Pagi ini kembali kau ketabanan setangkai bunga mawar yang indah dan wangi,kemarin pun ada coklat kesuaan ku di meja.ini adalah bunga mawar ke-5 yang ku dapat dan kusimpan dari seseornag yang tidak aku kenal.
oh... pangeran rahasiaku mengapa aku hanya berani menaruh bunga mawar dan puisi indah di mejaku? mengapa kau tak langsung menemuiku? puisi-puisi yang kau buat sangat bagus,indah dan romantis,dirimu membuatku semangat datang pagi ke sekolah untuk mencium aroma segar bunga mawarmu dan membaca puisimu. saat aku sedang membaca puisimu tanpa ku sadari seorang guru datang tepat di depan mejaku lalu Talita teman satu mejaku menyadarkan ku dari lamunan ku.
Talita selalu menasehatiku dengan kata-katanya yang bijak sana agar aku tidak mudah percaya pada pangeran misteriusku. aku dan Talkita pergi ke toilet dan di stiu aku bercermin sambil berkata dalam hati."apa istimewah kamu? sampai ada pangeran misterius yang menyukaimu" sambil tangan ku mnunjuk ke arah wajah di cermin yang tidak lain adalah diriku sendiri. aku berpikir masih banyak cewe.
cewe cantik di sekolahku tetapi kenapa bunga itu ada di mejaku,mengapa bukan di meja Lulu si model cantik di sekolah atau seperti Sandra yang jago main basket dan Tamara yang menjadi mayoret marching band sekolah kami."mengapa harus aku?" aku terus bertanya dalam hatiku sendiri.
cewe-cewe yang ku sebutkan tadi adalah cewe-cewe istimewa di sekolah ku tetapi itu belum setengahnya cewe istimewa di sekolahku.mereka cewe-cewe yang menjadi pusat perhatian disekolah yang selalu banyak cowo mendekatinya untuk menjadi pacar salah satu cewe tadi. sedangkan aku hanyalah cewe biasa yang tidak memiliki prestasi atau seperti mereka. aku berhayal pangeran misteriusku adalah Andre ketua osis yang sangat ramah senyum dan menyapaku ntah kapanpun dimanapun kita bertemu. tapi tiba hati kecilku berkata Andre sudah milik Viana anak kelas 3 SMA yang juga banyak memiliki talenta jadi sepertinya tidak mungkin
apa mungkin Angga? dia selalu mengantarku pulang dan itu sudah 4 kalinya, karna boncengan motor dia selalu kosong semenjak dia putus dari Priska,apa mungkin dia berniat untuk PDKT dengan ku. tiba-tiba datang seorang cowo keren bernama Boboy dia tidak kalah keren dengan cowo-cowo lainnya. boboy selalu ingin dekatku duduk, berjalan atau apa saja dia orang yang baik. boboy bertanya kepada ku" aku sedang diet ya?" sambil tersenyum aku menjawab" tidak, memang kenapa?"
"kenapa nasi gorengnya tidak dimakan?"
"hmm.. pasti aku makan kok cuma aku hanya bingung nasinya sedikit dingin saja" Dengan tergesah-gesah aku mulai memakan nasi gorengnya sampai aku tersedak
"uhuk uhuk.."
"pelan-pelan dong makannya" sambil tersenyum kami lalu menghabiskan makanannya tanpa berbincang lagi.
keesokan paginya aku datang lebih pagi untuk mengetahui siapa pangeran misterius itu, dan aku hanya melihat sesosok pria di balik jendela kelasku sedang membawa bunga dengan wajah kesal lalu meninggalkan bunga itu di lantai lalu pergi." apakah mungkin dia orangnya?"
Intan Putri
Kelas XI IPS
Terlihat sangat bahagia ketika kedua remaja ini berlari kesana kemari, berkejar-kejaran dengan penuh kebahagiaan. Di pantai tempat mereka berdua pertama pacaran .
"Ayooo......kejar aku...."Tere berteriak sambil berlari
"Hey....awas ya kalau kena"Ray berlari mengejar Tere kekasihnya
Terlihat kebahagiaan dan kasih sayang diantara mereka,tetapi tidak sebahagia seperti yang terlihat.Tere mempunyai penyakit yang sangat berbahaya dan dokter sudah mevonisnya.
Tapi Ray kekasihnya tidak tau,karena Tere ngga mau lihat kekasihnya itu bersedih karena Ray adalah seorang remaja tampan,keren yang menjadi idola wanita di sekolahnya tetapi Ray tidak peduli orangnya,Ia sangatlah cuek dan jutek dan ia hanya punya 1 sahabat disekolah ini.
Ray sangat bosan tidak ada teman,oscar sahabatnya sedang di lab Ipa dan Tere kekasihnya sedang pelajaran olahraga sedangkan Ray sendiri tidak ada pelajaran.
jadi ia memutuskan untuk membaca komik di taman.
dari arah kejauhan Dinda sahabatnya Tere berlari dengan kencangnya dengan berwajah sedih menghampiri Ray di taman.
"Ray... Ray....!" Terdengar suara teriak-teriak dan cempreng dari kejauhan
"Ada apa?"Ray menjawab dengan malas
"Tere pingsan,dia kambuh lagi dan sekarang kondisinya sangat kritis di rumah sakit."
Dengan cepat Ray menjawab dengan nada bingung dan cemas"Hah... kambuh apanya?"
"Lah... kamu ngga tau Tere kan punya penyakit berbahaya dan umurnya...."
Belum selesai ngomong Ray sudah lari meninggalkan Dinda
"udah tanggepannya gitu dong???"Dengan sinis Dinda mengeluh dengan nada cape ketika Ray sampai di rumah sakit terlihat air mata yang tumpah dari wajah manis ibunya Tere di situ terlihat ada seorang dokter yang sedang memberitahu berita duka tersebut.
Ray tidak sengaja mendengar percakapan mereka dan mendengar kalau Tere sudah meninggal,Ia terjatuh dan wajahnya memucat. dan ia segera lari meninggalkan tempat itu.
Dengan baju berantakan dan mata yang sembab Ray datang kepemakaman Tere.
Semenjak itu Ray tidak suka 2 tempat bahkan ia benci yaitu Rumah sakit dan pemakaman.
Dalam perjalanan pulang Ray menyetir mobilnya dengan perasaan tidak percaya kalau Tere kekasihnya sudah tiada, lalu ia membuka handphonenya dan melihat wallpaper handphonenya yaitu photo Ray dan Tere yang sangat bahagia tetapi sekarang sudah tiada. dan tiba-tiba ia memberhentikan laju mobilnya itu dan memparkirkannya dipinggir jalan,ternyata Ray melihat Tere yang sedang berjalan membawa barang belanjaan.
