Belajar Rendah Hati

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS


malam ini terasa membosankan bagi Rudi, ada rasa gelisah yang menggangu di benaknya. Biasannya di malam minggu Ia selalu bermain dengan playstationnya atau barang-barang  elektronik mahal di kamarnya. Sepertinya peristiwa siang itu di sekolahnya masih menjadi beban di pikirannya. Rudi memang anak orang kaya, Ayahnya seorang pengusaha pertambangan yang sukses. Maka tidak heran segala kemauan Rudi selalu di turuti. Berbagai barang-barang mewah menghiasi kamarnya dari tas,sepatu, hingga perangkat alat elektronik mahal. Malam masih begitu panjang Rudi kembali mengingat peristiwa tadi siang. siang itu Ia dan teman-temannya asyik mengobrol di taman sekolahnya. “Rud, Gw denger loe baru beli samsung android I9300”tanya Indra. “yah begitulah sob, nih Gw kasih lihat “. Sejenak Indra mengamati bagaimana Hp menawan milik Rudi di perlihatkan padanya. Yoga yang sedari tadi di sebelah Indra pun ikut Mengamati dengan seksama. “wiih mentereng punya, Berapah harganya sob? tanya yoga. “kenapa sob, loe mau beli, gw saranin ngak usahlah, loe ngak akan mampu, harganya sih Cuma 6JT”. Yoga pun kesal dengar jawaban yang di lontarkan oleh Rudi. memang Rudi adalah anak yang sombong di sekolahnya. Semua temannya selalu jengkel dengar ocehan kesombonganya namun, sikapnya yang royal terhadap teman-temannya membuat dirinya selalu dipuja seperti boss besar di sekolahnya. “Gw laper nih, cari makan yuk” ajak Rudi. Mereka pun melirik beberapa Jajanan yang ada di sekitar tempat mereka mengobrol. Seorang Nenek tua yang dekil perlahan menghampiri mereka dengan mengakat bakul dagangannya. “mau beli nasi lengko dik” Nenek tua itu menawarkan dagangannya pada Rudi dan kawan-kawannya. Rudi dan kawan-kawannya pun menengok, meliat seorang perempuan tua menawarkan daganganya. sejenak rasa lapar Rudi pun hilang meliat nenek tua yang kumal tersebut. “pergi sana, rasa laparku sudah hilang meliat pakaian kau yang kumal dan bau”. “Nak, sopanlah sedikit Aku kan Cuman menawarkan”. “pergi sana Aku tidak suka dekat-dekat dengan seorang gembel, makananmu tak level untuk aku makan”. Nenek tua itu tak menyangka mendengar perkataan anak muda yang berkata tidak sopan padanya.  “Aku sungguh tak habis pikir baru kali ini Aku meliat anak muda yang begitu sombong terhadap nenek tua yang seharusnya kau hormati”. Rudi semakin marah dan kesal mendengar jawaban Nenek tua yang menasehatinya. “aku tahu yang kau inginkan hanya ini ambil” Rudi melempar uang 50 ribuan ke muka Nenek tua itu. Meliat uang 50 ribuan tergeletek di tanah Nenek tua itu mengambilnya dan menyerahkannya pada seorang Pengemis cacat di depan gerbang sekolah. “Belajarlah meliat kekurangan orang lain dan apa yang mereka butuhkan dari pada sekedar memuaskan keinginan kita pribadi” sebelum pergi Ia ucapkan kata-kata itu kepada Rudi dan teman-temannya. Kejadian itu membuat Ia dan teman-temannya diam terpaku dan tak percaya atas apa yang di lihatnya. Sesudah mengingat peristiwa tersebut Rudi tertidur namun, dalam mimpinya kejadian kembali terulang. Pagi pun telah tiba mentari telah menampakan cahayanya, perlahan Rudi bangun dari tidurnya. Dia tak percaya kejadian tersebut sampai terbawa mimpi. Rudi merisauhkan kejadian di mimpinya Ia mandi dan kemudian berkemas pergi kesekolah. Supirnya telah menuggu sedari tadi akhirnya Rudi berangkat kesekolah. Di perjalanan mendadak berhenti mobilnya terhalang oleh kerumunan orang. “Pak coba tolong diperiksa ada apa”. “baik Den” segera supirnya turun untuk memeriksa. “ada kecelakaan Den, Seorang nenek tua tewas kayaknya korban tabrak lari Den”. Rudi pun turun untuk menyaksikanya secarang langsung. Alangkah terkejutnya Dia ketika meliat bahwa Nenek tua itu adalah orang yang kemaren bertemu dengannya. Akhirnya Nenek tua itu dimakamkan semuanya diurus oleh Keluarga Rudi dan keluarganya di beri santunan oleh Rudi. Setelah peristiwa itu, perangai dan sifat Rudi perlahan mulai berubah, kini hatinya tergerak untuk membantu sesama yang membutuhkan bantuanya.

