Bulan Juli adalah tahun ajaran baru bagiku, awal masuk sekolah menengah atas. Namanya Reza, dia adalah teman sekelasku anaknya manis, lucu, baik, dan jail. Awal aku mengenalnya aku merasakan sesuatu yang tak dapat ku ungkapkan, mungkin karena sifatnya yang selalu membuatku nyaman tiap kali disampingnya. Setiap aku melihatnya berdua dengan Citra, teman sekelasku juga, aku merasa... aku cemburu. Apa aku suka padanya? Aku tak mengerti dengan perasaanku itu. Tapi itu tak mungkin, mengenalnya saja baru beberapa minggu yang lalu. Tapi entah kenapa aku benci setiap aku melihat Reza dan Citra berdua, hatiku hancur dan kecewa. "Ci, kenapa ya gue benci banget tiap kali gue liat Reza berduaan ama Citra?" tanyaku pada Cia. "What? Please again!" kelihatanya Cia sangat terkejut ketika aku ngomong itu kepadanya. "Lo... loe cemburu ya sama Citra?" dengan wajah tak percaya. "Ngga ci, gue nggak cemburu. Gue cuma..." "Cuma apa? Cuma benci ngeliat mereka berdua? Ya itu sama saja lo cemburu Fan... Lo suka sama Reza?" memotong pembicaraanku, sepertinya dia benar-benar tidak percaya. Mungkin Cia benar aku Cemburu pada Citra. Aku iri padanya. Ya Tuhan, semua itu menyiksa batinku.
17 Agustus adalah hari kemerdekaan, kami dari SMA Talenta diundang oleh perkumpulan pemuda Indonesia untuk merayakan bersama di hotel Sanita. "Fan, lo berangkat sama siapa?" "Gue ga tau ci, sama lo aja boleh?" "Oh, tentu. Ayo berangkat" menarik tanganku. Sesampainya di Hotel Sanita betapa hancurnya hatiku. Reza, cowo yang kusukai berangkat bareng Citra, cewe yang paling kubenci dikelas. Ya Tuhan, rasanya aku ingin sekali berlari meninggalkan tempat itu, menangis, dan berteriak untuk melepaskan rasa kecewaku padanya. Kenapa kamu tega membiarkan hatiku dalam keadaan hancur seperti ini. Aku mencoba bertahan dalam keadaanku sekarang, walau itu sulit. Setelah semua acara selesai tiba-tiba handphone di tasku berbunyi. Kubuka, ternyata itu sms dari Reza, ketika kubaca betapa senangnya aku, aku merasa itu adalah sebuah mimpi. Dia mengajakku pulang bersamanya? Apa itu benar? Tentu aku menerima ajakannya tak mungkin aku menolaknya karena ini adalah kesempatan emas bagiku. Kapan lagi bisa berduaan bersamanya. Hahahahahahahaha. "Ayo naik!" ajak Reza kepadaku. Akupun segera naik ke motornya. Saat perjalanan pulang aku harap dia memulai pembicaraannya denganku. Tetapi dia tetap membisu. "Kok diem-dieman kaya gini si za? Gak seru deh" aku memulai pembicaraan. "Terus aku mau ngomong apa? Aku lagi nyetir kalo nabrak gimana? Mau tanggung jawab?" sambil tersenyum dan melihat aku melalui spionnya. Akupun menunduk malu. Oh Tuhan betapa bahagianya aku waktu itu ingin rasanya aku berteriak agar semua orang tau apa yang aku rasakan. "Makasih ya za, udah nganterin aku pulang." "Iya, sama-sama, eh Fan, nanti malem aku telpon ya?" Aku tersentak, hatiku berdetak tak karuan. Apa aku tak salah dengar, nanti malam dia bakal nelpon aku? "Fanya? Kau tak apa-apa?" tanyanya sambil memegang tanganku "Eh, i..iya za apa?" jawabku gugup "Kok apa sih? Kau tak mendengarkan aku?" "Maaf za tadi aku melamun" "Oke! lain kali kalo aku lagi ngomong sama kamu jangan ngelamun ya. Ya udahlah aku pulang dulu ya?" "Oh, iya za, makasih ya." Senyumnya yang manis selalu terbayang dipikiranku. Andai kau tahu apa yang aku rasakan padamu, andai kau tahu betapa aku ingin memiliki cintamu seutuhnya. Aku ingin menjadi seorang yang spesial di hatimu, aku ingin menemani hari-harimu.
Ketika aku tertidur di kamarku tiba-tiba handphone ku berbunyi, segera ku ambil dan berharap besar Reza meneleponku. Ternyata benar, dia mengajak aku pergi besok sore. Aku bingung kenapa dia tiba-tiba mengajak aku pergi? Apakah ada suatu hal yang akan dia katakan padaku. Lamunanku mulai mengarah pada hal yang tak mungkin terjadi. Apa dia bakal menyatakan cinta padaku? Pada berpikir panjang aku bersedia pergi bersamanya.
