Pemanasan selalu di lakukan ketika akan memulai pertandingan basket, aku melihat mereka sangat bersemangat ingin menaklukan lawan. Aku berdiri paling depan agar aku dapat melihatnya bermain, dia bernama Deven. Sebenarnya dalam hati aku ingin menyemangati dia. Namun, aku tak mampu melakukannya. Karena aku malu pada teman-temannya. Dulu aku pernah menyukai dia, diapun sudah tahu bahkan teman-temannya juga... Namun entah mengapa saat aku melihatnya malah teman-temannya yang memandangi aku terus.
Kini waktu bermain telah tiba, dia maju bersama kakak-kakak kelasnya untuk bertanding. Awalnya aku kurang yakin dia bermain di awal karena biasanya dia hanyalah pemain cadangan walaupun dia bermain sangat bagus. “Ayo ... berjuanglah” teriakan yang lumayan heboh untuk mendukung jagoannya masing-masing. Aku hanya mampu terdiam saat dia hanya berlari dan selalu mengoper bola pada kakak kelasnya. Aku lumayan kecewa terhadap permainannya. Saat dia sedang berjaga di dekatku, tanpa sadar aku terbawa emosi dan menyatakan, “Ayo Dev, please... jangan sampe kalah” aku tak tau suaraku terdengar olehnya atau tidak yang pasti sekarang dia jadi lebih semangat bermain. Bahkan dia bisa men-shoot bola dan mendapatkan beberapa point, aku merasa senang melihat semua itu. Namun dengan keadaan dia sekarang sebagai SUPER HIRO basket sekolah dia jadi dipuji-puji gitu oleh perempuan-perempuan yang sedang menonton, bahkan ada sekumpulan wanita dari sekolah lain yang menyemangati Deven dengan sorak-sorainya yang membuat telingaku tak tahan mendengarnya. Entah mengapa hatiku terasa sesak dan jantung ini berdetak kencang. “Bagaimana jika perempuan-perempuan itu menyukai Deven, walaupun aku tau Deven pasti tidak akan suka kepada mereka, tetapi hati ini tetap merasa takut untuk kehilangannya. Bagaimana jika perempuan-perempuan itu mencari tau siapa Deven dan mendekatinya?” pertanyaan-pertanyaan yang ku tak tau jawabnya terlintas di benakku. Aku tersadar dari lamunanku ketika aku melihat pendukung dari sekolah lawan sudah berada di pinggir lapangan dan mereka seperti orang yang ingin mengajak bertengkar gitu... aku jadi takut terhadap keselamatan Deven. Pelatih lawan seperti orang yang kebakaran jenggot ketika nilai sementara dimenangkan oleh sekolahku. “aku seperti orang yang sedang menunggu sang kekasih berjuang di lapangan basket dengan hati yang gelisah” pikirku dalam khayal.
Waktu terus berlalu dan inilah detik-detik terakhir permainan, DAN.... dia memasukan bola ke ring lagi. Satu detik kemudia peluit berbunyi tanda pertandingan selesai dan di menangkan oleh sekolah kita. “Yeee...... Kita MENANG” teriakku tanpa ku sadari karena rasa gembira yang menggebu. Dia menatapku dan tersenyum, entah mengapa mulutku selalu ingin melemparkan senyuman.
Hari ini pertandingan untuk menentukan juara pertama, aku berharap agar sekolah kita menjadi juara pertama lagi. Aku ingin sekali melihatnya bermain, namun aku ada keperluan yang tak dapat aku tinggalkan. Saat istirahat pertama dia lewat di sebelahku, “Semangat ya.... aku yakin kita pasti menang” teriakku dalam hati. Pertandingan dimulai pada pukul 13.00 WIB saat aku masih mengikuti pelajaran. Aku jadi tidak bersemangat mengikuti pelajaran karena selalu memikirkan dia. Dadaku terus berdetak dan pikiranku terus memikirkannya. Sebenarnya apa ang aku rasaka kini? Mengapa hati ini merasa tak tenang? Apa rasa suka ini muncul lagi atau aku hanya ingin sekolah kita menang? Tuhan berikan aku jawaban, aku tak tenang dengan semua keadaan ini!