Tamat

 karya : eko .W.T

Perasaan Yang Tak Dapat Ku Mengerti

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS

            Pemanasan selalu di lakukan ketika akan memulai pertandingan basket, aku melihat mereka sangat bersemangat ingin menaklukan lawan. Aku berdiri paling depan agar aku dapat melihatnya bermain,  dia bernama Deven. Sebenarnya dalam hati aku ingin menyemangati dia. Namun, aku tak mampu melakukannya. Karena aku malu pada teman-temannya. Dulu aku pernah menyukai dia, diapun sudah tahu bahkan teman-temannya juga... Namun entah mengapa saat aku melihatnya malah teman-temannya yang memandangi aku terus.
Kini waktu bermain telah tiba, dia maju bersama kakak-kakak kelasnya untuk bertanding. Awalnya aku kurang yakin dia bermain di awal karena biasanya dia hanyalah pemain cadangan walaupun dia bermain sangat bagus. “Ayo ... berjuanglah” teriakan yang lumayan heboh untuk mendukung jagoannya masing-masing. Aku hanya mampu terdiam saat dia hanya berlari dan selalu mengoper bola pada kakak kelasnya. Aku lumayan kecewa terhadap permainannya. Saat dia sedang berjaga di dekatku, tanpa sadar aku terbawa emosi dan menyatakan, “Ayo Dev, please... jangan sampe kalah” aku tak tau suaraku terdengar olehnya atau tidak yang pasti sekarang dia jadi lebih semangat bermain. Bahkan dia bisa men-shoot bola dan mendapatkan beberapa point, aku merasa senang melihat semua itu. Namun dengan keadaan dia sekarang sebagai SUPER HIRO basket sekolah dia jadi dipuji-puji gitu oleh perempuan-perempuan yang sedang menonton, bahkan ada sekumpulan wanita dari sekolah lain yang menyemangati Deven dengan sorak-sorainya yang membuat telingaku tak tahan mendengarnya. Entah mengapa hatiku terasa sesak dan jantung ini berdetak kencang. “Bagaimana jika perempuan-perempuan itu menyukai Deven, walaupun aku tau Deven pasti tidak akan suka kepada mereka, tetapi hati ini tetap merasa takut untuk kehilangannya. Bagaimana jika perempuan-perempuan itu mencari tau siapa Deven dan mendekatinya?” pertanyaan-pertanyaan yang ku tak tau jawabnya terlintas di benakku. Aku tersadar dari lamunanku ketika aku melihat pendukung dari sekolah lawan sudah berada di pinggir lapangan dan mereka seperti orang yang ingin mengajak bertengkar gitu... aku jadi takut terhadap keselamatan Deven. Pelatih lawan seperti orang yang kebakaran jenggot ketika nilai sementara dimenangkan oleh sekolahku. “aku seperti orang yang sedang menunggu sang kekasih berjuang di lapangan basket dengan hati yang gelisah” pikirku dalam khayal.
Waktu terus berlalu dan inilah detik-detik terakhir permainan, DAN.... dia memasukan bola ke ring lagi. Satu detik kemudia peluit berbunyi tanda pertandingan selesai dan di menangkan oleh sekolah kita. “Yeee...... Kita MENANG” teriakku tanpa ku sadari karena rasa gembira yang menggebu. Dia menatapku dan tersenyum, entah mengapa mulutku selalu ingin melemparkan senyuman.
              Hari ini pertandingan untuk menentukan juara pertama, aku berharap agar sekolah kita menjadi juara pertama lagi. Aku ingin sekali melihatnya bermain, namun aku ada keperluan yang tak dapat aku tinggalkan. Saat istirahat pertama dia lewat di sebelahku, “Semangat ya.... aku yakin kita pasti menang” teriakku dalam hati. Pertandingan dimulai pada pukul 13.00 WIB saat aku masih mengikuti pelajaran. Aku jadi tidak bersemangat mengikuti pelajaran karena selalu memikirkan dia. Dadaku terus berdetak dan pikiranku terus memikirkannya. Sebenarnya apa ang aku rasaka kini? Mengapa hati ini merasa tak tenang? Apa rasa suka ini muncul lagi atau aku hanya ingin sekolah kita menang? Tuhan berikan aku jawaban, aku tak tenang dengan semua keadaan ini!
                                                                                                        Nama: Suslia Dwi Ati S.E
                                                                                                        Kelas  : XB

