Namaku Ardi, aku siswa disalah satu SMA dikota Cirebon. Aku mempunya adik perempuan yang bernama Chika, sekarang ia baru kelas lima SD. Setiap hari aku selalu pergi dan pulang sekolah bersama Chika karena sekolah kami sama. Namun kadang aku harus menunggunya pulang karena dia harus mengikuti pelajaran tambahan ya... karena aku sayang adik jadi aku rela deh nungguin dia tapi aku sebel juga sih soalnya teman sekelas aku juga nungguin adiknya, jadi kita nungguin bareng deh. Hmmm... sumpah ya anaknya yebelin banget! Namanya Tia, dia itu tomboi, sombong, nyebelin, suka pamer, so cantik, cerewet, gak tau sopan santun pokoknya nyebelin benget deh anaknya. Tapi yang paling nyebelin tuh waktu si Tia ngedeketin adik aku.
“Eh... kamu adiknya Ardi ya?” tanya Tia ke adikku.
“Ia, emang napa?”
“Gak apa-apa sih Cuma nanya doang kok.. Ardi kalo dirumah suka main sama siapa?”
“Sama aku, hmmm...” Chika berfikir, “Tapi kadang temennya main kerumah juga sih”
“Oh, kalo main biasanya ngapain?”
“Kalo main sama aku biasanya main boneka Barbie soalnya aku suka sama boneka. Kalo sama temennya paling main games”
“Hah... Ardi main boneka Barbie?”
Gara-gara itu aku suka diejekin sama Tia “cwok jadi-jadian” soalnya akukan cwok masa main boneka sih (meskipun bener tapi itukan karena aku sayang adik)... dan karena mulutnya yang gak bisa dijaga setiap detik dia selalu ngejek aku.
“Ardi... ardi... main barbie yuks”
“Heh... diem kamu!” aku sangat kesal dengan semua ini.
“Ih... takc....yut... deh...” Tia naik keatas kursi “temen-temen main boneka yuks sama Ardi” otomatis sorak-sorai temen-temen sekelas mewarnai.
“Ya ampun Ar, kamu malu-maluin derajat cwok aja sih” teriak Anto, teman sekelasku.
“Tapi kalo dia main boneka cocok juga kok sama mukanya” Dea memandang wajahku, Dea adalah teman sekelasku “Bulu mata yang lentik, kulit putih, tinggi, langsing, punya sikap dan sifat yang lembut hmmm.... cocoklah ya kalo jadi cewek”
“Kalo kamu cewek aku mau dong jadi pacar kamu hehehe.....” teriak Erick.
Aku langsung pergi ke kamar mandi (bukannya nyali aku kecil ngadepin mereka aku Cuma takut masuk ruang BP). Aku mencoba meredam amarahku.
***
Karena aku tak pernah menanggapi ejekan anak-anak perlahan-lahan anak-anak udah gak ngejekin aku lagi, tapi Tia masih ngejekin aku. setiap pagi, istirahat, maupun pulang sekolah dia selalu menghampiri aku dan mengucapkan “Hay..... mau main boneka Barbie?” lama kelamaan aku merasa geram juga. Amarahku ada batasnya dan dia berada di tingkat yang paling atas. Hingga aku memutuskan pulang sekolah nanti aku akan menunggunya di gerbang dan membicarakan semua kekesalanku.
Setelah aku menunggunya lumayan lama akhirnya dia muncul juga.
“Heh... Tia apa sih salah aku sampe-sampe kamu lakuin semua ini sama aku?” aku melampiaskan semua kekesalanku.
“Kamu gak salah apa-apa kok” jawabnya santai.
“Kalo aku gak punya salah terus kenapa kamu ganguin aku dan buat semua anak-anak jadi ikutan ngejekin aku? dan yang lebih parah kamu selalu ngejek aku tiap hari!”
“Loh... bukannya itu fakta ya...? jadi menurut aku kamu gak perlu marah kayak gini”
“Ia, aku akuin semua itu bener. Tapi setidaknya kamu tau kalo berita itu tersebar itu akan membuat aku sangat MALU!”
“Aku niatnya Cuma bercanda doang gak ada maksud buat bikin kamu malu dan aku selalu ngejek kamu karena kamu selalu cuek sama aku. aku penasaran sama kamu yang lebih suka menyendiri dan gak akrab sama temen-temen sekelas. Kamu lebih suka main sama geng kamu aja” jelasnya.