Nama: Suslia Dwi Ati S.E
Kelas : XB
“Ya bolehah sok-sok aja kalau kamu suka dan ngerasa cocok sama dia mah gamasalah.” Jawab Nia
“Ya sudah nanti ku akan menghubungi temen kamu” Ucap Farhan bersemangat
Mirnawati
Kelas XI IPS
Regina Rina
Kela XA
Aku hidup bersama kedua orang tuaku dan aku mempunyai seorang kakak yang sangat baik terhadap diriku. Namun, karena adalah permasalahan di dalam keluargaku akhirnya kakakku pergi entah kemana. Perceraian kedua orang tuaku membuat kehidupanku berlarut dalam kesedihan. Sekarang aku tinggal bersama mamahku yang selalu saja membuatku merasa tidak nyaman di dekatnya walaupun dia orang tuaku dia selalu menganggapku sebagai boneka miliknya sama seperti kakakku yang tidak ingin di nikahkan secara paksa dengan orang lain. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Suslia, dia selalu mendukung diriku dalam kesedihanku. Aku meminta izin pada mamah untuk pergi ke sebuah pedesaan terpencil, di sanalah aku akan menenangkan hatiku sejenak. Aku melihat sebuah keindahan di pedesaan itu ada danau yang sangat indah... ketika aku sampai aku langsung pergi kevilla yang di miliki oleh papah untuk beristirahat sejenak.
Pagi-pagi aku langsung pergi ke danau untuk melihat pemandangan yang indah, aku merasakan ketenangan hati di dalam hidupku. Tiba-tiba di belakangku ada beberapa anak laki-laki yang sedang naik sepedah dan dia mengajakku berkeliling-liling ke pedesaan ini. Laki-laki itu tak asing lagi untukku karena aku tau bahwa dialah teman kecilku. Akupun mengitari pepohonan di pesawahan sungguh senang hatiku, setelah lelah aku berkeliling sepeda aku langsung pulang ke villa. Handphone ku berdering “kring..kring..” aku mengangkat telepon dan ada suara mamah dan berkata.
“Sella, kamu harus pulang dan tidak boleh pergi kemana-mana lagi!”
“Aku tidak mau”
“Pokoknya kamu harus pulang! Kalau tidak Mamah akan menyuruh orang untuk membawamu secara paksa”
Akupun menangis dan terpaksa menjawab “Ia” akupun langsung berkemas dan pulang ke rumah.
Setibanya di rumah mamah memberikan surat undangan bahwa akan ada party besar-besaran.
“Mah, aku gak mau! Aku gak suka sama acara itu, aku lebih suka sendiri” akupun di paksa mamah untuk segera ganti baju dan mamah menandaniku. Akupun langsung pergi ke tempat party itu, aku langsung ingat pada sebuah surat yang d berikan oleh anak laki-laki itu bahwa anak itu akan menyusulku ke Jakarta dan akan bersekolah bersamaku.
keesokan paginya aku bersekolah seperti biasa. Aku duduk di bangku sendirian dan memandang sekitarku, aku mencari anak laki-laki itu. Aku menunggu dia karena dia berjanji akan bersekolah bersamaku. Bel pun berbunyi, semua anak masuk dengan tertib ke ruang kelas. Aku melihat anak itu menepati janjinya. Bel istirahatpun berbunyi, aku segera pergi ke kantin bersama anak laki-laki itu. Kami mengobrol bersama, bercanda ria. Setelah pulang sekolah aku mencari mamah, akupun bertanya. “Mah, apakah aku bisa ke villa kita lagi?”
“Boleh, tapi hanya sebentar saja” jawab mamah.
“Hmmm... tapi aku pengen nginep” jawabku.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, “Ting..tong...” ternyata di depan pintu rumah ada kakak yang sudah pulang. Aku langsung memeluknya, rasa kangenku hilang seketika. Kakak mengajariku banyak hal .tapi mamah malah marah-marah pada kakak karena pergi tanpa pulang lagi ke rumah. Selalu saja pertengkaran membuatku merasa ingin pergi dan tak kembali lagi.akupun langsung berkemas untuk pergi ke villa tanpa member tahu pada mamah. Setelah aku sampai di villa aku bertemu laki-laki itu lagi, akupun langsung pergi ke danau bersamanya. Ia meceritakan bahwa dirinya mempunyai penyakit yang tak dapat di obati, akupun langsung menangis mendengar ceritanya. Tiba-tiba hujan turun, kami mencari tempat berteduh. Kami berdua akan pulang setelah hujan reda. Ketika ku ingin pulang Alvian sesak nafas, akupun langsung mencari obat tetapi dia tidak membawa obatnya, padahal dia tahu bahwa dia sedang sakit. Setelah aku membawanya ke rumah sakit dokterpun berbicara kepadaku bahwa dia mengkonsumsi obat sudah banyak akibat penyakitnya itu. Akupun pulang ke villa sebentar untuk beristirahat.
Pagi-pagi sekali aku langsung pergi ke rumah sakit, dokter langsung memberi tahu bahwa Alvian telah tiada. Akupun langsung menangis, aku mengikuti acara pemakaman Aku bersama keluarganya. Setelah upacara pemakaman selesai aku langsung pergi ke danau, aku melihat bayangan dirinya yang telah hilang. Di danau itulah aku belum sempat membuatnya bahagia sebagai sahabat sejatiku.
Nama: Vera Wati
Kelas : XB



