Suatu hari sekumpulan anak kelas sepuluh berbincang-bincang tentang masalah ulangan matematika yang akan dilaksanakan setelah jam istirahat.
"Eh, entar setelah jam istirahat langsung ada ulanagn matematika loh....!"kata Ema.
" Apa.....?, kok ngedadak banget ya.....!!??!" sahut Linda.
"Ya, Pak Edi sengaja mengadakan ulangan mendadak agar kita tidak belajar saat akan ada ulangan saja,agar kita selalu belajar, msekipun tidak ada ulangan atau PR. Jadi jika belajar tiap hari kan selalu siap jika ada ulangan mendadak!"
Mendengar percakapan Ema dan Linda, Reza langsung gemeteran karena dia tidak siap ikut ulangan yang mendadak, dia hanya belajar jika ada ulangan saja walaupun ibunya telah menyuruhnya belajar setiap hari. Reza memutuskan untuk berpura-pura sakit agar diijinkan untuk pulang. Lalu ia menuju ke kantor untuk meminta ijin pulang dengan alasan sakit perut. Akhirnya Reza diijinkan oleh guru untuk pulang.
Di tengah jalan dia tidak memutuskan untuk pulang ke rumah karena dia takut dimarahi ibunya, dia meutuskan untuk ke taman sembari menunggu pulang sekolah. Di taman dia mencari bangku yang kosong dengan dinaungi oleh pohon yang rindang. Tetapi semua bangku penuh, hanya ada satu bangku yang diduduki seorang nenek yang sedang merajut baju hangat yang berukuran kecil.
"Permisi nek, boleh saya duduk di sini", kata Reza
"Oh, silahkan cu.....!" jawab nenek itu.
"nenek sedang apa...?"tanya Reza
"Nenek sedang merajut baju hangat", jawab nenek.
"untuk cucu nenek...?" tanya reza heran.
Lalu nenek menjawab "tidak, cucu nenek sudah besar-besar, baju hangat ini untuk anak-anak panti asuhan yang ada di dataran tinggi. Yah, hanya ini yang nenek bisa lakukan untuk orang lain, saat muda dulu nenek terbiasa berpangku tangan kepada orang lain, nenek mengerjakan sendiri apa yang nenek bisa lakukan. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Nenek sangat membutuhkan orang lain. Membaca koranpun nenek membutuhkan kacamata untuk bisa melihat tulisan yang sangat kecil. Yah mau gimana lagi, hanya ini yang bisa nenek lakukan untuk orang lain." Mendengar penuturan nenek, hati Rezapun tersentuh, selama ini dia hanya menyia-nyiakan waktu hanya untuk kesenangan diri saja, di rumah dia hanya makan, tidur, SMS-an, Facebook-an, Twitter-an, dan main PS tanpa hal yang berguna bagi diri sendiri apalagi bagi oranglain. Dia kagum dengan nenek itu walaupun sudah tua tetapi dia masih ingin memeberikan yang berguna bagi oranglain.
"Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi", begitu tekadnya dalam hati
Lili Shafitri
Kelas XA
Selamat pagi, namaku Cerryolla, panggilanku Cerry aku anak ke dua dari dua bersaudara, aku lulusan dari SMP Cahya, umurku sekarang 15 tahun, motifasiku masuk SMA favorit adalah supaya dapat membanggakan kedua orangtuaku
(tiba-tiba)"Cerry.. Sudah selesai belum latihan wawancaranya? Kita sudah mau terlambat nih", suara mamah dari ruang tamu.
"Iya mah Cerry sudah selesai ko..." jawabku lantang. Akhirnya aku dan mamah pergi untuk wawancara kesebuah sekolah favorit..., ternyata banyak sekali orang yang datang untuk wawancara... satu per satu nama telah dipanggil.
"Tapi kenpa aku belum dipanggil ya..?, tanyaku dalam hati
Cerryola.., hah itu namaku, akhirnya kau dipanggil juga.., aku masuk ke ruang wawancara bersama mamah... 15 menit berlalu begitu cepat, akhirnya.. wawancara itu selesai, aku tinggal menunggu hasilnya apakah aku diterima atau tidak..."(kataku dalam hati).
"Dag..,dig..,dug.. suara jantungku yang makin cepat menunggu hasil dari wawancara. Mamah akhirnya mendatangiku dengan selembar amplop ditangannya.. Aku dan mamah membuka amplop itu perlahan-lahan hingga akhirnya muncul sebuah kalimat "DI TERIMA".. Ahhhhgghh aku langsung memeluk mamah.
"Selamat ya sayang, kamu masuk ke sekolah favorit, sebagai hadiahnya mamah akan membelikanmu tas yang keren", kata mamah.
