yang cukup jauh. Selama perjalanan Rio dan Bayu asik bercanda tawa. Tapi sesekali pandanganku tertuju pada Jonas yang dari tadi hanya terdiam saja. Dia sama sekali tidak bersuara. Ada apa dengannya ? kalau saja aku punya sedikit keberanian untuk menyapanya. Aku hanya bisa memperhatikannya diam-diam.

            Dia menoleh kearahku ! aku mulai mendekatinya dan berjalan disampingnya. Saat itu aku memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.

            “ Jonas, udah pernah ke tempat ziarah ini ? “ tanyaku
            “ Belum. Jauh gak sih ? “
            “Yah, lumayann… “
            “ Mmm, “ jawabnya dingin.

            Perjalanan masih jauh ditambah pula jalanannya yang menanjak, membuatku cepat lelah. Aku dan Jonas berjalan dibelakang Rio dan Bayu. Rio dan Bayu masih saja bercanda tawa, sedangkan aku ? hanya tertunduk memandangi jalanan yang gelap. Jonas hanya terdiam, sama sekali tidak mengajakku bicara. Aku tetap berjalan tanpa menoleh ke arahnya. Tanpa sengaja tangan kami bergesekan. Oh Tuhan
 … Tolong aku ! Aku tak mau terlihat salah tingkah di depannya
Tak terasa kami berjalan cukup lama. Kini kami sampai di gua tempat ziarah yang digunakan untuk tempat berdoa. Dia belum selesai berdoa ? entahlah. Aku tidak tahu apa yang sedang dia panjatkan kepada Tuhan. Atau apa yang ia doakan ? dia sangat khusuk sekali. Saat itulah aku melihat sosok frater dalam dirinya. Aku, Rio dan juga Bayu hanya duduk santai sambil menunggu Jonas selesai doa.
            Eh ? kenapa Jonas lama sekali berdoanya ? aku sudah lama menunggunya. Saat sedang berpikir begitu, Jonas datang mendekati kami yang sedang duduk santai. Syukurlah.. kami langsung menuju jalan pulang. Eh, aku ingin buang air kecil ! kemudia Rio mengantar ku ke 
toilet dekat situ. Wah, toiletnya horror banget !

            “ Buruan ! aku nunggu di luar “ kata Rio
            “ Gak mau ahh. Takut ! “
            Aku langsung berlari menjauhi toilet tersebut. Jonas dan bayu menatapku heran.

            “ Kenapa sih ? buruan kalau mau kencing ! “ paksa Rio.
            “ Ih gam au ! takut “ jawabku kesal
            “Nanti bocor.. “ sambung Jonas sambil sedikit menertawakanku. Aku jadi malu.

            “ Nggak koq ! aku tahan “
            Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Sudah pukul 21.30. memang sudah malam. Rio dan Jonas mengantarku sampai depan rumah. Stelah berpamitan, aku langsung masuk ke rumah. Besok pagi aku akan bertemu Jonas lagi. Ya, besok pagi kami sepakat untuk lari pagi.

            Sekitar pukul 05.00 pagi, kami mulai berjalan melewati rumah-rumah penduduk. Pagi ini kami menuju tempat air terjun. Memang jauh, butuh waktu satu jam untuk sampai disana. Angina pagi yang sejuk membuat kami bersemangat. Mentari mengintip di antara awan-awan kecil. Kami berjalan menanjak melewati ladang-ladang. Aku menatap langit, kini langit sudah tidak gelap lagi, banyak pancaran sinar dari mentari yang cahayanya bertebaran. Sangat indah ! apalagi ditemani teman-temanku dan Jonas. Jonas berjalan santai dibelakang ku. Dan terlihat sangat menikmati keindahan alam yang jarang ia lihat. Kini wajahnya terlihat lebih segar dari bisaanya. Aku merasa dia cowok yang penuh pesona.