Cerita Cintaku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



Awalnya ku tidak mengenal dia, ku kenal dia dari temanku yang bernama Nia, Nia bisa kenal sama dia karena pacar Nia temannya dia, Nia ketemu dia diwarnet dan mereka ngobrol-ngobrol bareng. Tiba-tiba Farhan bertanya kepada Nia,
                “Punya nomer temen cewe ga?” Tanya Farhan pelan
 “punya, kenapa emang?” Tanya NIa tersenyum.
“Ya gak papa pengen kenal sama temen kamu ajah” katanya tersipu malu
“Iya sudah sok ambil aja sendiri nomer cewe yang kamu suka” Jawab Nia sambil ngasih hp nya kepada Farhan.
“Ni, ini Cika siapa? Dan anak mana?” Tanya Farhan
“oh itu Cika sahabat saya dari waktu SMP. Dia anak Cirebon Utara dekat kok dari rumah kamu” jawab Nia
“Oh masa sih? Boleh kanku kenal lebih dekat sama Cika” Tanya Farhan
                “Ya bolehah sok-sok aja kalau kamu suka dan ngerasa cocok sama dia mah gamasalah.” Jawab Nia
                “Ya sudah nanti ku akan menghubungi temen kamu” Ucap Farhan bersemangat
“Iya” Jawab Nia
Seketika ku lagi ada di tempat yang rame dan lagi kumpul-kumpul sama teman-teman, tiba-tiba hp ku berbunyi menunjukkan bahwa itu ada pesan. Kemudian ku buka pesan itu, ternyata ku tidak mengenal nomer itu karena itu nomer baru, dan aku membalasnya
                “Ini siapa?” Tanya Cika
                “Aku Farhan, ini Cika bukan?” Jawab Farhan
                “Iya bener, ini Cika, maaf ya aku ga kenal sama kamu. Apalagi yang namanya Farhan”jawab Cika jutek
                “oh yasudah kalau begitu kita kenalan dulu, supaya kita saling kenal satu sama lain, ini Farhan” jawab Farhan dengan santai
Aku bingung dengan jawaban dia, seolah-olah dia sudah kenal sama aku, padahal aku gak kenal sama dia. Daripada bingung kayak gini lebih baik aku tanya aja dia dapet nomer aku darimana
                “Eh,kamu dapet nomer aku darimana, kayak sok kenal banget” Tanya Cika jutek
                “Aku dapet nomer kamu dari temen kamu sendiri yang bernama Nia” Jawabnya
Aku kaget mendengar jawaban dari dia ternyata yang ngasih nomer aku sahabat aku sendiri. Kemudian aku tidak membalas pesannya, malah aku sms Nia,sahabatku.
                “Ni, kamu kasih nomer aku ke siapa? Karena aku ada nomer baru, yang katanya dari kamu, toh dia juga kenal ama kamu?” Tanya Cika kesal
Beberapa menit kemudian hp ku berbunyi,ternyata ada pesan dari Nia.
                “oh, iya itu Farhan teman saya, maaf saya ga kasih tau kamu dulu Cik, karena saya lupa, toh juga dia anaknya baik, cakep kalo ama kamu kayaknya cocok deh Cik, dia minta nomer kamu karena dia suka dengan nama kamu Cik” Jawab Nia
Dan aku mengabaikan apa kata Nia, karena sebenernya aku tidak suka kalau nomerku disebarkan pada orang lain tanpa seizin aku dulu. Berberapa jam kemudian aku pulang dari tempat keramaian itu sama teman-teman.
Keesokan harinya, si Farhan menghubungiku, gak pagi, siang, sore, malem dia selalu sms aku tetapi aku tidak membalasnya. Karena aku belum kenal dia secara langsung. Kemudian dia selalu mengajak aku ketemuan, tapi aku gak pernah mau karena aku males kalau keluar rumah. Berberapa hari kemudian aku pulang sekolah naik kendaraan umum. Tiba-tiba hp aku berbunyi ternyata ada pesan dari Farhan
