Penyesalan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



  Vanesa yang masih duduk di bangku SMA terlihat sedang asyik mengobrol dengan teman-teman rumahnya. Diam-diam Vanesa memandangi Reza yang duduk didepan rumahnya. Reza adalah sosok yang baik padahal Vanesa tahu Reza selalu membawa wanita yang berbeda kerumahnya. Tetapi Vanesa yakin suatu saat nanti pasti menjadi milik Vanesa seutuhnya. Vanesa selalu member perhatian kepada Reza dengan cara ia menatap,menyapa dan lain-lain akan tetapi Reza tak pernah mengerti kalau Vanesa menyukainya. Beberapa hari berlalu Vanesa tak menyangka kalau Reza pindah rumah. Vanesa terlihat kesal dan sedih. Vanesa yang tahu bahwa Hendra teman sekolahnya mencintainya akhirnya ia mencoba melampiaskan kekesalannya dengan menerima cinta Hendra walaupun tidak dalam kesungguhan hati. Berbulan-bulan mereka berpacaran Hendra sangat perhatian dengan Vanesa serta mencintai Vanesa setulus hati dan Vanesa mulai melupakan Reza sehingga akhirnya kelulusanpun tiba, mereka merasa sangat bahagia karena bias lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Hendra adalah murid yang berprestasi sampai-sampai Hendra mendapatkan beasiswa perguruan tinggi di bandung tetapi ia tak diterima hingga akhirnya ia mendaftar di perguruan tinggi di Jakarta dan ia pun diterima. Hendra sangat sedih karena harus berpisah dengan Vanesa tetapi itulah kenyataan yang harus diterima.
 Beberapa bulan mereka berpisah tetapi saling komunikasi melalui handphone, Vanesa yang tinggal di Jakarta mencoba melepaskan rasa jenuh dengan berjalan-jalan ke taman. Disitu Vanesa sangat kaget setelah melihat seseorang yang ternyata Reza tetangga lamanya Vanesa berpura-pura tak melihat Reza, tetapi Reza mendekati Vanesa.
“Hey,kamu Vanesaa kan? Masih ingat ngga sama Aku” ujar Reza. Dengan jantung yang berdetak kencang Vanesa menjawab “oh ya, aku ingat kamu Reza kan? Sudah lama kita tak bertemu”.
Hingga akhirnya mereka berbincang-bincang dan saling akrab. Mereka sering jalan berdua. Vanesa senang bisa akrab dengan Reza. Tetapi Vanesa tak memikirkan perasaan Hendra yang masih berstatus sebagai pacarnya. Hingga beberapa bulan lamanya Reza yang selama in dekat dengan Vanesa dan ia mencoba mengatakan cintanya kepada Vanesa. Karena Reza mengetahui bahwa Vanesa mencintainya. Karena sikap Vanesa berubah terhadap Hendra ,tetapi Hendra mencoba dating ke Jakarta tanpa sepengetahuan Vanesa, ia langsung menuju tempat dimana Vanesa tinggal, Hendra tak menyangka saat ia sampai di depan pintu Hendra melihat Vanesa berpegangan tangan dengan laki-laki lain yang ternyata Vanesa baru menerima cinta laki-laki itu,hati Hendra sangat sakit , ia mencoba mendekati Vanesa dan mengatakan “Nes, jadi selama ini kamu berubah, karena kebohongan in”. Vanesa kaget ternyata Hendra dating tanpa memberitahu dirinya dahulu “ maafkan Aku Hen Aku sudah tak mencintaimu lagi”ajar
Vanesa… dengan hati yang hancur Hendra berkata “ kalau memang seperti itu, kamu pilih Aku atau Dia” dan Vanesa langsung menjawab” ya jelas Aku pilih Dia”. Reza yang tersenyum puas melihat kehancuran Hendra langsung mengusir Hendra dengan tidak sopan. Hendra pergi dengan putus asa dengan hati yang terluka.
   Setelah lama berpacaran Reza dan Vanesa mulai mengalakeretakan, karena sikap Reza yang kasar dan selalu ketahuan jalan dengan wanita lain. Setiap hari Vanesa meneteskan air mata dan akhirnya memutuskan berpisah dengan Reza  dengan rasa sedih yang mendalam ia teringat Hendra yang dulu telah melukisakan hari-harinya dengan kasih sayang. Dan Vanesa mencoba untuk menemui Hendra di Jakarta untuk meminta maaf. Di Jakarta Vanesa langsung menuju ke kost an Hendra tetapi Hendra  tidak ada dan ia langsung melanjutkan perjalanannya kerumah Hendra di Cirebon ,sesampainya di Cirebon , ia bertemu dengan Vicky sahabat Hendra, “Hay Nes kamu ada disini bukannya di Jakarta “ ajar Vicky. “iya, Aku ingin bertemu dengan Hendra, apakah kamu tahu Hendra ada dimana” jawab Vanesa. “loh, kamu gak tahu kini Hendra telah bertunangan dan ia pun tidak melanjutkan kuliahnya dan meneruskan usaha papahnya di Kalimantan , serta menerima pertunangan dari kedua orang tuanya semua itu karena dia merasa putus asa setelah putus denganmu “ jawab Vicky. Saat mendengar semua itu hati Vanesa sangat hancur ada perasaan salah dan menyesal. Vanesa meneteskan air mata”Vicky, Aku ini benar-benar menyesal, karena perbuatanku sendiri aku jadi begini”ujar Vanesa. Vicky hanya bisa memberi nasihat dan motivasi kepada Vanesa agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini.
  Setelah beberapa lama berada dalam kesedihan yang berlarut-larut akhirnya Vanesa bangkit dan memulai lembaran baru serta gak akan mengulangi kesalahn yang sama.
Selesai
Ririn Febrianti
XII IPS A

