Disuatu saat pada masa kecilku, aku menyadari bahwa orang tua ku tidak pernah rukun dan hidupku tidak akan bahagia, saat orang tua ku mengatakan bahwa mereka akan bercerai, aku tidak kaget. Aku tak pernah berfikir bahwa itu kesalahan ku. Aku juga tidak pernah mengangankan bahwa mereka akan bersatu kembali. Jadi kurasa aku menerima keputusan mereka untuk bercerai.
Selama sebagian besar masa kecilku, aku tidak terganggu bahwa mereka tidak bersama. Malah, aku mendapatkan yang terbaik dari dua dunia itu. Aku jadi bisa tinggal di bandung bersama ibuku dan pergi ke jakarta untuk menemui ayah ku. Namun suatu saat dalam proses ini, aku mulai merasakan efek " Broken Home". Meskipun mereka mencoba agar tidak terlalu terlihat, ketidaksukaan orang tua ku terhadap satu sama lain semakin kelihatan.
Ketika aku berusia 12 tahun,aku ingin tinggal bersama ayah ,agar aku pindah ke jakarta.Bukannya aku tidak mencintai ibu,hanya saja aku sudah melewatkan sebagian besar masa kecilku bersamanya dan mulai merasa seakan aku tak tahu banyak tentang ayahku.
Setelah pindah ke jakarta untuk tinggal bersamaku,aku mulai menyadari ternyata perceraian orang tua ku sebenarnya mempengaruhiku.Ayah akan menyuruhku untuk meminta ibu mengirimkan uang,dan ibu akan menyuruhku untuk mengatakan pada ayah bahwa ia seharusnya tak perlu mengirimkan uang.Pada saat itu aku merasa terperangkap ditengah-tengah konflik mereka berdua.Ibu mencoba mencari informasi dariku tentang bagaimana keadaan sesungguhnya di rumah ayah aku harus berupaya agar tak berada di jarul yang salah.
Orang tua ku mulai mencoba saling menghormati, demi aku kukira, tetapi tampak jelas bahwa banyak rasa sakit tersembunyi dibalik tindakan mereka. Sudah sepuluh tahun mereka bercerai, tapi rasanya seakan pertarungan baru saja dimulai. Mereka selalu bertengkar tentang uang dan cara mengasuh ku. Meskipin mereka berdua berjanji bahwa itu tidak akan melibatkan aku, tetap saja pertengkaran itu melibatkan ku. Aku merasa mereka bertengkar karena aku, dan bahwa itu adalah kesalahan ku, ini adalah perasaanku saat aku berusia 15 tahun.
Tumbuh bersama orang tua yang bercerai dimasa kini tampak nya sudah biasa, malah lebih jarang menemukan dua orang tua yang masih bersama sama, tapi itu tidak membuat pengalaman tersebut berkurang sakitnya, pada akhir nya itu adalah suatu yang harus kulalui baik aku berusia lima atau lima belas tahun.
Aku ingin bisa berkata bahwa orang tuaku telah mengyelesaikan semua masal mereka,dan bahwa kami sekarang bekerja sebagai suatu tim yang sempurna.Keadaan tak pernah sesederhana itu,mereka memang berusaha,mereka mencitaiku,dan meskipun kami butuh waktu lama untuk menyadarinya,sekarang kami tahu bahwa cinta mereka untuku akan selalu mempersatukan mereka,mereka telah belajar bekerja sama untuk membesarkanku.
Suatu hari,kami bertiga berkumpul untuk membicarakan perjalananku yang akan datang untuk menjungjung beberapa universitas.Kurasa mereka berdua sedih memikirkan aku akan pergi dan itulah yang mempersatukan mereka melihatku tumbuh.
Saat kami duduk bersama, suatu pikiran melintas di benakku, bagaimana kalau keluarga ku masih bersama sma? lalu, seraya aku memandang orang tua ku dengan cermat dari balik brosur universitas, aku tersenyum sendiri,inilah keluargaku, dan kami sedang bersama sama.
Steviana Sari
Kelas XA




0 komentar to “Inilah Keluargaku”