Setiap hari aku selalu di suruh untuk sekolah, belajar, les, bahkan makan oleh orang tuaku terlebih oleh mamahku. Jujur saja merasa risih dengan perkataan mereka yang selalu mengatakan hal yang sama, mereka tak pernah bosan untuk selalu mengingatkanku. Apa mereka pikir aku masih anak kecil?
“Sayang ayo sarapan terus berangkat sekolah, sekarang udah siang nih” panggil mamahku.
“Ia...” aku merasa malas ketika mamah memanggilku, meskipun begitu kakiku tetap melangkah menghampiri mamah yang sedang menyiapkan sarapan.
“Sayang, nih Mamah sudah siapkan nasi goreng” mamah menyodorkanku sepiring nasi goreng, “Selama kamu sarapan Mamah mau mandi dulu, lalu kita berangkat sekolah” mamah melangkah pergi.
Dan seperti biasanya mamah mengantarku sekolah sampai depan kelas, memang teman-teman ku tidak ada yang mengejek. Namun, aku merasa malu karena aku sudah kelas 1 SMA terlebih aku adalah anak laki-laki. Sebelum mamah pulang mamah selalu mencium keningku dan berkata, “Belajar yang pintar ya sayang, nanti siang mamah jemput kamu. Baik-baik di sekolah” semua itu seperti kebudayaan yang melekat erat.
Hari ini ada pembinaan mendadak, jadi aku belum memberi tahu mamah. “mamah pasti sudah menungguku di depan” pikirku dalam hati. Maka aku meminta ijin pada guru untuk menemui mamah.
“Mah, hari ini aku ada pembinaan. Jadi pulangnya agak telat” jelasku.
“Sampe jam berapa?” tanya mamah.
“Sekitar satu jam lagi”
“Ya udah, kamu makan dulu. Kebetulan mamah bawa makanan dari rumah” mamah membuka tasnya yang berisi tempat nasi.
“Yaah... mah, aku itu udah masuk, ini aja aku ijin. Masa aku harus makan dulu?” aku merasa sedikit kesal.
“Pokoknya kamu harus makan, Mamah gak mau kamu sakit. Biar mamah yang bicara sama guru kamu” mamah meninggalkanku pergi untuk meminta ijin pada guruku.
Setelah makan aku langsung pergi ke kelas untuk melanjutkan pembinaan. Tiba-tiba guruku menghampiriku sambil memberikan kertas soal yang harus ku isi.
“Makannya kenyang tadi?” tanya guruku.
“Ya, lumayan pak” jawabku.
“Tadi di bawain bekel sama mamah?” tanyanya lagi.
“Ia pak” jawabku sambil melihat soal.
“Masa udah gede masih di bawain bekel sama mamah, emang gak malu sama temen-temen? Di tungguin lagi pembinaannya?”
“Gak tau tuh pak, mamah”
***
Pernah terlintas dalam pikiranku untuk memberi tahu mamah bahwa aku tidak suka dengan sikapnya itu, hingga pada suatu hari aku menemukan waktu yang pas untuk menyatakannya.
“Mah, aku gak suka mamah terlalu memanjakanku. Malu tau, akukan sudah besar” keluhku.
“Kamu memang sudah besar, dan mamah tidak memanjakanmu. Mamah Cuma memperhatikan kamu, karena mamah takut kamu kenapa-kenapa?” jelas mamah.
“Tapi mah, apa perlu sampe segitunya? Mamah ngatur waktu aku, nyuruh aku les, sekolah, makan, temen juga harus mamah yang milihin. Aku malu sama temen-temen dan aku mau kebebasan layaknya remaja lain?” aku melangkah pergi meninggalkan mamah.
Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan hal ini, hingga aku berbicara dengan papah untuk mencari solusi yang terbaik. Papah menyarankanku supaya aku tinggal di kos-kosan untuk melatih supaya aku dapat hidup mandiri. Awalnya mamah tidak setuju dengan rencana itu, namun karena di bujuk oleh papah akhirnya mamah setuju juga. Maka, papah mencarikanku tempat kos yang dekat dengan sekolah dan papah memberiku sepedah motor supaya aku tidak repot jika mau pergi ke suatu tempat.