            Akhirnya, kami sampai di tempat air terjun. Terdengar gemuruh air yang membuat kami semakin bersemangat. Tempat ini sangat sejuk. Ku celupkan kakiku ke air, Brrr.. dinginnya !. Jonas terlihat lebih girang dengan wajahnya yang tersenyum kagum melihat air terjun yang mengalir deras. Ia membuka jaketnya dan langsung menginjakan kakinya kedalam air. Pasir yang lembut mengotori kakinya. Ia menoleh kearahku dengan senyuman manis di bibirnya. Dia memintaku untuk memotretnya sebagai kenang-kenangan. Aku senang akhirnya dia bisa tersenyum. Memang hari ini begitu sempurna.

            Matahari mulai bersinar terik, kami yang sedang duduk kedinginan kini mulai berjemur. Aku duduk berhadapan dengan Jonas. Aku melihatnya, aku menatapnya penuh perasaan. Dia membalas tatapanku. Saat ini aku merasa, dia pun menaruh hati kepadaku. Tapi apa mungkin ?

            Akhirnya kami pulang.selesai mandi dan makan aku langsung ke rumah Rio. Di sana hanya ada Rio dan Jonas yang sedang menonton tv. Aku duduk dekat Rio sambil melihat siaran tv yang sedang mereka tonton. Aku baru sadar, ini hari terakhir aku bertemu Jonas. Besok pagi aku berangkat ke Cirebon . dan Jonas besok akan berangkat ke Bandung, aku tak akan menyia-nyiakan hari ini !

            Tak lama kemudian, teman-teman Rio datang. Ada Melania, Tini, dan susi. Mereka duduk menemui kursi yang kami duduki. Kini suasana menjadi ramai dipenuhi dengan canda tawa. Aku tak menghiraukan mereka, aku hanya pura-pura mendengarkan mereka, hanya saja tatapanku tertuju pada Jonas. Sesekali Jonaspun menatapku. Kami hanya bisa saling bertatapan. Jonas berjalanke arah dapur. Mungkin dia ingin makan ? aku terus melihat kearah dapur.

            “ Kamu suka sama cowok itu ? “ Tanya Melania kepadaku. Aku tertegun
“ Tebakanku benar kan ? “
            “ Tii.. Tidak “ jawabku gugup
            “ Apa ?! “ pekik Rio
            “ Emang seperti apa cowok itu ?! “
            “ Sifatnya baik, ya ? “ sindir susi
            “ Dia, sering menatapku “
            Tiba-tiba Rio tertawa
            “ yang bener saja ! “ Rio semakin ribut

Aku takut Jonas mendengar pembicaraan kami. Tanganku gemetar. Kemudian Rio menyusul Jonas kedapur. Aku takut Rio menceritakan perasaanku ke Jonas. Segera aku menyusul Rio. Jonas ada di dekat Rio. Aku tak bisa apa-apa lagi. Perasaanku jadi gak karuan. Antara suka dan takut. Rasanya kau ingin mengihilang saja ! mungkin aku lebih baik pulang ke rumah.

            “ Yo, aku pulang yah “
            Rio tak menghiraukanku.
            “ mau pulang Ta ? “ Tanya Jonas tiba-tiba.
            “ Yaa, aku pulang “

            Perasaan ini semakin meluap-luap ! Jonas hanya menatapku. Tatapannya membuatku tak ingin pergi ! aku menundukan kepala, berbalik dan pergi pulang.

            Malam ini aku dan mamahku menginap di rumah nenek. Aku hanya bersandar di kursi sambil nonton tv. Tapi pikiranku masih saja tertuju pada Jonas. Aku takan bertemu dengannya lagi ! penyesalan yang aku rasakan, karena tak bisa jujur akan perasaanku ini. Aku capek dan jadi benci diriku sendiri. Aku tak ada kesempatan untuk membicarakan apa-apa lagi. Aku benar-benar kesal. Rasanya ingin menangis saja. Tiba-tiba Hp-ku bergetar, ada satu pesan dari Rio. Rio minta kalung padak. Kesempatan bagus, aku bisa meminta nomer HP Jonas, dia malah meminta aku datang kerumahnya sambil membawa kalung untuknya.