Ray menyentuh pundak cewe itu"Tere?" lalu cewe itu membalikan badannya tetapi belum sempat ngomong Ray sudah memeluknya dengan erat.
"Hey Hey Hey.... saya bukan tere, saya Imel!" Imel langsung melepaskan pelukannya dari Ray dengan wajah kesal
"Gila cewe itu mirip banget sama Tere"Ray berbicara dalam hatinya
"Hellow... kok ngelamun? sudah dulu yah saya buru-buru" belum sempat membalikan badannya Ray sudah menarik tangan Imel.
"EEHH.... kamu mau culik saya yah?TOLONG..TOLONG!!" Imel berteriak dengan maksud minta bantuan tetapi jari telunjuk Ray dengan cepat hinggap di mulut Imel yang kecil mungil itu.
"Saya bukan orang jahat udah ikut aja saya mau nganterin kamu pulang"
Imel melihat Ray yang begitu baik dan caranya memperlakukannya tadi,Imel merasa hatinya seperti tempat latihan tinju DAG DIG DUG DAG DIG DUG.
Setelah sampai di rumah,Imel selalu memikirkan kejadian tadi,dan itu membuat Imel menjadi galau antara mau menelepon Ray atau tidak. tadi sebelum Ray pulang Ray memberikan nomor HPnya dan Imel di suruh nelpon.Imel memutuskan untuk menelpon saja.
"Hai ini pasti Imel kan?" sahut Ray dari dalam HP Imel
"i..iaa Ray,ada apa kok tadi suruh nelpon sih?" hatinya bergemuruh lagi
"hmm... suka pantai? kepantai yu besok?
"Tawaran yang menarik,boleh deh"
"Oke sampai ketemu besok ya"besok Ray bahagia banget
Inel langsung mematikan telponnya dan langsung lompat-lompat di atas kasur tapi Imel tiba-tiba terjatuh dari kasurnya.
keesokan harinya Ray menjemput Imel di rumahnya dan langsung melanjuttkan perjalanannya kepantai. diperjalanan mereka semakin akrab
"Ray waktu itu kenapa kamu panggil saya Tere?Tere itu kekasih kamu ya?"
Dengan nada sedih banget Imel bertanya dan Ray pun menjawab dengan sedih juga
"ga usah dibahas,dan saya ga punya pacar!!"
karna melihat wajah Ray yang sudah tidak enak di lihat, Imel langsung melupakan pertanyaan tadi dan diam hanya menatap jalanan.
sesampanya dipantai Ray melihat Imel yang berbahagia dan terlihat sangat ceria, Ray langsung membuka pembicaraan.
"Mel... maaf ya tadi jutek,sekarang kalau bisa kamu kejar aku ya kita main air disana"sambil menunjuk ke arah pinggir pantai
"iya gapapa kok...eh nantangin ya"mereka berdua berkejar-kejaran
Ray mencipratkan air kearah Imel,begitu pun sebaiknya.tidak terasa mereka berdua sudah basah dan akhirnya mereka bergegas pulang karena takut masuk angin.
di dalam perjalanan Imel bercerita tentangnya dan keluarganya bahkan sekolahnya.
tapi Ray tidak bercerita apa-apa ia hanya menjawab cerita dari Imel,kalau ia cerita ia ingat lagi sama Tere.
"Mel...makasih ya buat hari ini"Ray tersenyum bahagia
"iya Ray makasih juga saya senang banget hari ini"
akhirnya percakapan mereka selesai disitu karena ternyata sudah sampai rumah Imel.
Sudah berapa bulan mereka kenal dekat akhirnya cinta yang susah payah di bangun oleh Ray tumbuh. Tapi sejak awal Imel sudah jatuh cinta pada Ray. semenjak mereka dekat
Ray semakin tidak perduli dengan cewe-cewe yang menyukainya.maka dari itu cewe-cewe benci sama Imel. karna diketahuinya sekolah Imel tidak jauh dari sekolahnya maka mereka memutuskan untuk melabrak Imel. tapi tidak diduga kalau wajahnya sangat mirip dengan Tere. lalu mereka menyimpulkan kalau Ray suka dengan Imel karna Imel mirip dengan Tere.
"HEH... lo Imel kan? cowo lo Ray ga pernah cinta sama lo sebagai Imel tapi sebagai Tere yang mukanya sama percis sama lo!!" dengan wajah sinis salah satu dari mereka berbicara.
"HAH???
saya bukan cewenya Ray??"tapi mendengar cerita mereka Imel langsung meninggalkan mereka dan lari pulang ke rumah dan mendorong Ray yang kebetulan sudah sampai dan berdiri diluar gerbang. Ray mengejar Imel dan menarik tangannya Imel dan memasukannya ke dalam mobil dengan susah payah dan menguncinya.
"Mel,Mel,Mel, tenang dulu apa salah saya?". Dengan wajah was-was, bingung,sedih,Ray memegang tangan Imel yang masih tidak bisa diam dan ingin keluar.
"kamu ga pernah akan bisa terima saya sebagai Imel?saya Imel.....bukan Tere!!!kaya teman kamju bilang tadi.
"kamu jahat Ray,jahat....!"teriak Imel,membuat Ray takut untuk menceritakan kebenaraannya,tapi Ray memaksakan dirinya bercerita kepada Imel.
"I...Iaamel kamu benar! tapi itu dulu sekarang cinta itu tumbuh di hati saya,saya susah payah membangun cinta itu dan sekarang saya cinta benar,benar cinta Imel bukan Tere. Tere masa lalu dan kamu masa depan Mel",Imel hanya bisa diam dan Ray mengelus rambut Imel dan memeluknya.
"Mel... dulu setelah Tere tinggalin saya selama-lamanya, hati saya benar-benar kaya kertas kosong dan kamu datang menuliskan cinta di hati saya.
"kamu mau kan jadi pena yang menuliskan cinta di haiku?"Ray bertanya dengan penuh pengharapan besar Imel mau mengarti.akhirnya Imel pun mengarti dan ia mengangguk lalu tersenyum lebar lalu mereka keluar untuk memberitakannya pada cewe-cewe itu. Ray dan Imel bergandeng tangan sambil tersenyum ke arah cewe-cewe yang dari tadi berdiri diam melihat tingkah Imel dan Ray sekarang, amarah cewe-cewe rese itu meningkat,melihat Ray dan Imel sudah pacaran.
"Rayyy...",teriak mereka hanya membuat Ray dan Imel tertawa dan Ray pun mengatakan sesuatu yang membuat cewe-cewe itu terdiam.