                “Sudah pulang sekolah belum Cik?” Tanya Farhan
                “Sudah kok, ini lagi diperjalanan, kamu sendiri?” jawab Cika tanya balik
                “Lah, sama. Aku juga udah pulang kok, kita pulang bareng ya?” Farhan kembali bertanya
                “hmm tidaklah, kan kita beda sekolah. Gak mungkin kalau kita pulang bareng, toh kamu kan juga udah pulang. Jangan ngawur deh kamu!” jawab Cika bingung
                “Lah atuh Cik, kita kan sekarang lagi pulang bareng. Satu angkot malah, coba saja kamu nengok kebelakang, pasti ada aku dibelakang kamu” Ucap Farhan senyum
Aku kebingungan, kaget dan tidak menyangka bisa pulang bareng sama dia , toh Cika juga belum tahu dia orangnya kayak apa karena aku kenal sama Farhan hanya lewat hp. Belum ketemu langsung
Berberapa minggu kemudian setelah kejadian itu, akhirnya aku sama Farhan ketemuan di warnet, sekalian aku mengerjakan tugas sekolah. Setelah kita sudah ketemu kita disana diem-dieman kayak orang gak kenal. Tapi lama kelamaan Farhan ngajak ngobrol
                “Cik,kok kamu diem aja sih?” Tanya Farhan
Cika hanya bisa tersenyum tanpa bisa menjawab
                “Cik, kok kamu beda sih? Kalo ketemu kamu diem aja, kalo smsan kamu manis banget” Farhan kembali bertanya
                “Hmm iya gapapa atuh, aku malu aja sama kamu” Jawab Cika
Farhan diam saja mendengar jawaban dari Cika. Di hari itu aku sudah kenal sama Farhan tapi Farhan bisa buat aku ketawa. Disetiap saat ketika aku bersamanya.
Satu bulan kemudian, aku ketemu lagi sama Farhan tetapi aku lagi sama Nia, sahabat aku. Kita ketemuan ditempat biasa, yaitu di warnet dekat rumahku. Disitu kita bertiga bercanda bareng karena Farhan anaknya kocak dan bisa bikin orang tertawa. Dua jam kemudian kita bertiga mau pulang tetapi si Farhan menghentikan langkahku karena Farhan ingin bicara sama aku
                “Cik, boleh gak aku ngomong sesuatu sama kamu?” Tanya Farhan
                “Boleh boleh aja emang mau ngomong apa Farhan?” jawab Cika
                “Cik, sebenernya aku suka sama kamu, kamu mau tidak jadi pacar aku?” ucap Farhan serius
Aku bingung tidak tahu mau jawab apa, setelah Farhan menyatakan cintanya dan saat itu perasaan aku tidak karuan. Ternyata berberapa menit kemudian hujan turun disaat menyatakan cintanya kepadaku. Aku hanya bisa terdiam dan melamun, tiba-tiba terdengar suara Farhan yang bikin aku kaget.
                “Cika……!!!” ucap Farhan
                “Oh, maaf aku lagi melamun jadi aku tidak dengar” jawab Cika kaget
                “Kok malah melamun, bukannya jawab pertanyaan aku?” kata Farhan
                “Hmmm… … … (mikir berberapa menit) iya aku mau jadi pacar kamu” jawab Cika
                “beneran,tidak bohong kan?” Tanya Farhan meyakinkan
                “Iya Farhan!!” Jawab Cika tersenyum
Sesudah itu kita resmi jadian, hari itu tidak akan pernah aku lupakan karena Farhan menyatakan  cinta sambil diiringi turunan dan meskipun hujan kita nekat pulang bareng karena sudah sore. Sepanjang jalan perjalanan cintaku, aku nyaman berada di samping dia, dia selalu bikin aku tersentum di setiap saat dan selalu membuatku bahagia dia mampu menghiburku di saat aku sedang bersedih, dia yang terbaik untukku. You’re my everything