            Sekarang pukul 19.30, jalanan cuckup sepia pa lagi jalan menuju rumah Rio sangat gelap. Tapi aku memberanikan diri, agar bisa mendapatkan nomor HP jnas sekaligus bertemu Jonas. Akhirnya sampai juga. Rio membuka pintu rumahnya, dan mengajakku masuk. Aku pelihat Jonas sedang duduk di kursi sambil nonton TV. Aku duduk disampingnya.

            “ Kesini sama siapa Ta ? “ Tanya Jonas
            “ Sendiri “
            “ Loh, kok berani sih ? “
            Aku hanya tersenyum. Ini semua demi kamu Jonas !

            Rio menagih kalung yang ia pinta kepadaku. Aku membawa kalungnya, tapi aku pura-pura bilang kalau kalungnya ketinggalan di rumah nenekku. Akhirnya aku, Rio dan juga Jonas pergi ke rumah nenek untuk mengambil kalung. Aku senang, karena masih bisa bertemu Jonas. Saat di jalan menuju rumah nenek, Jonas berjalan di sampingku.

            “ Ta, besok kamu ke Cirebon ? “ Tanya Jonas
            “ Iaa,.. “
            “ Oh, jam berapa ? “
            “ Jam 05.30 kalau kamu besok ke Bandungkan ? jam berapa ? “
            “ Sekitar jam sepuluhan “

            Aku senang akhirnya Jonas mengajakku bicara, meskipun ini hari terakhir. Sampai di rumah nenek, kami ngobrol-ngobrol. Aku memberanikan diri meminta nomor HP Jonas.

            “ Jonas, aku minta nomor kamu ke Rio tapi gak dikasih “
            “ Iah ? kasih aja Yoo,… “

            Akhirnya Rio mengirimkan nomor Jonas. Aku langsung save nomernya. Sudah malam, sekarang pukul 21.30. Rio mengajak Jonas pulang

            “ Yo, nginep aja di sini ! “ kataku
            “ Gak mau akh ! “

Padahal aku masih ingin bersama Jonas. Akhirnya aku mengantar mereka sampai kedepan pintu.

            “ Pulang yahh,.. “ kata Rio
            “ Da… daah “

Rio sudah jalan. Tapi Jonas masih ada didepanku. “ Ta, aku pulang yahh.. “ Jonas berpamitan aku tak sanggup ! Benar-benar tak sanggup menatapnya lagi !  “ Yaa. Ya.. “ aku langsung menutup pintu.

            Pagi ini aku bangun pukul 05.00. aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan berisi perasaanku pada Jonas. “ Pagi …. Emm, to the point aja deh. Aku suka kamu. Aku juga gak tau kenapa, bingung aku juga. Padahal baru beberapa hari kenal yaa, konyol bangetkan ? baru pertama kali kayak gini heheh… Gak tau kenapa, bisaanya aku gengsian. Tapi sekarang blak-blakan aja deh. Maaf ya, udah ngomong yang aneh-aneh. Slamat jalan aja yaa. GBU “

            Kemudian pukul 05.30 aku berangkat ke Cirebon. Sekitar pukul 07.00 Jonas membalas pesanku.

            “ Sbb,  Ta ? udah jalan ? “
            “ Udah. Bentar lagi nyampe sekolah … “

Kemudian Jonas mengirimkan pesan SMS-ku yang waktu pagi. Tapi aku tak membalas pesannya.

            “ Ta ? “
            “ Iya, Jonas Kenapa “
            “ Me too “

Apa ? apa aku gak salah baca ? Jonas juga menyukaiku ! Kyaaa… Aku sangat senang. Tapi aku gak bisa bertemu dengannya lagi. Aku udah di Cirebon, dan Jonas akan segera berangkat ke Bandung.

            “ Ta, kenapa harus ke Cirebon hari ini sih ! “
            “ Sebenarnya aku gak mau, tapi mau gimana lagi … “
            “ Aku bingung pulang ke Bandung sekarang atau besok “
            “ Pulang besok aja. Biar kita bisa ketemu.. “
            “ Ya deh, demi kamu. Hehehe …. “

Asik… Jonas gak jadi berangkat ke Bandung demi aku. Akhirnya sekitar jam 4 sore aku ke rumah Rio lagi. Mamahnya Rio memintaku untuk menginap di rumah Rio. Akhirnya mala mini aku di rumah Rio deh.