"MASALAH BUAT LO??!!", dengan nada yang sedikit beban. lalu Ray dan Imel pun kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan pulang dengan tertawa mengingat wajah cewe-cewe itu yang lagi marah, udah kaya macan garong marah,coba bayangin pasti serem banget
Shierly
Kelas XI IPS
Nama ku Jerry, aku seorang anak laki-laki berumur 17 tahun. Aku merasa hidupku sempurna karena aku memiliki semua yang aku mau terlebih aku adalah anak tunggal. Aku memiliki prestasi yang lumayan bagus meskipun aku jarang belajar, aku menganggap keberuntungan hanya milikku seorang. Yang aku tau Tuhan hanya sayang padaku karena aku adalah manusia paling sempurna, aku jarang melakukan perbuatan dosa dan selalu memperbaikinya. Kegiatan sehari-hariku hanya sekolah dan rumah, dan pekerjaan ku hanya belajar dan bermain games. Papah dan mamah selalu membanggakan aku. Hari ini aku pergi sekolah seperti biasanya di antar oleh mamah, aku selalu datang tepat pada saat bel masuk berbunyi karena aku tidak suka datang pagi-pagi. Jam pelajaran pertama di mulai dengan pelajaran matematika, aku merasa aku tak perlu mendengarkan ataupun memperhatikan penjelasan guru karena aku sudah memahami materi itu. Jadi aku hanya menggigiti kuku ku sambil membaca komik dan tiba-tiba penghapus melayang di kepalaku.
“Jerry... Bapak perhatikan dari tadi kamu hanya menggiti jarimu sambil membaca komik. Apa kamu sudah merasa pintar sampai kamu tidak memperhatikan pelajaran Bapak?” tanyanya dengan nada marah dan mata yang membesar. Melihat itu aku hanya menundukan kepala dan terdiam. “kamu sudah sering melakukan hal ini pada saat jam pelajaran saya, jika kamu tidak suka kamu boleh keluar dari kelas saya”
“aku suka kok dengan pelajaran Bapak” jawabku.
“Tapi saya merasa tersinggung oleh sikap kamu barusan, kamu harus minta maaf dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya. Percuma kamu pintar jika sikapmu seperti ini!”
“Ia, maaf pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi”
“Ini peringatan saya yang terakhir, jika kamu melakukannya lagi Bapak tidak akan segan-segan untuk mengeluarkanmu dari kelas Bapak” ancamnya.
“Baik pak” jawabku santai.
Di kelas aku tidak mempunyai teman karena aku merasa tidak membutuhkannya, setiap jam istirahat aku selalu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Teman-teman suka mendekatiku, namun aku selalu menjauh dari mereka. Teman hanyalah akan membawa dampak buruk untukku dan mereka hanya akan menyusahkanku seperti anak laki-laki yang duduk di sebelahku ini.
“Jerry, aku gak ngerti nih sama pelajaran matematika. Kamu kan pinter, jadi ajari aku ya” pintanya.
“Hah... ngajarin kamu? Satu abad aku ngajarin kamu juga percuma, kamu gak akan ngerti”
“kok kamu ngomongnya gitu? Aku kan mintanya baik-baik” dia agak kesal.
“Mending kamu pergi dari hadapan aku sekarang dari pada kamu ganggu waktu aku” dia melangkah pergi dengan raut wajah yang agak kecewa dan agak marah.
Bel pulang berbunyi, saat doa pulang selesai ada sebuah pengumuman.
“Minggu depan sekolah kita akan mengadakan bakti sosial di panti asuhan, maka untuk itu setiap anak di harapkan dapat menyumbangkan baju-baju bekas yang masih layak di pakai atau makanan. Dan setiap kelas majib mengirimkan perwakilan untuk membantu di acara bakti sosial tersebut. Demikian pengumuman ini dan terima kasih” anak-anak langsung ribut. Entah karena mereka ingin memberiku pelajaran atau apa, namun mereka mengusulkan kepada wali kelas agar yang menjadi perwakilan adalah aku. awalnya aku menolak, namun karena di desak oleh wali kelas maka dengan sangat terpaksa aku menyetujuinya.
***
Di Panti Asuhan aku hanya duduk sambil melihat anak-anak yang sangat gembira dengan kedatangan kami, anak-anak panitia mengajak mereka bermain dan membagi-bagikan pakaian dan makanan. Aku merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini, anak-anak saling berebut untuk mendapatkan baju bekas dan makanan. “makanan kecil dan pakaian bekas untuk apa di perebutkan?” pikirku.
“Jer, kamu ngapain di sini? Kenapa gak bantu yang lain atau kamu ngajak anak-anak main gitu” Citra sedikit menegurku, dia adalah ketua panitia dalam acara ini.
“Emang penting?” tanyaku dengan santai.
“Hah... kamu nanya gitu, gak salah?” Citra heran.
“Salah? Ia salah, aku salah udah mau dateng ke sini” aku sedikit kesal.
“Kita ke sini buat acara bakti sosial, kalo kamu gak suka kamu boleh pulang kok. Lagian percuma kamu ada di sini karena kita Cuma butuh orang-orang yang punya rasa kemanusiaan” tegurnya.
“Ok, aku pulang” dengan rasa kesal karena mendengar perkataan Citra barusan aku melangkah pergi mencari taxi untuk pulang. Sesampainya di rumah aku terus mengomel karena masih kesal, maka akupun memutuskan tidur untuk menenangkan pikiran. Saat aku tertidur lelap aku merasakan ada goncangan, semua barang-barang yang ada di meja belajarku berjatuhan ke lantai. Aku segera terbangun dan berlari ke luar, ternyata itu adalah gempa bumi dengan kekuatan yang lumayan besar. Aku melihat kedua orang tuaku tertimbun oleh reruntuhan rumah yang ambruk dalam sekejap, di saat aku ingin menolong mereka aku terjatuh dan kakiku terkena reruntuhan. Karena tak mampu menahan rasa sakit akupun jatuh pingsan.
***
Saat aku tersadar aku melihat orang-orang di sekelilingku menjerit kesakitan dan mereka menangis mencari keluarga mereka. Banyak para dokter yang di kerahkan untuk mengobati para korban yang ada di sini. Tiba-tiba ada satu dokter yang mendekatiku.
“Kamu sudar sadar dik?”
“Kenapa aku di sini? Kemana papah dan mamahku? Aku gak suka berada di tempat ini, aku mau pulang!” aku sedikit memaksa.
“Di sini adalah tempat penampungan, daerahmu terkena gempa bumi. Kami menemukanmu saat kamu pingsan karena kakimu terjepit oleh reruntuhan rumahmu. Kami belum menemukan keluargamu, namun kami akan berusaha semampu kami untuk mencariya” dia menepuk pundakku dan melangkah pergi.