“Terus kalo aku mainnya sama temen geng aku doang apa urusannya sama kamu?”
“Gak ada sih...” Tia menundukan kepalanya.
“Apa maksud kamu lakuin semua ini? JUJUR!” tanya ku. Tia hanya mampu terdiam.
“Jawab Tia, kamu punya mulutkan? Apa maksud kamu lakuin semua ini?”
“Hmmm.... aku Cuma pengen temenan sama kamu”
“Ok, aku gak mau temenan sama kamu! Kamu udah denger jawaban dari akukan, sekarang mending kamu pergi dan gak usah gangguin aku lagi!” ucapku. Tia langsung berlari meninggalkanku. Aku langsung menjemput adikku dan pulang kerumah.
Sesampainya dirumah kenapa aku kepikiran sama kata-kata aku tadi ya? Apa ucapanku terlalu sadis? Apa aku melakukan hal yang salah? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiranku.
***
Pagi ini aku berangkat sekolah dengan rasa yang bahagia karena aku yakin Tia pasti gak akan berani lagi ngejek aku. aku berjalan menuju kelas dengan langkah yang santai dan bahagia dan dugaanku benar Tia gak ngejek aku lagi. Bel tanda masuk udah bunyi tapi si Tia kok belum keliatan juga ya? Dia kemana ya? Apa dia sakit hati sama omonga aku yang kemarin dan gak masuk sekolah gara-gara gak mau ketemu aku ya? Atau jangan-jangan dia sakit? Aku ingin tau jawab dari pertanyaanku.
Sudah tiga hari Tia gak masuk sekolah, kata guru Tia sakit. “Apa dia sakit karena aku ya?” pertanyaan muncul dibenakku lagi. Aku jadi khawatir. Tapi kenapa perasaan aku jadi gak tentu gini ya? Apa karena aku ngerasa bersalah kali ya? Pertanyaan yang membuatku bingung sampai-sampai tanpa ku sadari aku termenung di bawah pohon dan mamah sudah berada dibelakangku.
“Kamu lagi ngapain disini?”
“Mamah, ngagetin aja sih” aku sedikit kesal.
“Kayaknya kamu lagi ada masalah, kamu ceritain aja kemamah siapa tau mamah bisa bantu” tawaran mamah menggiurkan. “Mamahkan cwek jadi dia pasti tau perasaan Tia kayak gimana” pikirku dan akhirnya aku mencritakan semua tentang Tia dan aku.
“Mending kamu datng aja kerumahnya terus minta maaf. Ya... walaupun dia duluan yang salah tapi dia punya niat yang baik kok, lagian kamu juga salah. Ardi, dia gak meminta berlian atau emas kekamu dia Cuma mau berteman aja gak lebih. Jadi masa kamu gak bisa ngabulin permintaan dia” saran mamah.
Setelah aku pikir-pikir mamah ada benernya juga sih. Dengan memberanikan diri akhirnya aku pergi kerumah Tia dan meminta maaf (mesipun aku masih sebel sama dia tapi terpaksa deh soalnya aku kangen juga sama dia).
“Ngapain kamu kesini?” tanya Tia dengan jutek.
“Aku kesini mau minta maaf sama kamu, aku tau aku salah. Lagian kamu juga sih pengen temenan tapi pake cara yang buat aku sebel hmmm... yang ada aku bukannya suka tapi benci sama kamu”
“Kalo kamu benci sama aku mending kamu pergi aja dari sini” Tia mengusirku. (aduh... ini anak gak ngerti juga ya kalo aku mau temenan sama dia, tapi aku gak tau harus ngomong apa) pikirku.
“Hmmm.... ok, aku punya salah sama kamu dan kamu juga punya salah sama aku jadi kedudukan kita seri. Hhmmm.... jadi, kita mulai dari awal aja dan lupain semua yang udah terjadi”
“Ada angin apa kamu ngomong kaya gitu?” pertanyaan yang gak aku harapkan akirnya terlontar dari mulut Tia. Apa yang harus aku jawab? Masa aku harus jujur kalo semenjak gak ada dia aku jadi kangen sama dia dan karena rasa kangen itu akhirnya tumbuh benih-benih cinta. gengsi banget aku harus ngomong gitu! “Hmmm... aku Cuma bercanda kok. Jadi mulai sekarang kita berteman” Tia tersenyum padaku dan akhirna akupu tersenyum lega juga.