Secerca Liku Hidup Keluargaku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS




Hari ini aku sangat lelah sekali karena di samping tugas dari sekolah yang menumpuk,juga kegiatan lain yang menguras tenaga dan pikiran. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur untuk melepas lelah tetapi pikiranku selalu tidak tenang, karena Aku mempunyai pergumulan yang sampai sekarang belum juga menemukan penyelesaian.
    Aku sengaja menulis kisah perjalanan hidup keluargaku agar sedikit mengurangi beban pikiranku. Ini merupakan kisah nyata dalam rumah tangga orang tuaku. Dulu Aku dilahirkan disebuah desa kecil di jawa tengah. Sewaktu kecil hidupku boleh dibilang bahagia karena kedua orang tuaku sangat menyayangiku , juga Kakek dan Nenekku. Akan tetapi kebahagiaan itu mulai pudar. Waktu itu umurku 9 tahun baru kelas 3 SD, mamahku pergi ke malaysia. Papahku mengurus Aku dengan adikku yang masih berumur 3 tahun, mamahku tidak berpikir bahwa kami masih butuh kasih sayangh dari seorang ibu. Tidak diduga usaha papahku bangkrut sehingga Aku, adikku dan Kakek, Nenek pindah ke Sumatra. Aku tinggal bersama Kakek dan Nenek di sana, karena papahku merantau di Jakarta. Tetapi semenjak mamahku pulang dari malaysia mamahku tidak mau bersama-sama lagi dengan papahku. Entah karena apa mamahku membenci papahku. Dan dari situlah keluarga kami tidak harmonis, dan Aku sangat tertekan, terkadang aku iri dengan teman-temanku mereka bias berkumpul bersama. Sedangkan Aku tidak bias seperti mereka mungkin itu hanya mimpi bagiku untuk bersama-sama lagi seperti dulu. Untung saja Aku tinggal bersama Kakek dan Nenekku yang sangat perhatian dan menyayangiku dan adikku. Walau kasih sayang mereka berbeda dengan kasih sayang dari orang tuaku sendiri.
Meskipun demikian Aku selalu berdoa agar Aku selalu di beri ketabahan dalam menjalani hidup ini tanpa ada kedua orang tuaku disampingku. Tetapi Aku tetap bersyukur karena prestasiku dari SD sampai SMP selali mendapatkan peringkat 1, sehingga Aku selalu mendapat beasiswa. Dengan prestasiku yang meningkat Aku akan membuktikan bahwa tanpa ada orang tua Aku biasa menjadi anak yang berprestasi. Meskipun Aku selalu hidup serba kekurangan dalam hal materi tetapi Aku bersyukur kepada Tuhan selalu mencukupi apa yang aku butuhkan.
 Sampai sekarang Aku kelas 2 SMA di Cirebon dengan maksud ingin mempersatukan kedua orang tuaku. Aku berharap dengan tinggal di Cirebon bersama mamah, mamah akan berubah pikiran dan ingin bersama-sama lagi dengan papah.
       Sebenarnya masih banyak yang Aku ceritakan yang belum kutulis, tetapi Aku sudah tidak bisa meneruskan lagi karena Aku larut dalam kesedihan.
 Itulah sekilas cerita tentang keluragaku. Tetapi yang menjadikan Aku tabah dalam menjalani hidup ini karena Aku selalu berserah pada Tuhan dan semoga Aku bisa merasakan kebahagiaan seperti waktu Aku kecil.