“Gak mungkin... ini pasti mimpi, aku gak mungkin berada di tempat seperti ini dan aku gak mungkin kehilangan orang tua ku. Aku adalah orang yang paling beruntung di dunia, jadi gak mungkin semua ini terjadi” aku menangis dan menutup mataku berharap semua ini hanyalah mimpi, tak lama kemudian aku membuka mataku dan semua belum berubah. Aku masih berada di tempat yang mengerikan ini, maka akupun mencoba bangun karena ingin mencari orang tuaku. Namun di saat aku ingin menggerakan kakiku, aku tak mampu melakukannya. Aku melihat kakiku yang di perban dan mananyakannya pada dokter yang lewat.
“Dok, apa yang terjadi dengan kakiku?” aku panik.
“Kakimu terjepit reruntuhan yang mengakibatkanmu tidak dapat berjalan lagi” wajahnya mengisyaratkan bahwa dia juga ikut sedih dengan keadaanku.
“Semua gak mungkin terjadi, aku adalah orang terberuntung di dunia ini. Jadi gak mungkin aku mengalami semua kejadian ini, GAK....!” aku menjerit dan meneteskan air mata.
“Tapi inilah kenyataan yang harus kamu terima, semua gak mungkin dapat kita ubah. Dan kita tak mungkin untuk menyangkalnya” Dokter mencoba menyadarkanku.
Berhari-hari aku hanya tertidur di tempat tidur sambil menangis. Bantuan makanan, pakaian, dan air bersih dari pemerintah tak kunjung datang. Kami mulai kekurangan, aku merasa sangat sedih dan belum bisa menerima semua kenyataan ini. Aku tidak pernah berfikir akan mengalami semua ini, aku gak sanggup bila aku harus hidup dengan kekurangan seperti ini dan aku tidak mempunyai siapa-siapa saat ini.
“Hay... gimana kaki kamu, udah baikan?” tanya Deven, cowok yang waktu itu minta ajarin matematika. Tapi aku malah menyuruhnya pergi.
“Ngapain kamu nanya-nanya, emang penting buat kamu?” jawabku ketus.
“Dalam keadaan seperti ini kok sikap kamu gak berubah? Aku di sini juga sama seperti kamu, aku juga korban gempa bumi dan harus mengungsi di sini karena tidak ada tempat untukku. Aku ke sini sebagai temen kamu, tapi kalau kamu ngusir aku lagi aku akan pergi kok” tiba-tiba ada seorang sukarelawan yang mendatangi kami.
“Kami sudah menemukan orang tuamu dengan keadaan tertimbun reruntuhan dan nyawa mereka tidak dapat kami selamatkan, kamu harus bersabar untuk menghadapi semua ini”
“Apa kamu seorang dokter?” tanyaku.
“Ia, saya seorang Dokter yang ikut membantu mencari para korban”
“Kalau kamu seorang dokter seharusnya kamu bisa menyelamatkan orang tuaku, bukankah itu tugas kalian!” aku marah padanya.
“Walaupun saya seorang Dokter, tapi saya tidak bisa membangunkan orang yang sudah meninggal. Hidup atau mati itu ada di tangan Tuhan, bukan saya” jelasnya.
“Kamu tau, Tuhan sangat sayang padaku, jadi gak mungkin jika dia melakukan semua ini!”
“Ya, Tuhan memang sayang padamu karena sampai sekarang kamu masih bisa menikmati udara”
“Tapi percuma jika aku tak mempunyai apa-apa, dari pada hidupku seperti ini lebih baik aku mati bersama orang tuaku” amarah yang tak dapat ku lukiskan. Melihat keadaanku yang seperti ini dokter meninggakanku berdua bersama Deven.
“Orang tua ku juga meniggal dalam gempa ini”
“Tapi kenapa kamu masih bisa tersenyum?” tanyaku heran.
“Untuk apa aku bersedih, walaupun aku nangis darah bukankah mereka tetap tak akan hidup lagi?” Deven menepuk bahuku. “Jerry, ikhlaskanlah orang tuamu agar mereka tenang di sana” kata-kata itu memang ada benarnya.
“Dev, antarkan aku melihat jenasah orang tuaku” Deven menggendongku karena aku tidak dapat berjalan dan di sini tidak ada kursih roda. Aku menangis di depan jenasah mereka.
Berhari-hari aku meneteskan air mata sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan kondisiku sekarang.
Mobil yang mengantarkan bantuan akhirnya datang juga, aku melihat banyak orang-orang yang bergembira dengan kedatangan bantuan ini. Aku juga ingin mengambilnya karena aku juga lapar dan membutuhkan pakaian, namun aku tak dapat berjalan. Tiba-tiba Deven menghampiriku.
“Jerry, nih makanan dan pakaian untuk kamu” Deven memberikannya padaku. “tadi aku mengambilkan untukmu”
“Dev, kenapa sekarang keadaannya terbalik?”
“Apa maksud kamu?”
“Dulu saat aku membantu memberikan sumbangan pada anak yatim piatu. Aku pernah berfikir untuk apa mereka bergembira padahal hanya makanan kecil dan pakaian bekas, jika membelinya harganya hanya seberapa. Namun mengapa sekarang aku berada di posisi anak yatim piatu itu?” aku menangis. ”dulu saat kau meminta bantuanku, aku tak membantumu. Aku berfikir tak ada gunanya aku membantumu, namun saat ini aku yang membutuhkanmu dan kamu malah menolongku”
“Itulah yang namanya roda kehidupan. Kita tak selamanya berada di atas, karena roda itu terus berputar dan ada kalanya kita yang berada di atas. Makanya jangan sombong dan sering-seringlah menolong sesama yang sedang kesusahan”
“Dev, makasih ya” aku memeluk Deven.
“kita akan berusaha supaya kita dapat kembali seperti dulu” Deven tersenyum.
“Dulu aku sering menyepelekan pelajaran karena aku sudah memahaminya. Namun sekarang aku ingin bersekolah lagi, aku ingin belajar. Tapi sekolahan kita sudah hancur” penyesalan yang tak ada gunanya, namun begitu sanagat terasa di hati.
“Kamukan pinter, gimana kalau kita ngajar anak-anak yang masih kecil di penampungan ini. Walaupun tak seberapa yang dapat kita ajarkan, namun setidaknya dapat berguna bagi masa depan mereka” usulan Deven
“Boleh juga”
Akhirnya aku mengajar anak-anak setiap pagi di penampungan, dengan harapan masa depan mereka tak akan hancur seperti daerahku yang hanya tinggal kenangan. Penyesalan memang tak akan mengubah apa yang telah terjadi, namun dengan penyesalan kita dapat memperbaiki kesalahan kita dan menjadikannya sebagai pembelajaran.