***
Inilah kehidupan baruku yang aku impikan, tidak ada aturan dan tidak ada yang memperlakukanku seperti anak kecil lagi. Kebahagiaanku tak terkira ku rasakan samapai aku tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Setiap hari aku selalu pulang malam karena bermain games di warnet, aku tidak pernah belajar, aku makan makanan yang aku suka yang selalu di larang oleh mamah, aku bebas berteman dengan siapa saja, bahkan sekarang aku bisa bebas pergi kemana saja dan kapan saja.Besok temanku mengajakku pergi ke Bandung untuk merayakan pesta ulang tahunnya selama satu minggu, kalau tidak datang aku merasa tidak enak. Maka aku menemui ibu kos.
“Bu, besok saya akan pergi ke Bandung selama satu minggu. Tolong buatkan surat untuk sekolah ya, tapi bilang saja kalau saya sakit” pintaku.
“Baiklah, saya akan membuatkannya. Namun saya harus bilang kamu sakit apa?” tanyanya.
“Ya, ibu bilang saya sakit parah gitulah biar mereka percaya” aku tersenyum.
Karena Ibu kos mau menuruti perintahku akupun jadi keseringan minta di buatkan surat, kurang lebih sudah 5 kali aku memintanya dan dia selalu menurutinya. Aku memang senang dengan sikapnya namun aku merasa dia tidak peduli denganku, aku jadi merasa kesal dengannya. Hingga aku menemuinya yang sedang asyik menyaksikan film kesukannya.
“Mau di buatkan surat lagi?” tanyanya langsung ketika melihatku mendekatinya.
“Tidak... Bu, kenapa ibu mau saja membuatkanku surat bahkan berkali-kali?” tanyaku.
“Memang apa susahnya menulis satu lembar kebohongan?” jawabnya dengan santai.
“Mengapa kau tidak menanyakanku aku pergi kemana di saat aku tidak masuk sekolah dan kenapa aku sering pulang terlambat?” tanyaku dengan heran.
“Bagi saya itu tidak ada untungnya, saya bukan orang tua kamu yang memikirkan masa depan kamu”
Kata-kata itu menyadarkanku bahwa selama ini orang tuaku melakukan semua itu karena mereka peduli terhadapku, mereka memikirkan masa depanku, mereka menyayangiku. Tidak ada yang dapat menandingi perhatiannya padaku dengan orang lain, pedulinya terhadapku begitu besar. Namun aku telah mengabaikannya, aku telah melukai hati mereka karena rasa gengsi terhadap teman dan tidak ingin di perlakukan layaknya anak kecil.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan kembali hidup seperi dulu, namun yang berbeda hanyalah saat ini aku melakukan tugasku tanpa di suruh orang tau. Baru ku sadari betapa besar kasih pedulimu mamah, papah.
Nama: Suslia Dwi Ati S.E
Kelas : XB
Disuatu saat pada masa kecilku, aku menyadari bahwa orang tua ku tidak pernah rukun dan hidupku tidak akan bahagia, saat orang tua ku mengatakan bahwa mereka akan bercerai, aku tidak kaget. Aku tak pernah berfikir bahwa itu kesalahan ku. Aku juga tidak pernah mengangankan bahwa mereka akan bersatu kembali. Jadi kurasa aku menerima keputusan mereka untuk bercerai.
Selama sebagian besar masa kecilku, aku tidak terganggu bahwa mereka tidak bersama. Malah, aku mendapatkan yang terbaik dari dua dunia itu. Aku jadi bisa tinggal di bandung bersama ibuku dan pergi ke jakarta untuk menemui ayah ku. Namun suatu saat dalam proses ini, aku mulai merasakan efek " Broken Home". Meskipun mereka mencoba agar tidak terlalu terlihat, ketidaksukaan orang tua ku terhadap satu sama lain semakin kelihatan.
Ketika aku berusia 12 tahun,aku ingin tinggal bersama ayah ,agar aku pindah ke jakarta.Bukannya aku tidak mencintai ibu,hanya saja aku sudah melewatkan sebagian besar masa kecilku bersamanya dan mulai merasa seakan aku tak tahu banyak tentang ayahku.