Sekarang aku berteman dengan Tia dan rasa benci yang aku rasakan berubah jadi Cinta. Tapi aku gak mau ngakuin semua perasaan aku karena aku gak mau merusak persahabatan kita yang baru aja terjalin. Biar semua berjalan seperti air megalir dan saat tibawaktunya nanti aku akan mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.
Nama: Suslia Dwi Ati S.E
Kelas : XB
Aku mempunyai 3 orang kakak yang bernama Nico, Ardi, dan Sisil. Sekarang aku baru berusia empat tahun. Bagi mamah aku adalah malaikat kecilnya, aku sangat senang mempunyai mamah sepertinya. Meskipun kadang aku merasa tak pantas berada dikeluarga ini karena bagi kak Sisil aku adalah derita baginya karena mamah lebih menyayangiku dari pada dia. Hampir setiap hari kak Sisil selalu memarahiku dan menyalahkanku atas semua masalah yang terjadi padanya. Mungkin karena rasa benci yang begitu menggebu kak Sisil jadi jarang pulang. Aku sangat sedih dengan semua ini namun tangan mamah selalu memberikanku kedamaian dan menguatkan hatiku. Mamah adalah wanita yang paling aku sayangi didunia ini.
Malam ini hujan turun begitu deras, petir yang menggelegar membangunkanku dari alam mimpi. Aku ketakutan dan berlari kekamar mamah, ternyata mamah tidak ada dikamar. Karena petir terus menyambar akupun bersembunyi dibawah meja sambil menangis dan memanggil mamah. Mamah menghampiriku dan memeluku dengan begitu hangat.
"Mamah abis dari mana? Aku cari-cari mamah"
"Mamah ada diruang tamu, mamah lagi nungguin papah kamu"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, mamah membukanya dan yang datang adalah papah. Mata papah merah dan mulutnya mengeluarkan bau alkohol. Mamah menuntun papah kekamar. Hampir setiap hari papah pulang malam dan selalu pulang seperti ini. Kadang aku merasa kasihan pada mamah karena ia hanya mampu terdiam melihat papah. Setiap hari mamah selalu bekerja untuk menafkahi keluarga, meskipun papah bekerja namun ia tak pernah menyerahkan uangnya pada mamah sedikitpun. Papah juga gak pernah tau gimana kehidupan keluarganya. papah gak pernah tau kalo kak Sisil jarang pulang, kak Nico dan kak Ardi yang selalu mebuat masalah disekolah, ataupun makanan yang setiap hari kami makanpun dia gak tau karena dia selalu makan diluar. Aku jarang melihat papah karena ia selalu berangkat pagi dan pulang malam, aku gak pernah tau apa pekerjaan papah dan gak pernah nikmatin uang hasil kerjanya. Entah uangnya ia kemanakan.
Seperti biasanya sepulang mamah kerja kakak-kakakku selalu menghampiri mamah dan meminta uang lalu pergi entah kemana.
"Mah, minta uang dong. Aku mau main nih" pinta kakak-kakakku.
"Maaf ya sayang tapi hari ini Mamah lagi gak punya uang"
"Hah.... kalo kamu gak punya uang terus buat apa kamu kerja?" bentak kak Nico.
"Kakak jangan bentak mamah!" aku menangis dan memeluk mamah, namun kak Sisil menyeretku kekamar dan memukuliku tanpa belas kasihan.
"Sekarang kamu mulai berani ya ngelawan kakak kamu! Kamu diajarin sama siapa sih hah...." bentak kak Sisil.
Aku menangis bukan karena rasa sakit akibat pukulan kak Sisil namun aku menangis saat aku mendengar jerit kesakitan dari mamah. Mamah menghampiriku dan memeluku.
"Gak apa-apa kok sayang. Maafin mamah ya gara-gara kamu belain mamah kamu jadi ikut dipukulin sama kak Sisil. Kamu jangan benci sama mereka ya, ini semua salah mamah sayang..." mamah menangis.
Malam ini papah pulang cepat tanpa bau alkohol yang menjadi ciri khasnya, ia melihat mamah penuh dengan luka pukulan.
"Kamu abis dipukulin sama siapa sampe babak belur kayak gitu?" tanya papah.
"Tadi Nico, Ardi sama Sisil minta uang tapi aku lagi gak punya uang jadi mereka mukulin aku" jelas mamah.