-Maria Herdy-
XA

Mata Kuaci

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



      

 “eh, knapa lu? Dari tadi diem aja?” Jery menepak pundakku.
 “males gua Jer, pasti bakalan ngeebosenin nih hari ini!” Cetusku
“lah, tau dari mana lu? Udah kaya anak Dedy Corbuzer aja lu!” Ha.. Ha.. Ha..                                                        PLAKKK!!! Jitakanku melesat sempurna di jidatnya
Kelas hari itu terasa sangat sepi, hanya suara guru yang menjelaskan suara materinya. Bola mataku ku gerakan ke arah sekitar lalu aku mengambil buku yang sampulnya itu lecek dan kusam. Mungkin karena sering dibawa kali ya? Jadi, sampe lecek kaya gitu ya. Bukan membacanya tapi aku hanya membuka perlahan halaman demi halamanya

“Rangga, anterin gua ke kantin yuk, laper nih!” Ajak Jery.
“pas jer, gua juga lagi laper jer”
Kami berjalan sambil berbincang salah satu PR yang memang membuat otak kami muter-muter BRAKKK!!! Tubuhku terhentak ke tanah, karena aku tertabrak oleh seorang cewe yang akku juga tidak mengenalnya.
“maaf.”
“iya gapapa. Sini gua bantu” Aku mengambil beberapa buku yang berserakan di lantai.
“nih, buku lu” Aku sambil memberikan buku padanya.
“ma.. makasih... oh ya gua Netha.”
“sama-sama, gua Rangga”
“oh, oke. Makasih ya Rangga, sori gua duluan, gua ditunggu temen-temen dikelas, bye”
“ tangannya melambai-lambai kepadaku.”
Netha. Jadi itu, nama cewe manis yang tadi menabrakku. Senyumannya yang paling gampang buat di inget. Ehm, satu lagi.. matanya.. matanya mirip ama kuaci. Iya, soalnya mata dia kecil banget mirip ama kuaci.


“cie, yang tadi tabrakan sama Netha” ejek Jery.
“Lah, lu kenal sama netha Jer?” Tanyaku.
“eh, ujung saklar itu sepupu gua kali”
“kenapa lu ga bilang punya sepupu semanis dia Jer? Ah, sialan lu.”
“lah, kenapa gua harus cerita?”


Semenjak kejadian itu, Aku dan Netha kini semakin akrab, kami sering pergi bermain bersama atau hanya sekedar jalan jalan. Tekadang aku juga sering memikirkannya, betapa manisnya dia saat tersenyum, dan betapa gemesnya saat dia menatapku,rasanya aku ingin sekali mencubit pipi gembulnya itu.
“eh, kenapa kamu ngeliatin saya sampe kaya gitu?” Tanya Netha.
“abis muka kamu manis sih”
“ah, gombal” Netha mencubit pinggangku.
“aww, jih memang muka kamu tuh manis loh Netha!” Jelasku.
“masa sih? Udah ah jangan bikin aku malu Rangga”
“sumpah ya Netha kamu tuh manis” Sahutku.
“ iya.. iya deh” Jawabnya dengan pipi kemerah-merahan.

Sebenarnya, aku sangat menyukai Netha, enta itu kelakuannya, pengertiannya, atau paras wajahnya. Hari ini aku dan Netha ingin pergi untuk jalan-jalan. Aku pergi menjemput Netha di rumahnya. Dia langsung menghampiriku dengan senyuman manisnya dan langsung mengajakku pergi ke suatu tempat.
“Net, ada apa sih? buru-buru banget”
“ga ada apa-apa kok Rangga”
“yakin ga ada apa-apa Net?”
“iya ga ada apa-apa kok udah nyetir aja!”
Sesampainya ditempat itu aku melihat ke sekitar, memang indahnya tempat ini. Dan mataku terhenti pada Netha yang begitu asik menghirup udara segar di sini.
“Net, indah banget ya pemandangannya” Sapaku, memulai pembicaraaan.
“iya Ngga, sisni di sebelah saya” Ajak Netha
“ehm, Net aku pengen ngomong sesuatu”
“ngomong apa?”
“aku tuh sebernya…”
Belum selesai bicara Netha sudah memotong pembicaraanku.
“aku tau kok kamu mau ngomong apa?”
“apa coba?”
“apalagi yang pengin cowo katain ke cewe di tempat seromantis ini? aku udah nyiapin jawabnya kok Ngga”
“apa jawabanya Net?” Tanyaku serius.
“ehm, I LOVE U” Bisik Netha di telingaku.
“ jadi kita pacaran Net?”
“iya Rangga sayang” Netha memegang tanganku.
Apa? Sayang? Ya, akhirnya impianku terwujud juga. Impianku untuk mempunyai pacar, impianku untuk memiliki Netha. Sungguh, aku tidak akan membuatmu kesal ‘MATA KUACI’