Setelah pindah ke jakarta untuk tinggal bersamaku,aku mulai menyadari ternyata perceraian orang tua ku sebenarnya mempengaruhiku.Ayah akan menyuruhku untuk meminta ibu mengirimkan uang,dan ibu akan menyuruhku untuk mengatakan pada ayah bahwa ia seharusnya tak perlu mengirimkan uang.Pada saat itu aku merasa terperangkap ditengah-tengah konflik mereka berdua.Ibu mencoba mencari informasi dariku tentang bagaimana keadaan sesungguhnya di rumah ayah aku harus berupaya agar tak berada di jarul yang salah.
Orang tua ku mulai mencoba saling menghormati, demi aku kukira, tetapi tampak jelas bahwa banyak rasa sakit tersembunyi dibalik tindakan mereka. Sudah sepuluh tahun mereka bercerai, tapi rasanya seakan pertarungan baru saja dimulai. Mereka selalu bertengkar tentang uang dan cara mengasuh ku. Meskipin mereka berdua berjanji bahwa itu tidak akan melibatkan aku, tetap saja pertengkaran itu melibatkan ku. Aku merasa mereka bertengkar karena aku, dan bahwa itu adalah kesalahan ku, ini adalah perasaanku saat aku berusia 15 tahun.
Tumbuh bersama orang tua yang bercerai dimasa kini tampak nya sudah biasa, malah lebih jarang menemukan dua orang tua yang masih bersama sama, tapi itu tidak membuat pengalaman tersebut berkurang sakitnya, pada akhir nya itu adalah suatu yang harus kulalui baik aku berusia lima atau lima belas tahun.
Aku ingin bisa berkata bahwa orang tuaku telah mengyelesaikan semua masal mereka,dan bahwa kami sekarang bekerja sebagai suatu tim yang sempurna.Keadaan tak pernah sesederhana itu,mereka memang berusaha,mereka mencitaiku,dan meskipun kami butuh waktu lama untuk menyadarinya,sekarang kami tahu bahwa cinta mereka untuku akan selalu mempersatukan mereka,mereka telah belajar bekerja sama untuk membesarkanku.
Suatu hari,kami bertiga berkumpul untuk membicarakan perjalananku yang akan datang untuk menjungjung beberapa universitas.Kurasa mereka berdua sedih memikirkan aku akan pergi dan itulah yang mempersatukan mereka melihatku tumbuh.
Saat kami duduk bersama, suatu pikiran melintas di benakku, bagaimana kalau keluarga ku masih bersama sma? lalu, seraya aku memandang orang tua ku dengan cermat dari balik brosur universitas, aku tersenyum sendiri,inilah keluargaku, dan kami sedang bersama sama.
Steviana Sari
Kelas XA
Alasan mengapa orang-orang memanggilku "Pohon" karna aku sangat baik dalam menggambar pohon. setelah itu aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih SMA.
Ada satu wanita yang sangat aku cintai ,tapi aku tidak punya keberanian untuk aku mengatakannya .Dia tidak memiliki wajah yang cantik ,tubuh yang seksi ,dan sebagainya.Aku menyukainya,sangat menyukainya gayanya yang innocent dan apa adanya,kemandiriannya ,aku menyukai kepandaianya dan kekuatannya.
Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untuk ku. Aku juga takut , jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip - gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya tiada batas nya dari aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.
Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis gadis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.
Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat oleh nya. Dia hanya tersenyum dan berwajah merah dan berkata "lanjutkan saja". Dan setelah itu pergi meningalkan kami. Esoknya , matanya bengkak dan merah. Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkan nya menangis, tetapi aku tertawa dengan nya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepak bola untuk mengambil sesuatu di kelas,dan aku melihat nya menangis selama 1 jam.
Pacarku yang ke 4 tidak menyukainya.Pernah sekali mereka berdua perang dingin.Tapi aku tetap bersama pacarku.Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget.Aku tidak memikirkan perasaanya dan pergi meninggalkanya bersama pacarku.Esoknya masih tertawa dan becanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia ,aku juga sedih .
Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5 ,aku mengajaknya pergi .Setelah kencan satu hari itu ,aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya .Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang dia katakan padaku.Aku cerita padanya bahwa putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata bahwa tentang dia sedang memulai hubungan dengan seseorang.Aku tau pria itu.Dia sering mengejarnya selama ini.Pria yang baik ,penuh energi dan menarik .