"Hah... seorang anak mukul ibunya? Ini akibatnya kalo kamu gak becus ngurusin anak. Jujur aja aku nyesel udah nikah sama kamu, aku gak mau punya anak yang berandalan!" papah mengemasi pakaiannya dan pergi meninggalkan mamah. Karena kejadian itu bukan hanya papah yang meninggalkan mamah tapi kak Nico juga pergi dari rumah bersama kekasihnya.
***
Satu tahun berlalu hidupku tanpa papah dan kak Nico. Mamah terlihat biasa saja menghadapi semua ini namun aku tau di dalam hatinya ia pasti sangat sedih dengan semua ini. Kehancuran hati mamah sangat terlihat dari fisiknya yang semakin kurus kering. Dulu badan mamah gemuk namun sekarang hanya tulang yang terlihat dari balik kulitnya yang tipis. “Kriiing..... kringg...” bunyi telepon berdering, aku langsung menghampiri dan menjawab telepon itu.
“Hallo... ini dengan siapa?” tanyaku.
“Apa ini nomor telepon rumahnya pak Anwar?” tanyanya.
“Ia, saya anaknya. Tapi papah gak ada di rumah, memangnya ada apa ya?”
“Apa mamah kamu ada?”
“Mamah lagi kerja. Apa ada pesan? Nanti saya sampaikan”
“Begini dik, kalau mamahmu pulang suruh mamahmu kerumah sakit secepatnya ya”
“Memang siapa yang sakit?”
“Nanti juga mamahmu tau setelah ia datang kesini”
“Baiklah, nanti saya sampaikan”
“Terima kasih”
Aku menutup telepon itu dan menunggu mamah pulang diteras depan.
Aku melihat mamah berjalan menuju rumah. Aku berlari dan memeluknya.
“Mah, tadi ada telepon katanya mamah harus kerumah sakit sekarang juga”
“Dari siapa?” tanya mamah heran.
“Gak tau mah, aku lupa tanya”
Aku dan mamah segera pergi keruma sakit itu. Sesampainya dirumah sakit ada seorang polisi yang menghampiri kami.
“Apa anda istri Bapak Anwar?” tanya polisi itu.
“Ia, saya istrinya. Ada apa ya pak?”
“Silahkan ikut saya” polisi itu berjalan menuju ruang jenazah. Mamah tidak mengerti mengapa polisi itu mengajak mamah keruangan itu. Polisi menunjukan seorang mayat lelaki yang sudah terbujur kaku. Samar-samar aku mencoba mengingat siapa lelaki itu. Mamah menangis dan menciumi jenazah lelaki itu dan aku menyadari bahwa lelaki itu adalah papah.
“Bapak Anwar mengalami overdosis. Sudah lama saya mencari suami anda karena suami anda terlibat dalam jaringan pengedar NARKOBA dan perjudian. Namun saya gagal karena menemukan suami anda dalam keadaan seperti ini di markas besar perjudian” mamah hanya mampu terdiam dan menangis mendengar semua penjelasan polisi. Aku menatap muka papah yang sudah pucat. Aku menghafal raut muka papah supaya aku tidak lupa dengan wajahnya. Wajah yang selalu aku rindukan dan yang selalu aku inginkan meskipun aku membencinya namun dia tetaplah ayahku karena seburuk apapun dia aku tak dapat memungkiri bahwa darah daging yang ada di dalam tubuhku sebagian adalah miliknya.
***
Semenjak papah meninggal mamah jadi lebih suka melamun. Mamah berhenti bekerja dan sakit-sakitan. Kami hidup hanya mengandalkan uang tabungan mamah dan warisan yang diberikan oleh nenek. Setiap sore mamah suka duduk dikursi yang terletak dihalaman depan. Tiba-tiba kak Nico muncul dihadapan mamah dan meminta maaf sambil menangis.
“Maafin Nico mah, aku tau aku salah. Aku mau minta maaf sama mamah. Aku nyesel udah ninggalin mamah. Aku kangen mamah” kak Nico memeluk mamah.
“Mamah juga kangen banget sama kamu sayang. Kamu harus janji sama mamah gak akan pergi lagi ya nak. Kamu harus jagain adik-adik kamu, mereka mengandalkanmu sayang”
Mamah menerima kehadiran kak Nico dengan tangan yang terbuka dan pintu maaf yang terbuka lebar. Mamah bagaikan malaikat yang menyamar jadi manusia. Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu itu sepanjang masa dan itu memang benar nyatanya.