            Malam ini aku asik ngobrol dan bercerita dengan Jonas. Dia membuatku nyaman. Jonas berbaring meletakan kepalanya diatas pahaku. Ternyata dia cowok yang manja ! Jonas memegang erat tangan kananku. Semua ini serasa mimpi. Malam ini terasa lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Hari ini kami telah bersama dan dipertemukan. Tapi besok ? entahlah, Jonas masih saja menggenggam tanganku dengan erat. Aku tak ingin lepas dari genggaman ini. Malam ini memang milik kita berdua.

            Pagi ini aku bangun pukul 05.30 aku harus segera pulang ke rumah, karena jam 05.30 aku harus ke Cirebon lagi. Aku membangunkan Jonas

            “ Udah jam empat yah .” kata Jonas yang masih mengantuk
            “ Iyah, aku harus pulang “

            Jonas menggenggam tanganku. Rasanya aku ingin menangis, karena setelah ini aku gak akan bertemu Jonas lagi. Dia akn pergi ke Bandung untuk menjalankan panggilannya sebagai frater. Memang, cinta kami ini cinta terlarang. Tetapi kami punya perasaan dan punya cinta.

            “ Ta, kamu kenapa ? “
            “ Aku gak apa-apa ! “
            “ Ta ? “
            Jonas menunjuk pipinya
            “ Gak mau ! “ tolakku
            “ Hmm…. “

            Aku mencium pipinya yang hangat. Dan Jonas pun terbangun dari tidurnya. Dia mencium keningku dengan lembut. Ciuman mesra ini tak akan pernah kami lupakan.“ Jonas, aku pulang … “Aku pun melepaskan genggaman tangannya

            Kami tak akan berjumpa lagi. Tetapi kami berjanji, suatu saat jika kami bertemu lagi, kami akan tetap saling mencintai. Meskipun kami tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Karna aku dan Jonas berbeda. Dan cinta kami terlarang

            Terakhir, Jonas mengirimkanku pesan. “ manusia tidak dapat menuar cinta, sampai dia merasakan perasaan yang menyedihkan. Dan mampu membuka pikirannya merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan “

            Cinta ini dibatasi oleh garis keras yang tidak bisa kami pungkiri.