Aku tidak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat kuat di dadaku aku tidak bisa bernafas dan ingin berteriak namun tidak bisa. Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.
Ketika upacara kelulusan, aku membaca sms di handphoneku . SMS itu dikirim 10 hari yang lali ketika aku sedih dan menangis. SMS itu berbunyi,"Daun terbang karena Angin bertiup atau karena pohon tidak memintanya untuk tingal?"
DAUN
Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa? karena aku merasa bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk meninggalkan pohon yang selama ini di tinggali.
Selama 3 tahun di SMA aku dekat dengan seorang pria,bukan sebagai pacar,tapi ''sahabat''.Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya,aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya ,CEMBURU.Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan lemon.Hal itu seperti 100 butir lemon busuk .Mereka hanya bersama selama 2 bulan .Ketika mereka putus,aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lain .Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku,tetapi mengapa dia tidak mau mengatakanya ?sejak dia mencintaiku,mengapa dia tidak memulainya dulu yang melangkah?ketika dia punya pacar baru lagi,hatiku selalu sakit.Waktu berjalan dan berjalan,hatiku sakit.Aku mulai mengira bahwa ini cinta yang bertepuk sebelah tangan,tapi mengapa dia memperlakukan ku dengan sangat baik di luar kelakuanya hanya untuk seorang teman ?Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati ,aku tahu kesukaanya,kebiasaanya.Tapi perasaanya padaku tidak pernah bisa diketahui.Kau tidak mengharapkan aku sebagai seorang wanita untuk mengatakanya bukan?Diluar itu,aku mau tetap disampingnya,memberinya perhatian,menemaninya,dan mencintainya.Berharap,bahwa suatu hari,dia akan datang mencintaiku.hal itu seperti menunggu teleponya tiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. aku tau sesibuk apapun dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. karena itu aku menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk ku lalui dan aku mau menyerah. kadang aku berfikir untuk tetap menunggunya. luka dan sakit hati, dan di lema yang menemaniku selama 3 tahun ini.
ketika di tahun ke tiga, seorang pria mengejarku, dia adalah adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. dari penolakkan yang telah dia tunjukan aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang di hatiku.
Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan angin ini ruang yang kecil di hatiku. aku tau angin ini akan membawa pergi daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Akhirnya, aku meninggalkan pohon. Tapi pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku, "Daun terbang karena angin bertiup atau atau pohon tidak memintanya untuk tinggal?"
ANGIN
Karena aku menyukai seorang gadis bernama daun, karena dia sangat bergantung pada pohon, jadi aku harus menjadi angin yang kuat. Angin akan meniup daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, setelah 1 bulan pindah sekolah. aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepak bola. ketika itu, dia selalu duduk disana sendiri atau dengan teman-temannya memperhatikan pohon. ketika pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. ketika pohon melihat ke arah daun ada senyum di matanya.
Memperhatikannya menjadi kebiasaan bagiku, seperti daun yang suka melihat pohon. suatu hari, dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan. Seniorku juga tidak ada saat itu, aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di pipi daun ketika pohon pergi, besoknya aku melihat daun di tempatnya yang biasa, memperhatikan pohon. aku melangkah dan tersenyum padanya. menulis catatan dan memberikan padanya. Dia sangat kaget. Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia datang menghampiriku dan memberiku catatan. "Hati daun sangat kuat dan angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena daun tidak mau meninggalkan pohon." aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku, dan menerima kehadiranku, dan teleponku.
Aku tau orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia akan menyukaiku, aku telah mengucapkan kata cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya "Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan. tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.
Aku bertanya, "Apa yang kau lakukan? kenapa kau tidak pernah membalas?"
Dia berkata, "Aku menengadahkan kepalak".
"Ahh...?" (aku tidak percaya apa yang aku dengar)
"Aku menengadahkan kepalaku" (dia berteriak)
aku meletakan telepon, berpakaian dan naik ke taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, lalu aku memeluknya kuat-kuat.
"Daun terbang karena tiupan angi atau karena pohon tidak memintanya untuk tinggal"
Agnes Gunawan
Kelas XA