***END***
Nama: Suslia Dwi Ati S.E
Kelas : XB
Deven, cowok yang aku dambakan untuk menjadi kekasih hatiku. Aku menyukainya sejak kita duduk di kelas lima SD sampai saat ini kita sudah duduk di kelas satu SMA, waktu yang begitu lama namun rasa suka itu tak pernah pudar sedikitpun. Walaupun begitu Deven tak pernah tau perasaanku yang sesungguhnya karena dia hanya menganggapku sebagai teman dekatnya. Saat malam tiba Deven suka mengajakku melihat bintang di halaman depan rumahku, dia sangat suka dengan bintang sirius. Bintang yang paling terang jika di lihat dari bumi, namun bagiku bintang yang paling terang adalah orang yang saat ini sedang duduk di sebelahku.
“Lihat! Bintang siriuslah yang paling terang, kamu suka bintang apa?”
“Entahlah, semua bintang itu indah. Namun aku tak mampu menggapainya, jadi percuma saja aku menyukainya”
“Tapi kita dapat melihat keindahannya” protesnya.
“Semakin aku melihatnya maka semakin ingin aku memilikinya”
“Sepertinya kau bukan sedang membicarakan bintang”
“Bintang itu sesuatu yang indah, namun aku tak dapat menggapainya. Jadi, percuma saja aku mengaguminya” keluhku.
“Apa kau sedang patah hati? Sebenarnya kau menyukai siapa? Mengapa kau tidak menceritakannya padaku?” Deven memberiKan pertanyaan yang sulit untukku.
“Itu masih rahasia, nanti jika tiba waktunya kau pasti mengetahuinya kok” andai kamu tau isi hatiku.....
***
Setiap hari aku hanya mampu memandangi Deven dari kejauhan karena sekarang Deven sedang mendekati perempuan yang dia sukai. Semenjak perempuan itu hadir diantara aku dan Deven, Deven jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama dia. Sedangkan aku hanya memandangi mereka sambil menahan air mata. Hati ini memang terasa begitu sakit saat melihat mereka, namun aku tak dapat melakukan apa-apa selain terdiam dalam kesedihan. Aku hanya mampu mengungkapkan kesedihan itu melalui buku harian yang aku tulis setiap malam. Besok adalah hari ulang tahunku, biasanya Deven adalah orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Maka, aku berangkat sekolah pagi-pagi sekali karena tidak sabar ingin mendengar kata-kata Deven saat mengucapkan selamat ulang tahun. Aku melihat Deven sedang berjalan bersama perempuan itu.
“Pagi yang indah ya?” Deven sangat bersemangat.
“Ia, berbeda dari hari biasanya”
“Ialah, soalnya hari ini adalah hari yang paling bersejarah untukku”
“Kenapa?” aku sudah tidak sabar.
“Karena hari ini aku jadian sama Filli, seneng banget deh rasanya. Soalnya dia adalah pacar pertamaku” belum pernah aku melihat Deven segembira ini.
“Oh, kamu jadian sama perempuan yang kamu suka itu waah.... berarti hari ini aku dapat makan siang gratis dong...” walau berat aku mencoba tersenyum karena yang aku ingin berikan untuknya hanyalah senyuman termanisku. Walaupun senyuman itu menandakan bahwa sinar bintangku telah redup. Berita ini menjadi kado terpahit yang pernah aku terima dan tanpa Deven sadari dia melupakan hari ulang tahunku.
***
Semakin hari aku merasa dilupakan oleh Deven, waktunya hanyalah untuk Filli. Tanpanya aku seperti sedang berada dalam ruangan kecil tanpa jalan keluar. Apa seorang sahabat yang sudah lama ia kenal hilang begitu saja dari pikirannya hanya karena seorang kekasih? Aku semakin sedih dan kecewa atas sikapnya itu, hingga aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya.
“Dev, aku ingin tau seberapa berharganya perempuan itu di mata kamu sampai-sampai kamu melupakan aku”
“Apa maksud kamu?”
“Dev, kamu sadar gak sih kalau waktu kamu itu hanya untuk dia, kamu gak pernah punya waktu untuk aku lagi!” aku sedikit kesal.
“Tapi menurut aku itu adalah hal wajar karena sekarang aku sudah mempunyai pacar. Lagian kamu harus sadar bahwa gak selamanya kita akan selalu bersama, jalan hidup kita berbeda. Cepat atau lambat kita juga akan berpisah”
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa maksud kamu cepat atau lambat kita akan berpisah?” aku merasa heran dan tidak percaya apa yang telah dikatakan Deven padaku.
“Karena aku lebih suka bergaul dengan orang yang mempunyai hobi, tujuan hidup, dan mempunyai cita-cita yang sama denganku. Kamu dan aku bertolak belakang dalam hal itu, tapi Filli sama denganku. Sehingga aku lebih suka bersamanya dari pada kamu. Perbedaan hanya akan menjadi batu sandungan bagiku, aku harap kamu bisa memahaminya” Deven memalingkan wajahnya dari hadapanku.
“Ta...ta...pi... kenapa?” suaraku tersendat mendengar perkataan Deven.
“Karena perbedaan tak pernah bisa bersatu, perbedaan hanyalah akan menjadi hal yang membuat kita saling membenci”
“Dev, bukannya kita semua di ciptakan dengan penuh perbedaan agar kita dapat saling melengkapi?”
“Perbedaan itu bagai api dan air yang tak pernah bisa bersatu, jika mereka bersatu bukankah hanya air yang dapat bertahan sedangkan api itu akan mati. Tetapi jika kita sama bukankah akan semakin kuat” jelasnya.
“Oh, jadi itu alasan kamu. Ok, aku terima. Tak ku sangka kamu jadi seperti ini, ternyata persahabatan kita selama ini tak berarti apa-apa di matamu. Terima kasih untuk segalanya dan semoga kamu bahagia bersama pilihan kamu” aku melangkah pergi dengan penuh rasa kecewa.
Bintang yang selalu aku dambakan kini semakin jauh dari jangkauanku, bahkan aku tak yakin dapat melihat keindahan sinarnya lagi. Karena ia tak bersinar untukku lagi, melainkan untuk orang lain.
***
Tak terasa tiga tahun telah berlalu, hari ini adalah hari kelulusanku. Semenjak Deven menjelaskan bahwa ia tak mau berteman lagi dengan orang yang mempunyai perbedaan aku tak pernah lagi bermain bersamanya. Disaat aku bertemu dengannya aku tak dapat menahan air mataku, karena sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya. Setelah pengumuman kelulusan aku akan pergi ke Malaysia untuk melanjutkan kuliah, namun sebelum aku pergi ada satu hal yang mengganjal dalam benak dan hatiku yaitu Deven. Maka aku menulis surat untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku.
“Dev, apa aku boleh bicara sama kamu” pintaku.