Oleh : Margaretha Ita Lestari - XII IPA

Penyesalan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



  Vanesa yang masih duduk di bangku SMA terlihat sedang asyik mengobrol dengan teman-teman rumahnya. Diam-diam Vanesa memandangi Reza yang duduk didepan rumahnya. Reza adalah sosok yang baik padahal Vanesa tahu Reza selalu membawa wanita yang berbeda kerumahnya. Tetapi Vanesa yakin suatu saat nanti pasti menjadi milik Vanesa seutuhnya. Vanesa selalu member perhatian kepada Reza dengan cara ia menatap,menyapa dan lain-lain akan tetapi Reza tak pernah mengerti kalau Vanesa menyukainya. Beberapa hari berlalu Vanesa tak menyangka kalau Reza pindah rumah. Vanesa terlihat kesal dan sedih. Vanesa yang tahu bahwa Hendra teman sekolahnya mencintainya akhirnya ia mencoba melampiaskan kekesalannya dengan menerima cinta Hendra walaupun tidak dalam kesungguhan hati. Berbulan-bulan mereka berpacaran Hendra sangat perhatian dengan Vanesa serta mencintai Vanesa setulus hati dan Vanesa mulai melupakan Reza sehingga akhirnya kelulusanpun tiba, mereka merasa sangat bahagia karena bias lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Hendra adalah murid yang berprestasi sampai-sampai Hendra mendapatkan beasiswa perguruan tinggi di bandung tetapi ia tak diterima hingga akhirnya ia mendaftar di perguruan tinggi di Jakarta dan ia pun diterima. Hendra sangat sedih karena harus berpisah dengan Vanesa tetapi itulah kenyataan yang harus diterima.
 Beberapa bulan mereka berpisah tetapi saling komunikasi melalui handphone, Vanesa yang tinggal di Jakarta mencoba melepaskan rasa jenuh dengan berjalan-jalan ke taman. Disitu Vanesa sangat kaget setelah melihat seseorang yang ternyata Reza tetangga lamanya Vanesa berpura-pura tak melihat Reza, tetapi Reza mendekati Vanesa.
“Hey,kamu Vanesaa kan? Masih ingat ngga sama Aku” ujar Reza. Dengan jantung yang berdetak kencang Vanesa menjawab “oh ya, aku ingat kamu Reza kan? Sudah lama kita tak bertemu”.
Hingga akhirnya mereka berbincang-bincang dan saling akrab. Mereka sering jalan berdua. Vanesa senang bisa akrab dengan Reza. Tetapi Vanesa tak memikirkan perasaan Hendra yang masih berstatus sebagai pacarnya. Hingga beberapa bulan lamanya Reza yang selama in dekat dengan Vanesa dan ia mencoba mengatakan cintanya kepada Vanesa. Karena Reza mengetahui bahwa Vanesa mencintainya. Karena sikap Vanesa berubah terhadap Hendra ,tetapi Hendra mencoba dating ke Jakarta tanpa sepengetahuan Vanesa, ia langsung menuju tempat dimana Vanesa tinggal, Hendra tak menyangka saat ia sampai di depan pintu Hendra melihat Vanesa berpegangan tangan dengan laki-laki lain yang ternyata Vanesa baru menerima cinta laki-laki itu,hati Hendra sangat sakit , ia mencoba mendekati Vanesa dan mengatakan “Nes, jadi selama ini kamu berubah, karena kebohongan in”. Vanesa kaget ternyata Hendra dating tanpa memberitahu dirinya dahulu “ maafkan Aku Hen Aku sudah tak mencintaimu lagi”ajar
Vanesa… dengan hati yang hancur Hendra berkata “ kalau memang seperti itu, kamu pilih Aku atau Dia” dan Vanesa langsung menjawab” ya jelas Aku pilih Dia”. Reza yang tersenyum puas melihat kehancuran Hendra langsung mengusir Hendra dengan tidak sopan. Hendra pergi dengan putus asa dengan hati yang terluka.
   Setelah lama berpacaran Reza dan Vanesa mulai mengalakeretakan, karena sikap Reza yang kasar dan selalu ketahuan jalan dengan wanita lain. Setiap hari Vanesa meneteskan air mata dan akhirnya memutuskan berpisah dengan Reza  dengan rasa sedih yang mendalam ia teringat Hendra yang dulu telah melukisakan hari-harinya dengan kasih sayang. Dan Vanesa mencoba untuk menemui Hendra di Jakarta untuk meminta maaf. Di Jakarta Vanesa langsung menuju ke kost an Hendra tetapi Hendra  tidak ada dan ia langsung melanjutkan perjalanannya kerumah Hendra di Cirebon ,sesampainya di Cirebon , ia bertemu dengan Vicky sahabat Hendra, “Hay Nes kamu ada disini bukannya di Jakarta “ ajar Vicky. “iya, Aku ingin bertemu dengan Hendra, apakah kamu tahu Hendra ada dimana” jawab Vanesa. “loh, kamu gak tahu kini Hendra telah bertunangan dan ia pun tidak melanjutkan kuliahnya dan meneruskan usaha papahnya di Kalimantan , serta menerima pertunangan dari kedua orang tuanya semua itu karena dia merasa putus asa setelah putus denganmu “ jawab Vicky. Saat mendengar semua itu hati Vanesa sangat hancur ada perasaan salah dan menyesal. Vanesa meneteskan air mata”Vicky, Aku ini benar-benar menyesal, karena perbuatanku sendiri aku jadi begini”ujar Vanesa. Vicky hanya bisa memberi nasihat dan motivasi kepada Vanesa agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.
  Setelah beberapa lama berada dalam kesedihan yang berlarut-larut akhirnya Vanesa bangkit dan memulai lembaran baru serta gak akan mengulangi kesalahn yang sama.
Selesai
Ririn Febrianti
XII IPS A