Kesokan harinya, tepatnya jam 5 sore. Ketika aku sedang besantai di kamarku,tiba-tiba bel berbunyi. segera kubuka dan ternyata di balik pintu itu adalah reza. "Sore cantik" Menyapaku dengan senyum manisnya. Aku tersipu malu disana, pipiku mulai memerah. kata-katanya membuatku tak berdaya. "I...I...iya sore juga Reza" aku menjawabnya dengan gugup karena aku benar-benar tak dapat membalas sapaannya. "Udah siapkan? ayyo berangkat!" "Iya" tak di sangka seorang Reza yang jail dan nakal bisa membuat suasana menjadi romantis. Ternyata dia mengajaku ke taman yang indah dan penuh dengan bunga yang sedang bermekaran. ketika aku sedan menikmati keindahan taman itu, tiba-tiba dia memegang tanganku. "Fanya... Aku menyayangimu. Aku ingin kamu jadi pacarku." Aku terdiam membisu ternyata dia juga merasakan apa yang aku rasakan, dia ingin aku jadi pacarnya, jadi orang yang spesial di hatinya. Apa ini bukan sebuah mimpi? Please God! I don't believe it... jangan bangunkan aku Tuhan bila ini sebuah mimpi. "Kau sungguh menyayangiku?" "Fanya percayalah, apa kau tidak merasakan detak jantungku ini?" meletakan tanganku pada dada bidangnya. "detak jantungku ini adalah detak jantungmu juga, aku yakin kau juga menyayangiku." "Reza... Aku juga menyayangimu. Apa kau tahu setiap hembusan nafasku ini adalah hembusan nafas untukmu. Aku tak bisa jauh darimu." Dia menatap mataku, tatapan matanya seakan berkata bahwa dia juga tak ingin jauh dariku. Sekejap aku teringat pada temanku Citra. "Tapi ta..." "Tapi apa Fanya?" mukanya memucat pikirnya mungkin aku berubah pikiran dan aku tak ingin menjadi pacarnya. "Citra? kalo kamu udah punya dia kenapa kamu menyayangiku?" "Fanya... Please look at me! Citra bukan siapa-siapa aku, aku denganya cuma teman tak ada hubungan spesial' "What? What do you say? Just a friend? Za, kamu inget ga waktu kamu berangkat bareng dia ke hotel Sanita? aku cemburu!" "Maafkan aku Fanya, aku ga ada maksud buat..." "Buat apa? Buat nyakitin perasaan aku? Sudahlah Za ga usah ngomongin dia lagi aku muak mendengarnya." Tenggorokanku mulai terasa sakit, aku berusaha menahan tangisku. Aku tak mau menangis didepannya karna aku tak mau di merasa bersalah kepadaku hanya karena hal sepele, karna Citra. Aku mengajaknya pulang.
Keesokan harina dia menemuiku di kelas dia tak berkata banyak dia hanya meminta maaf padaku. Sebenarnya aku menyesal, kenapa aku harus marah kepadanya, tapi perasaan cemburuku tak dapat ku pendam. Maafkan aku Reza. "Fanya please maafkan aku." Aku memang salah telah cemburu kepadanya. Dan perasaan cemburuku ini hanya membuat keadaan semakin kacau. "Aku sayang kamu, aku mencintaimu tolonglah percaya padaku." "Aku juga mencintaimu Reza" memeluku erat seakan tak ingin kehilanganku. "Kamu tahu ?" tanyanya. Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku "Aku tak ingin kehilanganmu. I love you so much Fanya." Thanks God ternyata mimpiku dimalam hari menjadi nyata. Aku bahagia bisa memilikimu. I love you too Reza.
Melania Hirda
Kelas XI IPS
Dalam Malam*
Setiap malam yang kulalui, indah sekali jika aku selalu dapat melihatmu, kamu tahu? Memandang wajahmu tak pernah membuatku bosan. Dalam indah senyumanmu aku merasakan sebuah kebahagiaan dan dalam tutur katamu, aku merasakan sebuah ketenangan. Dari jauh, ku hanya dapat melihat paras tampanmu, walau tanpa menyentuhmu ataupun memelukmu. Dari jauh, aku hanya bisa mendengar suaramu walau hanya dalam hitungan menit. Dalam harap penantianku, aku hanya ingin dikelak suatu hari nanti, aku bisa dekat dengan kamu, karena dengan adanya kamu, hari-hariku semakin berwarna.
Dengan mengenalmu, aku banyak mengetahui arti cinta. Dengan mengenalmu, aku dapat belajar menghargai sebuah cinta. Cinta yang berdampingan dengan ketulusan kan kutaburi dengan kesetiaan dan pengertian. Cinta yang selalu ada harapan kan ku jaga dengan doa dan penantian, penantian tuk hidup bersama menjalani kehidupan. Tapi... disini, aku selalu berusaha mengerti dengan sejuta harapan yang selalu ada di hati, dengan keyakinan yang kuberi, kala tiba saatnya nanti kita akan dipertemukan tuk saling memiliki, tuk saling melindungi, berbagi dan mencintai. Kini aku hanya menjalani dengan segudang keyakinan yang kumiliki.