“Ada apa lagi? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi”
“Ia, aku tau. Tapi izinkan aku bicara untuk yang terakhir kalinya sama kamu”
“Mau ngomong apa?” jawabannya ketus.
“Aku akan melanjutkan kuliah di Malaysia, entah berapa lama kita bisa bertemu lagi. Tapi ada satu hal yang mengganjalku, aku menuliskannya di kertas ini” aku memberikan kertas padanya. Aku menulis surat ini pada kertas lusuh yang ternoda air mata. ”Aku harap kau mempunyai waktu untuk membacanya. Oh ia, terima kasih telah menjadi temanku dan terima kasih juga untuk segalanya yang membuat hidupku lebih berarti” aku melangkah pergi meninggalkannya dengan air mata yang berlinang membasahi pipiku. Setelah aku pergi Deven membaca suratku.
Dear, Deven
Dev, mungkin bagimu aku tak berarti apo-apa. Namun, bagiku kau adalah seseorang yang sangat berharga bagiku. Dev, awalnya aku tak tau apa itu cinta. Namun, saat ku melihat senyumanmu aku merasa bahagia, kau membuatku gelisah saat kau tak ada, kau membuatku menangis, kau membuatku cemburu saat kau bersama Filli, kau membuatku bodoh saat aku aku dapat menerima kenyataan bahwa kau bukan milikku, kau membuatku takut untuk kehilanganmu. Dari situ aku baru menyadari bahwa aku menyukaimu, aku tau aku terlambat mengatakannya dan aku tau rasa ini salah. Namun, terlambat atau tidak bukankah itu sama saja, karena menurutmu aku dan kamu itu berbeda dan perbedaan itu tak dapat di persatukan. Jadi percuma saja aku mengatakannya, tapi aku ingin lewat surat ini kamu bisa tau isi hatiku. Awalnya aku tak dapat menerima kenyataan bahwa kamu sudah menjadi milik orang lain, aku hanya menganggapnya sebagai mimpi buruk. Aku terus mendekatimu, namun kau malah menjauhiku. Kau tau saat kau berada di depanku rasa sakit ini sangat terasa menyakitkan, namun aku berharap bahwa semua ini akan berubah. Aku berharap bahwa kita dapat bahagia bersama selamanya. Saat ini aku merasa lelah untuk menunggumu, aku merasa aku tak mempunyai harapan lagi untuk bersamamu. Aku mencoba untuk menerima kenyataan meskipun sangat sulit untuk aku lakukan. Karena aku tak ingin hidup dalam bayang-bayangmu terus. Namun, aku akan selalu membawa bintangku yang redup dalam hatiku. Aku akan melanjutkan kuliah di Malaysia aku harap kamu tidak melupakan kenangan kita dulu ya, karena bagiku kenangan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Terima kasih untuk segalanya....
Sahabatmu,
Setelah membaca surat itu Deven tersungkur di lantai dan menangis.
“Kenapa kamu harus pergi?” Deven menutupi wajahnya dengan tangan, “kenapa aku merasa sedih dengan semua ini?” Deven mencoba merenungkan apa yang ia rasakan.
Dua hari Deven tidak keluar kamar karena terus memikirkannya. “Sekarang aku baru menyadari bahwa aku terlalu egois, aku baru menyadari bahwa dengan kesamaan yang aku milikki dengan Filli justru membuat hidupku tidak berwarna meskipun terasa nyaman. Namun, ketika aku berada dalam sebuah perbedaan dan mencoba memahaminya aku merasa hidupku terasa lebih berwarna” air matanya kini mengalir membasahi pipinya tanpa ia sadari. “mengapa aku tak pernah memikirkan perasaannya? mengapa aku membiarkannya menangis seorang diri? mengapa aku membuatnya terluka?” pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dari dalam hatinya meskipun terasa terlambat, dan waktu tak akan pernah terulang. Maka, Deven ingin mencoba memperbaikinya dan ia akan menunggu sahabat sejatinya itu kembali dari Malaysia dan Deven menyadari bahwa yang ia cintai adalah sahabatnya sendiri bukan Filli. “Sahabat itu akan menjadi sahabat sejatiku, dia yang akan mendampingiku hingga akhir hayatku dan aku akan terus menunggunya hingga ia kembali. Dialah bintang sejati yang bersinar terang di dalam hatiku”
---END---
Oleh : Suslia Dwi Ati S.E
Kelas: XB
Aku punya teman dekat masa kecil bernama Hendra. Suatu saat di desaku ada pertandingan bulutangkis antar pedukuhan (bagian kecil dari desa) untuk meramaikan acara tujuhbelasan. Dari kecil aku diajarkan olahraga tenis meja oleh ayahku. Pretasikupun tidak buruk-buruk amat waktu itu. bisa ikut porseni SD mewakili kota saat kelas 3, membuat aku bisa menginjakan kaki di kota Manado. Pestasi tertinggiku yang lain adalah juara 3 kejuaraan tenis meja sekota saat kelas 4 SD. Meski hanya tingkat kota, aku cukup bangga karenanya itu medali pertamaku.
Kembali kecerita bulutangkis. Aku waktu itu tidak boleh ikut tim di desaku meski cuma untuk latihan. Aku dianggap anak kecil yang cuma bisa tenis meja. Namun keadaan itu justru membuat aku berfikir. Bersama Hendra teman kecil ku itu, aku bermain-main selayaknya pemain bulu tangkis sungguhan, kami sering menggunakan bambu tempat jemuran baju sebagai Net kadang-kadang juga jemuran tetangga. Namun karena merasa mengganggu tempat menjemur, lalu kami membeli tali rafia dan merajutnya menjadi sebuah net bulu tangkis. Dikebun pepaya sebelah rumah Hendra yang juga tetangga rumahku, kami berdua membuat lapangan kecil. Diantara rimbun nya pohon-pohon pepaya, kami menyapu dan membersihkan kebun untuk tempat kami bermain-main, kebetulan pada saat itu orang tua Hendra membelikan dua buah Shuttlecock. Kami memasang net rafia rajutan kami diantara dua batang pohon pepaya, dan untungnya juga kami berdua mempunyai raket masing-masing. setiap sore, sebelum orang-orang dewasa latihan, aku dan Hendra bermain pertandingan bulu tangkis dikebun itu, sesekali kami berpasangan melawan teman yang lain, Okto dan Mikel. Setelah dilapangan orang-orang dewasa mulai berkumpul dan berlatih.