                                                                   Mirnawati
                                                                   Kelas XI IPS

Pertobatan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS




                Ketika hari mulai malam ku segera mempersiapkan diri untukmelakukan kebiasaan untuk mencari sesuatu yang dapat menghasilkan uang  untuk kehidupan aku dan keluarga ku. Dengan berbekalkan niat dan keberanian ku, ku menyusuri hamparan lautan dengan ditemani cahaya bulan. Angin kencang berhembus menerpa tubuhku, sedikit demi sedikit kulangkahkan kaki dengan tangan mencari-cari di dalam pasir laut. Sudah ku dapat sedikit harapan untuk hidupku dan keluargaku. Setalah dua jam menyusuri tepi pantai ku putuskan untuk pulang.

                “ ibu, ini yang kudapat hari ini.” Ujarku
                “ berapa banyak nak yang kau dapat hari ini ? “
                “ sedikit bu, air dilaut sekarang sedang pasang. “
                “ oh, ya tidak apalah nak, sudah sekarang kamu mandi dan belajar, karena esok hari kamu harus                   sekolah. “
               
walaupun aku sudah lelah namun aku masih punya semangat untuk belajar. Semua pekerjaan sekolh telah selesai ku kerjakan. Waktu sudah larut malam akupun tidur hanya beralaskan kayu tanpa sehelai selimutpun yang menyelimuti tubuhku. Keesokan hari sebelum saya berangkat sekolah aku harus menjual hasil tangkapan tadi malam. Aku berjalan membawa hasil tanggapan itu dan perjalanan pun cukup jauh aku lalui.

                “ pak, saya akan menjual hasil tanggapan saya. “
                “ oh ya silahkan nak !,  ini Cuma ada tiga kilo. Ini uangnya Sembilan ribu rupiah “
                “ terima kasih pak, permisi “

Aku pulang membawa uang untuk ibu. Aku pulang dengan sangat tergesa-gesa karena aku akan pergi kesekolah. Saat tiba di rumah terdengar suara pertengkaran ibu dengan kaka Samsul.

                “ ibu, saya akan pergi, saya minta uang ! “dan ibuku menjawab
                “ nak uang dari mana, ibu tidak punya uang.”
                “ hah ? dasar orang tua miskin, sudahlah saya pergi “ ucap kakak

Kakak ku pergi dengan wajah yang merah padam dengan segumpal kekesalan. Setelah kakak pergi akupun masuk.

                “ ada apa bu ?, aku dengar kakak marah-marah lagi “
                “ betul nak, kakak mu minta uang lagi sedangkan ibu tidak punya uang “
                “ memang yak, kakak tu bukannya bantuin keluarga untuk mencari uang supaya keluarga dapat                        hidup, kerjaannya minta uang lagi. “
                “ ohh, aku lupa bu, ini hasil dari penjualan, semoga dapat ibu gunakan untuk makan sehari-hari “ `            sambung ucapan ku tadi
                “ terimakasih ya nak “

                Aku bergegas mandi, dan mempersiapkan diri untuk berangkat kesekolah. Aku ingin meminta seragam baru pada ibuku, namun saya tidak tega melihat ibuku. Aku berangkat sekolah dengan memakai pakaian seragam yang lusuh dan kotor.

                “ ibu, saya berangkat sekolah dulu ya.”
                “ hati-hati dijalan ya nak “, sambil mencium tangan ibu.