Bimbang*
Selalu aku berpikir, kenapa hatiku harus seperti ini? Jujur aku tak pernah merasakan getaran jantung yang tak terbalaskan. Sakit menyiksa batin dengan hanya diam. Menangis merintih hanya beralaskan kesendirian. Tuhan... apa yang harus aku lakukan dengan seperti ini? Hanya engkau yang tahu suara hatiku. Hanya engkau yang tahu jerita batinku. Tuhan... jika aku masih diperkenankan untuk meminta. Tuhan... tolong bisikan kepadanya, bahwa aku disini selalu menanti, menanti jawaban darinya... Walau mungkin aku dengar itu sangat-sangat menyakitkan. Itulah kejujuran. Aku kurang begitu puas dengan hanya pernyataan-pernyataan yang membuatku bertambah bimbang, bimbang yang tak bisa mengartikan apa maksud seperti itu.
Ketika waktu telah berlalu, ku kan hadir melalui ketidak sadaran pikiranku, mencari dan berjuang demi mimpi yang terlarang, hatiku... laguku... matahariku... lucu bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya. Terbakar dalam air mengenang dalam api dan berdaah tanpa darah... kesakitan tanpa rasa sakit. Tuhanku... bintangku... bulanku... aku berlutut dengan hampa memohon untuk bunga yang tak akan mekar bagi cinta yang tak pernah terlagukan dalam nada.
Cappucino*
Cinta dalam hidup bagaikan cappucino yang enak diminum, ketika masih panas dan diminumnya itu pelan-pelan karena kita akan menikmati rasa cinta itu dan kalu diminumnya cepat-cepat akan terasa cepat juga rasa cinta itu hilang dan tak bisa kita nikmatinya dalam berputarnya waktu yang sangat cepat. Jika kita taburkan cappucino itu dengan serbuk yang penuh dengan ketulusan hati, maka rasa cinta itu akan kita nikmati terasa semakin indah, karena rasa cinta kita dinikmati dengan ketulusan hati, kalau kita taburkan serbuk itu tidak dalam ketulusan hati, maka rasa cinta yang akan kita nikmati itu tidak akan terasa bahagia nan indah pada waktunya.
Nikmatilah cinta yang telah kita mililki, karena dengan ketulusan hati, cinta yang abadi akan muncul dari dalam diri kita sendiri dan orang yang kita cinta itu... dan nikmatilah juga rasa cinta orang itu kepada kita, jangan kita sia-siakan seseorang pun yang telah sayang dengan kita, karena orang yang seperti itu setia dan sulit untuk kita cari... Cappucino itu didalamnya ada rasa susu, rasa susu inilah yang membuat cinta kita itu manis seperti susu, susu itu murni dan berwarna putih maka rasa cinta yang seperti susu inilah, rasa cinta yang begitu murni nan suci, karena rasa cinta itu penuh dengan rasa ketulusan hati yang dari dalam nan sulit untuk kita ubah kembali.
Rasa cinta ini sulit untuk kita dapatkan, karena rasa cinta ini keduanya saling menikmati satu sama lain dan rasa cinta itu yang muncul dari tulusnya hati yang tidak ternodai oleh apapun.
Tanaman*
"Kau tahu apa itu sayang?" tanyaku pada seorang teman.
"Tidak, memangnya kau tahu apa itu sayang?" ucapnya seraya balik bertanya.
"Aku membayangkan sayang itu laksana seseorang yang memiliki ikatan emosi yang sama" kataku padanya.
"Maksudnya?" ia mencoba mencari maknanya.
"Tidaklah seorang dikatakan tuan jika tidak ada seorang hamba, begitu pula sebaliknya. Ikatan emosi keduanya bukan karna adanya kesamaan, tetapi lebih pada kebutuhan, yang satu membutuhkan yang lainnya."
"Aku tambah tidak mengerti." ucapnya sambil mengerutkan dahi.
"Yang dikatakan sayang itu adalah adanya kebutuhan dan rasa memiliki yang tertanam di jiwa bagaikan tanaman, dan dengan itu diharapkan mampu memberikan nilai dan manfaat bagi kehidupan." lanjutku menjelaskan.
Temannya yang lain bertanya "Apa bedanya rasa cinta dengan sayang?"
"Cinta hanyalah bayangan, sedangkan sayang adalah sebuah kenyataan." jawabku enteng.
"Keduanya sama, tidak ada yang mengungguli yang lainnya."
"Kenapa demikian? Sementara ada yang berkata "Aku cinta dan sayang padamu" kepada kasihnya ucapnya mengejar tanya"
"Saat kau masih berpacaran, jiwamu dipenuhi cinta. engkau masih mempunyai harapan lain dengan kenyataan yang kau miliki sekarang. Itulah yang membuatmu tetap bertahan untuk meraih kehidupan."
"Oleh karena itu kehidupan manusia selalu di warnai oleh cinta. Dari yang muda sampai yang tua, semuanya hidup dalam cinta. cinta selalu dibicarakan. cinta selalu diagungkan, cinta selalu di puja. cinta menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Sayang, masih banyak orang yang salah memahami makna cinta sehingga ia ditempatkan di tempat yang salah."
Anjani
Kelas XI IPS