Selang waktu berganti, aku lulus SD. Sebelum nya kegiatan tenis mejaku mulai berhenti karena aku harus konsentrasi EBTANAS waktu itu. Karena berhenti kurang lebih 1 tahun, aku jadi malas untuk memulai nya lagi. Waktu awal SMP aku sempat bermain tenis meja lagi, karena ada kejuaraan antar sekolah dan pemilihan bibit unggul. Aku kalah, saat itu aku belum berpikiran untuk bulu tangkis, hingga suatu ketika ayahku bilang,
"biaya ikut tenis meja mahal nak, bapak keberatan, lagi pula kamu sudah tidak berkembang lagi dicabang itu" Aku cuma bisa ikuti kata-kata itu, lagi pula aku belum bisa mikir bagaimana masa depan ku.
Kebetulan di SMP saat itu ada Class Meeting bulu tangkis. karena aku dipaksa oleh salah satu guruku aku ikut tim sekolah.
Disitulah aku mulai tau bulu tangkis. sepatu yang dulu aku pakai untuk tenis meja, sekarang aku pakai untuk bulu tangkis, sejak kelas 2 SMP itu aku mulai ikut beberapa pertandingan bulu tangkis antar SMP. Hal yang aku ingat hingga sekarang adalah waktu tim SMP ku berlatih tanding melawan SMP tunas bangsa dihalaman belakang toko. Itu pertandingan pertama ku, aku sangat senang sekali bermain di single/tunggal karena menurutku sektor itulah yang sangat aku bisa kuasai.
Melihat aku sering bermain bulu tangkis, aku dibelikan sepatu merk Flypower oleh ayahku. Aku mulai ikut didaftar masuk di PB Raja Wali untuk berlatih.
Baru beberapa bulan bergabung, aku harus kembali konsentrasi ujian EBTA dan EBTANAS SMP, sehingga aku harus meninggalkan hobi baru ku itu.
Akhirnya aku lulus dengan nilai terbaik ke-3 sekecamatan, aku mendapatkan tawaran untuk melanjutkan di SMU Atlet Tahuna, Sulawesi Utara, namun Ibu tidak mengijinkan dan akhirnya aku mendaftar di SMU Unggulan di Kota Manado. dan puji Tuhan aku diterima SMA Fransiskus Manado. Aku mendapat hadiah sepatu olah raga merk RS warna biru Size 44 dengan harga 49 ribu dari ayah ku, beli ditoko olah raga dekat rumah.
Sejak masuk SMA itulah aku bergabung dengan PB yang membesarkan aku hingga sekarang, PB Raja Wali. Disitu aku mulai mengikuti beberapa pertandingan penting tingkat daerah dan nasional.
Bahkan ditahun 2006 aku mulai mencicipi keras nya PON (Pekan Olah Raga Nasional) ke-16 di Kalimantan Selatan dan aku membawa Tim Sulawesi Utara masuk 4 besar. Diputaran pertama aku jadi pemain terbaik dan best, tapi akhir musim aku mendapat gelar di PON ke-16 itu dengan meraih medali perunggu, tapi aku sangat senang sekali dengan prestasiku bisa membanggakan provinsi ku di tingkat Nasional.
Ovelza
Kelas XII IPSA
"sayang, bangun", Sapa mama
"masih pagi ma, Oliv masih ngantuk", Oliv membalikan badannya
"ini udah jam 6 lebih sayang", mama berusaha membangunkannya
"APA...", Oliv berlari menuju kamar mandinya dengan segera,
Bagi Oliv mamanya adalah sesosok wanita hebat, beliau mampu meluangkan waktu untuk anak satu-satu nya disela kesibukannya membantu perusahaan papa.
"Oliv, cepat Glen sudah menunggu didepan", mama menyuruh Oliv untuk lebih cepat.
"iya mah", sambil terburu-buru menggunakan seragamnya
"maaf ya Glen, Olive lama soal nya tadi Olive kesiangan bangun nya", mama menghampiri Glen dengan senyum
"iya Tante gak apa-apa kok", balas Glen dengan senyum manisnya.
Mama dan Glen memang sudah dekat bahkan sebelum Oliv mengenal Glen.
"Olive sudah siap nih, yuk Glen, mah Oliv berangkat yah", Oliv menuju kedepan sambil membereskan rambutnya yang terurai panjang
"tante Glen pamit dulu ya", ajak Glen
"iyah kalian hati-hati yah", mamah melambaikan tangan nya
Glen Maharadika, dia adalah anak dari perusahaan terkenal. Orang tuanya juga sangat sayang padanya. Glen dididik dengan baik oleh papa nya.
"Oliv, sudah sampai nih, betah banget duduk dimobil", Glen tersenyum
"eh, iya", Oliv kembali tersenyum
Pelajaran pertama adalah pelajarannya Bu Siti, guru matematika yang paling bawel dan cerewet. Aku bahkan tidak pernah menyimak tiap kata yang dikeluarkan oleh beliau, melihat beliau saja aku rasanya sudah pusing.
"woi pasti melamun", tanya Angel
"he-eh gak terasa ya ngelamun aku begitu lama, sampe-sampe lupa kalau udah istirahat", Oliv membereskan bukunya
"ke kantin yuk, gw laper belum makan", ajak Angel sambil memegang perut nya
"yuk, gw juga laper", ajak Oliv
"hei, ikut dong", teriak seseorang dari belakang
"eh ada Glen ganteng", Angel mulai genit
"ayo, kan kalau rame pasti asik, coba kalau Jack juga ikut pasti makin asik lagi", Oliv mulai menghayal tentang Jack
"benarkan Glen", tanya Oliv
"eh, iya", Glen tersenyum terpaksa
Hati Glen terasa terbakar, "Oliv sekali-kali lo ngomong tentang gw kenapa? apa lo bener-bener Cinta mati sama Jack. Jack itu gak pantes buat lo", itulah yang ada dipikiran Glen saat itu.
"boleh gabung", mendengar suara dari belakang
"eh, Jack sini duduk disebelah gw", Oliv mendorong Glen agar menyisihkan tempat kosong disebelah Oliv
"thankyou cantik", Jack tersenyum
Oh MyGod, dalam hati Oliv seperti ingin teriak GW DIBILANG CANTIK, seperti melayang tubuh ini.
"Oliv lu gak apa-apa kan?", tanya Angel bingung
"he-eh gak apa-apa kok", Oliv tersenyum lebar tidak seperti biasanya.
"Jack", teriakan seorang cewek dan berlari mendekat
"hai, Sonia", sapa Jack terlihat ramah
"anterin gw ke perus yuk", ajak Sonia
"ok, guys gw duluan ya", Jack beranjak pergi
"kenapa sih Sonia pake acara ngajak Jack segala", Oliv kesal
"Liv, Jack itu pacar Sonia", ucap Glen pelan
"gak mungkin, buktinya mereka tidak mesra", Oliv semakin mempercepat makan baksonya
"Oliv", Glen mengambil tissiu lalu membersihkan mulut Oliv dengan lembut
Jantung Oliv berdetup kencang, ya Tuhan rasa pakah ini. kenapa sewaktu Jack duduk disebelah gw, gw gak merasakan ini. Aah, gw g boleh mikir yang aneh-aneh
"makasih Glen", Oliv mengambil tissiu dan mengelapnya sendiri
Setelah pulang sekolah, Glen seperti biasa mengantar Oliv pulang, dan selama perjalanan ternyata Oliv tertidur didalam mobil
"Oliv gw sayang sama lo", bisik Glen didekat Oliv dan mencium kening Oliv.