" Yeyyyyy... hore makasih ya mom...", kataku dengan mata berkaca-kaca.
Oya, disekolahku tidak ada MOS hanya ada pendekatan biasa dengan kakak kelas. Hari pertamaku disekolah aku mendapat banak teman.. Ada Icha, Gina, Dwi, dan Rio... dan tentunya masih banyak lagi.. hehehe. Minggu ke minggu telah berlalu hari-hari kulewati penuh semangat dan canda tawa.., padahal baru tiga bulan aku masuk sekolah, tapi aku sudah terbiasa dengan suasana di sekolah juga aku sudah sangat dekat dengan teman-teman.. terutama dengan Icha, Gina, Dwi, dan Rio, mereka lain dari yang lain loh. Aku ceritakan sedikit tentang mereka ya, yang pertama Icha.. dia orangnya mudah bergaul, pemberani, penampilannya keren, jago ngedance lagi, dia tuh cewek paling maco di kelas.. Gina, dia itu paling cerewet di kelas, dia suka komentarin semua gaya orang.. tapi biar Gina begitu dia punya rasa solidaritas yang tinggi, Dwi... nah cewe yang satu ini anaknya alim dan penuh dengan kelemahlembutan, kalau salah satu dari kita yang emosi.. dia pasti yang selalu nenangin, Rio dia cowok yang paling ganteng di kelasku heheheh, nah kalo aku sendiri orangnya supel, asik, gak sombong, plus suka menolong.
Suatu hari ada seorang anak cowok di kelas kami yang bernama Reno, sudah satu bulan tidak masuk sekolah karena katanya dia sudah tidak ada minat untuk sekolah, kerjaanya di rumah hanya di depan komputer. Orangtuanya dan guru-guru sudah mencoba untuk membujuknya supaya mau sekolah... tapi teta ia tidak mau. Suatu hari di kelas Dwi mengajak kami untuk membantu membujuk Reno.
"Pagi teman-teman semua, aku mau ngomong sesuatu nih.. kita bantu bujuk Reno yuk.. supaya dia mau sekolah lagi.. kalian mau kan" bujukkan Dwi
"Boleh juga, siapa tau dia tergugah hatinya supaya mau sekolah,", kataku sambil mengangguk.
"Iya juga sih sapa tau kita bisa bantu, lagian bayar sekolah sudah mahal-mahal masa mau bolos gitu aja kan kasihan orang tuanya" sambung Rio.
"Wooooowww rio ternyata peduli sama sesama ya" ujar Gina. Ternyata yang lainpun setuju dengan pendapat itu.
Akhirnya sepulang sekolah kami ke rumah Reno, dan ternyata orangtua Reno sangat senang kami mau datang untuk membujuk Reno. Kami mencoba pendekatan dulu dengan Reno lalu pelan-pelan kami membujuknya dan memberikan banyak motivasi dan juga semangat untuknya.
"Ren, sekolah itu sebuah proses, sekolah juga tempat kita bersosialisasi dengan teman di sekolah, kataku
"Betul tuh Ren" lanjut Rio. Ketika kami sedang membujuk Reno mamah Reno masuk ke kanar lalu membujuk Reno sambil menangis.
"Reno... mamah tidak mau apa-apa dari kamu, mamah hanya ingin kamu menjadi anak yang sukses di kemudian hari, mamah ingin sebelum mamah meninggal dunia anak mamah sudah dapat berdiri di kakinya sendiri.. tapi bagaimana mamah bisa tenang kalau kamu saja tidak masuk sekolah" kata mamah. Reno pun tak terhindar dari rasa terharunya itu.
Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali bersekolah dan berjanji pada orangtuanya, dia tidak akan mogok sekolah lagi dan berjanji tidak ingin membuat mamahnya menangis lagi. Kamipun merasa senang ketika Reno memutuskan untuk sekolah kembali.
"Saya benar-benar terharu ngeliat semua ini.." kata Icha dengan mata berkaca-kaca
"Iya aku juga sama, ya tapi ini juga kita jadiin pelajaran juga, kita nggak boleh bikin nangis orang tua." kataku.
"Bener tuh kata Cerry" Rio menyambung. Akhirnya kami pulang dengan perasaan bahagia, dan kami akan menghargai hari ini apapun keadaannya karena hari ini tidak bisa terulang kembali, dan lakukan yang terbaik selagi kami mampu, karena hidup penuh perjuangan. Untuk selalu tetap berdiri dan tetap berjuang untuk sesuatu yang diharapkan, yang terpenting jangan pernah menyerah,.... terus berjuang.
Krisna
Kelas XB