Saat tiba disekolah akupun bertemu dengan teman-temanku. Disaat aku lewat didepan teman-temanku, mereka sedang membisikan sesuatu tentang aku, dan ternyata dugaan aku benar. Ada anak yang memang dari dulu membenci aku. Dan berkata “ woy teman-teman, kasih jalan buat putra raja, yang kucel dan dekil “. Aku menahan semua amarah dan kesalku pada anak itu, aku hanya bisa diam. Tengg,.. teng,. Tengg,. Bel pelajaran dimulai. Aku mendengarkan dan memperhatikan semua yang dijelaskan guru. Tengg,. Tengg,. Teng, bel pulang berbunyi.

                Aku pulang berjalan kaki. Saat aku berjalan aku melihat kumpulan pemuda yang sedang meminum minuman keras dan ada seorang ibu yang lewat dengan membawa bahan untuk membuat dagangan. Aku, termenung dan berhenti sejenak, aku berpikir karena saya melihat sosok yang mirip dengan kakak ku. Saat ibu yang berjalan itu lewat ternyata sekelompok pemuda itu menghalang jalan dan mememinta pakasa uang kepada ibu itu.

                “ ibu, serahkan uang ibu ! “
                “ ampunn,. Bang ampuun,…. Saya gak punya uang bang “
                “ udah bu jangan terlalu banyak alasan, cepat berikan uang ibu, atau saya lempar barang               dagangan ibu ? “, ucap pemuda itu
                “ betul bang, saya gak punya uang “

Pemuda itupun melempar bahan dagangan dan mengambil dompet yang dipegang itu, dan kemudian mereka menggambil uangnya. “ brow, kita bisa pesta-pesta lagi nih, kita bisa beli tambah banyak lagi untuk party hari ini “, “ iya bro “ sahut teman-temannya yang lain. Akupun mendekat dan menolong ibu yang bahan dagangannya dilempar dan uangnya diambil. Ibu itu hanya bisa terdiam dan menangis. “ sebentar ya bu “ ucapku kepada ibu itu.

                “ kakak kembalikan uangnya ! “
                “ heh, anak kecil tau apa kamu tentang ini ! “
                “ cepat balikkin kaak, kasihan ibu itu, uang itu hasil dari ia berjualan “

                Karena kakak tidak mau mengembalika, maka aku dengan cepat mengambil uang yang dipegang              kakak ku. Dan menggembalikan uang tersebut

                “ kakak, kapan sih kakak mau sadar dan bertobat, aku sudah susah payah tiap malam pergi ke    laut untuk mencari tangkapan. Tapi kelakuan kakak selalu seperti ini. Sdarlaah kaak,. Sadar ,…. “

Setelah aku berkata seperti itu, salah satu teman kakak ku pingsan, dan jatuh ke tanah. Beberapa saat itu mulutnya keluar busa. Aku dan kakak ku segera bergegas membawanya ke puskesmas terdekat. “ Dokter,…. Tolong teman saya ini ! “. Ketika dokter memegang nadi kaki, ternyata kak jamil sudah meninggal. “ tadi makan, atau minum apa saja ? “ tanya dokter, kakak ku hanya bisa terdiam tanpa menjawab apapun.

                Berapa bulan setelah kepergian kak jamil, kehidupan kakak ku kini berubah karena kakak ku masih ingin hidup dan pergi meninggalkan kebiasaan hidupnya. Ketika waktu mulai malam kak samsul dan aku pun pergi bersama untuk mencari tangkapan dan menjualnya.       

                                                                                       Regina Rina
                                                                                       Kela XA

 

Bayangan Hidupmu Yang Hilang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