Sentak Glen kaget ketika mencium kening Oliv karena Oliv terbangun.
"Glen udah sampe yah", tanya Oliv sambil mengucek-ngucek matanya
"oh, iya nih lo sampe ketiduran ya", Glen mengacak-ngacak rambut Oliv
"maaf, abis capek", Oliv tertawa dan merapikan rambut nya.
Semalam Oliv teringat akan kejadian di kantin, apa gw memiliki perasaan pada Glen. TIDAK! diakan sahabat gw. Lagian gw kan naksirnya sama Jack.
Keesokan hari nya disekolah.....
"Angel anterin gw ke perpus yuk", ajak Oliv
"tumben lo keperpus, pasti ada apa-apa nih", Angel melirik sinis ke Oliv
"udah ikut aja", Oliv tersenyum
Sesampai diperpus Oliv melihat Jack sedang membawa buku, Oliv melihat kesekeliling, ternyata Jack sendirian.
"hai, Jack", sapa Oliv lembut
"hai, Oliv sini duduk bareng gw", ajak Jack
Tuh kan, kok gak ada perasaan yang menunjukan gw suka sama Jack. Oliv mencoba mengajak Jack ngobrol. Tiba-tiba Glen melewati perpus tanpa disengaja, Glen melihat Oliv dan Jack sedang tertawa. Tidak lama Glen langsung meninggalkan perpus dengan hati kecewa
Keesoksn harinya, Oliv tidak langsung menuju kelasnya tetapi menuju kelas jack.
""Pagi Jack", sapa Oliv dengan senyum kecilnya
"Pagi juga Oliv", Jack kembali menyapa Oliv
Rencananya pagi ini Oliv ingin menyatakan perasaan nya kepada Jack, tapi Sonia tiba menghanpiri Jack. Oliv langsung berlari menuju kelas nya. Bodoh, kenapa tadi gw lari kan gw mau mengucapkan perasaan gw.
Tidak lama kemudian bell istirahat berbunyi
"Oliv, makan bareng yuk", ajak Glen dengan senyum manisnya
"sorry Glen tapi gw lagi ada urusan penting sama Jack", jawab Oliv
"urusan apa", tanya Glen sedikit kecewa
"urusan hati, gw duluan yah", Oliv tersenyum dan langsung pergi menuju kelas Jack.
Glen seperti ingin bunuh diri rasanya, dia tidak tahan dengan ucapan Oliv. urusan hati, apa Oliv dan Jack sudah berhubungan, dan bukankan Jack masih dengan Sonia atau Jack putus dengan Sonia. Pikiran Glen menjadi semakin kacau.
"Liv, lo mau kemana?", tanya Angel bingung
"gw mau ngungkapin perasaan gw sama Jack", jawab Oliv
"yasudah, semoga berhasil yah", Angel menyemangati Oliv
Oliv mulai berjalan menuju kelas Jack, seketika melewati laboratorium mata Oliv tersentak melihat seseorang sedang berciuman, Oliv segera mundur kebelakang dan mencoba melihat seseorang ternyata Jack dan Sonia. Oliv langsung berlari sambil menangis.
"Liv , lo kenapa nangis, lo ditolak Jack?", tanya Angel heran
"ngel,gw ngelihat Jack dan Sonia ciuman di Lab ", Oliv kembali menangis dan memeluk Angel yang ada dihadapan nya.
"lo yang sabar ya, kan masih ada gw sama Glen", Angel mencoba menenangkan pikiran Oliv
"oh iya, Glen kemana Angel?", Oliv mulai menghapus air matanya.
"gw ga tau Liv, soalnya dari tadi juga gw ga liat Glen",
"ya udah", Oliv menghela nafas sejenak
"ya udah, sekarang kita kekelas yah", ajak Angel
"yah", Jawab Oliv
Sepulang sekolah Oliv menangis dikamar karena kejadian di Lab. Betapa benar nya ucapan Glen bahwa gw ga pantes untuk Jack. Glen gw kangen sama lo. gw emang jahat udah nyia nyia in lo, cowo yang selama ini udah sering bantu gw, perhatian sama gw...bla bla bla Tiba-tiba berbunyi suara telfon
"halo", jawab Oliv
"Oliv ini tante, mamahnya Glen, Glen kecelakaan mobil Oliv!, dan dia sekarang ada di Rumah Sakit", mamah Glen menangis
"APA", air mata Oliv seketika menetes
"tolong kesini ya Oliv, tante butuh Oliv buat nemenin Glen",
"iya tante Oliv segera kesana ya tante", Oliv langsung mematikan telfon
Oliv menuju rumah sakit yang disebut mamah Glen lewat SMS dengan supir nya. sesampainya dirumah sakit, Olive melihat keadaan Glen dengan perban dikepala nya dan Oliv mulai menangis menuju kasur Glen tanpa menghiraukan orang tua Glen.
"Glen lo kenapa, kenapa lo bisa kecelakaan, Glen bangun gw ada disini", Oliv memeluk Glen sambil meneteskan air matanya
"sabar Liv", mamah Glen berusaha menenangkan Oliv
"tante, tolong bangunin Glen, Oliv mau bicara sama Glen", air mata Oliv mengalir dari pipinya
"Oliv", mamah Glen lalu memeluk Oliv mencoba membuat nya tenang
Selama dua hari Oliv menemani Glen dirumah sakit dan tertidur sambil menggenggam tangan Glen.
"Oliv",Glen tersadar sejenak
"Glen lo udah sadar!?", Oliv langsung memeluk Glen
"Glen gw sayang sama lo", bisik Oliv menangis
"gw juga sayang sama lo", jawab Glen
"trus gimana dengan Jack", tanya Glen heran
"Jack bukan siapa-siapa gw, dan ternyata juga hati gw lebih memilih lo Glen, lo jangan ninggalin gw lagi yah", Oliv menangis
"gw akan selalu ada buat lo, lo jangan sedih", Glen mengusap air mata Oliv lalu mencium kening.
Sejak saat itu Glen dan Oliv selalu bersama, bahkan orang tua mereka berdua sudah menyusun rencana pertunangan untuk Oliv dan Glen.
Vina Christanti
Kelas : XI IPS