Hari ini mamah masak masakan special untuk menyambut kehadiran kak Nico dan untuk merayakan kembalinya keutuhan kelurga kami. Kami berbagi canda tawa, makan bersama, nonton bersama, bahkan mamah sempat bermain piano dan bernyanyi untuk kami. Mamah memang pandai bermain piano. Kami sangat gembira dengan semua ini, namun tak ku sangka hari itu juga mamah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Tanpa mamah apa yang bisa aku lakukan? Aku malihat hanya aku dan kak Nico yang menangis dan tak menginginkan mamah pergi. Kak Ardi dan kak Sisil sibuk dengan pembagian harta warisan mamah. Apa kak Sisil dan kak Ardi lebih menyanyangi harta dari pada mamah?
Setelah pembagian harta selesai kak Ardi dan kak Sisil pergi entah kemana. Karena aku masih kecil jadi warisan aku dititipkan kepada kak Nico. Kak Nico memanfaatkan uang itu untuk modal berjualan makanan.
***
Setelah satu tahun berlalu akhirnya kak Ardi dan kak Sisil pulang juga, namun aku merasa sedih karena mereka pulang bukan karena keinginan untuk bersatu atau rindu padaku tetapi karena uang mereka habis dan mereka tak punya tempat untuk tinggal. Mendengar semua alasan mengapa mereka kembali kak Nico merasa geram dan marah. Terjadilah pertengkaran yang hebat. Kak Nico memutuskan untuk pergi dari rumah. Sekarang aku tinggal bersama kak Sisil dan kak Ardi. Karena mereka tak punya uang untuk membeli makanan mereka menyuruhku untuk meminta makanan pada kak Nico. setiap pulang sekolah aku selalu pergi kerumah kak Nico untuk menunggunya pulang dan membawa sisa makanan yang tidak terjual dan membawanya pulang supaya kak Ardi dan kak Sisil bisa makan. kadang ketika aku sendirian aku merindukan kehadiran mamah. “Mah, sampai kapan hidup aku kayak gini terus. Aku kangen mamah. Tanpa mamah aku gak bisa menghadapi semua ini. Mending aku ikut mamah aja kesurga. Aku kangen banget sama mamah, aku mau merasakan hangatnya pelukan dari mamah”
***
Sepuluh tahun berlalu dan kehidupanku masih sama seperti dulu. Bahkan lebih parah karena tetangga-tetangga selalu membicarakan keluarga kami dan selalu menyepelekan kami karena kami hidup tanpa orang tua. Kadang orang-orang menganggapku anak yang nakal karena tidak ada yang mendidik. Meskipun aku hidup tanpa orang tua namun aku juga tau etika dan sopan santun, meskipun aku bukan belajar dari orang tua namun aku juga belajar dari sekolah. Setiap aku keluar rumah dan bertemu tetangga mereka pasti menanyakan “Anak siapa de?” aku bingung harus menjawab apa. meskipun aku menjawab merekapun pasti gak akan kenal orang tua aku karena orang tua ku sudah meinggal ketika uasiaku masih kecil, maka aku hanya tersenyum dan langsung pergi dari hadapa mereka. Namun semua ini gak terlalu menyakitkan jika dibendingkan dengan kakak aku yang selalu membenciku dan mereka menyalahkan mamah dan papah atas semua ini. Bahkan mereka menganggap aku ini bodoh dan tak berguna. Jika aku melakukan kesalahan sedikitpun mereka langung memukulku. Tak bisa aku bayangkan bagaimana hancurnya perasaan mamah memiliki anak seperti kakak-kakakku sampai-sampai mamah sudah meninggalpun mereka masih membenci mamah. Semasa hidupnya mamah jarang mempunyai kesempatan untuk bahagia tapi dia tak pernah mengeluh. Dia hanya mampu terdiam melihat semua ini, meskipun hatinya sangat terluka dia tetap diam karena dia gak mau orang-orang yang dia sayangi pergi dari sisinya sehingga ia hanya mampu terdiam asalkan mereka tetap berada disisi mamah. mamah hatimu bagaikan malaikat yang turun dari bumi. Mah, aku kangen banget sama mamah. Tuhan setiap hari ibu aku selalu berharap mamah bisa hadir dimimpiku dan memelukku, hanya itu harapan aku tuhan.
karya: Suslia Dwi Ati S.E
kelas: xb