     Aku hidup bersama kedua orang tuaku dan aku mempunyai seorang kakak yang sangat baik terhadap diriku. Namun, karena adalah permasalahan di dalam keluargaku akhirnya kakakku pergi entah kemana. Perceraian kedua orang tuaku membuat kehidupanku berlarut dalam kesedihan. Sekarang aku tinggal bersama mamahku yang selalu saja membuatku merasa tidak nyaman di dekatnya walaupun dia orang tuaku dia selalu menganggapku sebagai boneka miliknya sama seperti kakakku yang tidak ingin di nikahkan secara paksa dengan orang lain. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Suslia, dia selalu mendukung diriku dalam kesedihanku. Aku meminta izin pada mamah untuk pergi ke sebuah pedesaan terpencil, di sanalah aku akan menenangkan hatiku sejenak. Aku melihat sebuah keindahan di pedesaan itu ada danau yang sangat indah... ketika aku sampai aku langsung pergi kevilla yang di miliki oleh papah untuk beristirahat sejenak.
Pagi-pagi aku langsung pergi ke danau untuk melihat pemandangan yang indah, aku merasakan ketenangan hati di dalam hidupku. Tiba-tiba di belakangku ada beberapa anak laki-laki yang sedang naik sepedah dan dia mengajakku berkeliling-liling ke pedesaan ini. Laki-laki itu tak asing lagi untukku karena aku tau bahwa dialah teman kecilku. Akupun mengitari pepohonan di pesawahan sungguh senang hatiku, setelah lelah aku berkeliling sepeda aku langsung pulang ke villa. Handphone ku berdering “kring..kring..” aku mengangkat telepon dan ada suara mamah dan berkata.
“Sella, kamu harus pulang dan tidak boleh pergi kemana-mana lagi!”
“Aku tidak mau”
“Pokoknya kamu harus pulang! Kalau tidak Mamah akan menyuruh orang untuk membawamu secara paksa”
Akupun menangis dan terpaksa menjawab “Ia” akupun langsung berkemas dan pulang ke rumah.
Setibanya di rumah mamah memberikan surat undangan bahwa akan ada party besar-besaran.
“Mah, aku gak mau! Aku gak suka sama acara itu, aku lebih suka sendiri” akupun di paksa mamah untuk segera ganti baju dan mamah menandaniku. Akupun langsung pergi ke tempat party itu, aku langsung ingat pada sebuah surat yang d berikan oleh anak laki-laki itu bahwa anak itu akan menyusulku ke Jakarta dan akan bersekolah bersamaku.
keesokan paginya aku bersekolah seperti biasa. Aku duduk di bangku sendirian dan memandang sekitarku, aku mencari anak laki-laki itu. Aku menunggu dia karena dia berjanji akan bersekolah bersamaku. Bel pun berbunyi, semua anak masuk dengan tertib ke ruang kelas. Aku melihat anak itu menepati janjinya. Bel istirahatpun berbunyi, aku segera pergi ke kantin  bersama anak laki-laki itu. Kami mengobrol bersama, bercanda ria. Setelah pulang sekolah aku mencari mamah, akupun bertanya. “Mah, apakah aku bisa ke villa kita lagi?”
“Boleh, tapi hanya sebentar saja” jawab mamah.
“Hmmm... tapi aku pengen nginep” jawabku.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, “Ting..tong...”  ternyata di depan pintu rumah ada kakak yang sudah pulang. Aku langsung memeluknya, rasa kangenku hilang seketika. Kakak mengajariku banyak hal .tapi mamah malah marah-marah pada kakak karena pergi tanpa pulang lagi ke rumah. Selalu saja pertengkaran membuatku merasa ingin pergi dan tak kembali lagi.akupun langsung berkemas untuk pergi ke villa tanpa member tahu pada mamah. Setelah aku sampai di villa aku bertemu laki-laki itu lagi, akupun langsung pergi ke danau bersamanya. Ia meceritakan bahwa dirinya mempunyai penyakit yang tak dapat di obati, akupun langsung menangis mendengar ceritanya. Tiba-tiba hujan turun, kami mencari tempat berteduh. Kami berdua akan pulang setelah hujan reda. Ketika ku ingin pulang Alvian sesak nafas, akupun langsung mencari obat tetapi dia tidak membawa obatnya, padahal dia tahu bahwa dia sedang sakit. Setelah aku membawanya ke rumah sakit dokterpun berbicara kepadaku bahwa dia mengkonsumsi obat sudah banyak akibat penyakitnya itu. Akupun pulang ke villa sebentar untuk beristirahat.
Pagi-pagi sekali aku langsung pergi ke rumah sakit, dokter langsung memberi tahu bahwa Alvian telah tiada. Akupun langsung menangis, aku mengikuti acara pemakaman Aku bersama keluarganya. Setelah upacara pemakaman selesai aku langsung pergi ke danau, aku melihat bayangan dirinya yang telah hilang. Di danau itulah aku belum sempat membuatnya bahagia sebagai sahabat sejatiku.

    Nama: Vera Wati
    Kelas : XB