-END-

                                                     Wiliiam Andre
                                                     Kelas XB

Antara Cinta dan Raket

  • Digg
  • Del.icio.us
  • Reddit
  • RSS



                     
    Cerita cinta ini memang cukup singkat tapi penuh warna.Awal bulan Oktober sekolah Harapan Bangsa mengadakan lomba pecan olahraga,semua sekolah yang ada di Jakarta Selatan mengikuti lomba dan sekolah gue pun ikut berpartisipasi.
     “Dessy…!”panggil pak Dony dengan mengambilkan tangannya.
     “iya pak..”jawab gue sambil mendekat,saat itu gue lagi jam pelajaran olahraga di lapangan basket.
     “Dessy bisa kamu minta ijin dulu ke pak Erwin?
      Saya ada perlu dengan kamu sebentar saja.”jelasnya di dalam hati gue udah ga karuhan ada apa tumben sekali kepela sekolah kalem itu manggil gue dan ada perlu sama gue kapan gue berbuat salah?”iya pak baik…”jawab Dessy dengan gugup.Gue pun berlari menghampiri pak Erwin untuk meminta ijin dan pak Erwin pun mengijinkan lalu Dessy pun beranjak dan pergi ke ruang kepela sekolah.
      “mukamu kenapa Des?kok seperti ketakutan seperti itu?”tanya pak Dony.
      “oh ga apa-apa pak,saya Cuma kaget,bapak tiba-tiba manggil saya”jelas Dessy gemeteran
      “haha..”ketawa pak Dony.
Wajahku semakin bingung saja kelihatannya dan perasaannya hatiku making ga karuhan mendengar ketawa pak Dony seolah jawaban yang mengambang di pikiranku.
       “loh,kok bapak malah ketawa?”ucap Dessy.
       “kamu itu loh!(haha-kembali melanjutkan ketawanya saya panggil kamu itu ingin menyuruh kamu untuk menggantikan Ollive dalam pertandingan bulutangkis yang di adakan oleh sekolah harapan bangsa .”jelasnya.
         “loh…(dengan muka kebingungan)kenapa harus saya pak?emang Ollive kenapa pak?”tanya Dessy.
         “Ollive sakit dia terkena DBD lagian juga tandingnya minggu depan kasihan dia belum fit kondisinya,kamu bisa kan?’jelas dan tanya pak Dony
         “tapi pak…?saya gabisa main bulukangkis?lagian bidang olahraga yang saya geluti kan basket.kenapa harus saya pak?kenap bapak tidak menyuruh murid lain yang bisa main bulukangkis ?”celoteh Dessy”dari 2 hari yang lalu saya sudah cari dan panggil murid-murid dan menawarkan untuk pertandingan tungal putri bulutangkis mereka semua tidak mau dengan berbagai alasan,harapan saya tingal satu yaitu kamu tidak mungkin saya paksa Ollive untuk bermain ketika ia sedang sakit dan mana mungkin juga sekolah kita tidak mengirimkan apa lagi dari dua tahun yang lalu kita berturut-turut menang “jelas Pak Dony.
     “iya pak,tapi…saya gak bisa main bulukangkis kalo ikut pertandingan pun percuma pasti kalah”kata Dessy.
     “saya akan kasih kamu pelatih untuk melatih kamu untuk bermain bulutangkis,oke?kamu siap?besok kalo jadi mulai latihan ya Dess…”jelas pak Dony .
     “apa?tapi pak?”ucap Dessy.Tetapi pak Dony langsung pergi meninggalkan ruang kepala sekolah itu.Di situ Dessy berpikir keras dalam hatinya kira-kira siapa yang akan melatihnya?
     (keesokan harinya di lapangan bulutangkis)
      ‘What?!(muka kaget) Steve?!hah!?”kaget Dessy dari kejauhannya pun Steve terkaget-kaget ternyata yang dilatihnya adalah Dessy cewek cerewet itu. Mereka pun saling berhadapan dan saling memandang satu sama lain.
     “cepet pake sepatunya niat laihan gak sih?!”sentak Steve. Dessy hanya buang muka dan langsung memakai sepatunya. Mulailah mereka bermain bulutangkis Steve mengajarkan teknik dasar untuk  servis, untuk mensmash dan lain-lain.
      “Lu istirahat dulu ya,muka lu pucat begitu”kata Steve menagjak dessy untuk beristirahat terlebih dahulu. Dengan muka cuek Dessy menjawab”jangan sok tau deh ,gue baik-baik saja kok, loh cukup ngelatih gue aja bukan buat omelin dan ngatur-ngatur di luar melatih bulutangkis?
    “oh ya udah!! Terserah lu!! Lu pingsan gue gak tanggung!!”kata Steve sembari menagmbil raketnya lagi untuk melanjutkan permainan. Beberapa menit kemudian permaianan pun berakhir wajah Dessy terlihat sangat kecapean, keringatnya mengucur dari seluruh tubuhnya.
    “Sial!air minum gue habis lagi”, kata Dessy sembari matanya melihat sekeliling lapangan dan tidak menemukan orang yang menjual minuman.Tiba-tiba Steve memberinya botol air mineral yang masih baru.
    “Nih! Minum! Udah gak usah gengsi lagi daripada lu mati kehausan di sini, gue juga yang repot, tenang aja ini air masih baru belum gue minum. Nih ambil! (sembari menyodori botol air mineralnya)” lalu Steve menaruh botolnya dihadapan dessy dan pergi meninggalkan Dessy sendiri dil apangan itu.

     Beberapa hari pun dilalui oleh Steve dan Dessy di lapangan bulutangkis Dessy mulai merasa Steve lebih perhatian dari hari-hari sebelumnya entah mengapa rasa cuek,jengkel Dessy terhadap Steve mulai memudar.
      “Dess….muka lu kok pucet lagi?lu pasti belum makan, tapi lu paksa makan,yak an?”tanya Steve.
      “iya,gue lupa belum makan, tapi gak papa kok , udah ayo lanjut” jelas Dessy
Tiba-tiba kepala Dessy terasa sangat pusing dan seketika Dessy jatuh pingsan, Steve sangat cemas dan langsung mebawanya ke tampat teduh pinggir lapangan.
       “Dess….Dess….bangun!!”panggil Steve sembari menepuk-nepuk pipi Dessy.
Beberapa menit kemudian Dessy pun terbangun.
       “Gue kenapa….?kepala gue pusing banget! Aduh…..perut gue laper banget!”keluh Dessy
       “ya udah sekarang minum dulu,kalo udah kuat berjalan kita cari makan”ajak Steve sambil mengelus kepala Dessy.
Dessy hanya terdiam terpaku melihat sikap Steve kepadanya,Dessy mulai merasakan sesuatu yang berbeda sekarang,tapi dia belum menemukan jawabannya. Merekapun pergi untuk mencari makan.

      Saatnya pun tiba,pertandingan bulutangkispun dimulai. Pelatihan yang diberikan pelatih Steve gak boleh sia-sia,Dessy harsu berjuang sebisa mungkin di lapangan, dia haerus mengalahkan pemain bulutangkis yang telah menjuarai tahun lalu dan yang  ternyata adalah mantan Steve.
       Set pertama dimenangkan oleh Dessy dengan skor yang hamper beda tipis yaitu 21-19.
Set kedua pun akhirnya selesai dan dimenangkan oleh Dessy denagn skor 21-20. Steve sangat senang dan bangga dan secara spontan Steve memeluk Dessy di depan mantanya itu.
      Setelah selesai semua Steve menagjak Dessy untuk makan untuk merayakan kemenangannya.Steve membawanya ke sebuah kafe yang berdekatan dengan suatu danau yang sangat indah.
     “Dess….sekali lagi selamat ya atas kemenangannya! Gue bangga sama lu,ya walau skornya beda tipis banget. Seenggaknya pelatihan gue gak sia-sia .”ucapnya dengan bangga sambil mengelus kepala Dessy.
     “Iya…iya(hahahaha) gue juag gak mungkin ngecewain pelatih gue yang tercinta (ucap gue keceplosan) (mereka terdiam sejenak) maksud gue,gue juga gak akan ngecewain pak Dony”sambungnya sambil garuk-garuk kepala.
     “Dessy….Dessy kenapa bisa keceplosan begitu” ucapnya dalam hati.
     “Dess…”panggil Steve.
      “eh…iya kenapa?”jawabnya kaget
      “Dulu kita wek-wekan ya kita jutek-jutekan tapi ngerasa ada yang beda sih serasa semua rasa wek,jutek itu tuh ilang”
      “ternyata raket dan shuttlecock ikut berbicara tenatng rasa antara lu dan gue”
      “lapanganpun menjadi saksi bisu dan beku tentang rasa ini” sahut Dessy.

                                                                           Puspa Naomi
                                                                           XII IPS A