Aku punya teman dekat masa kecil bernama Hendra. Suatu saat di desaku ada pertandingan bulutangkis antar pedukuhan (bagian kecil dari desa) untuk meramaikan acara tujuhbelasan. Dari kecil aku diajarkan olahraga tenis meja oleh ayahku. Pretasikupun tidak buruk-buruk amat waktu itu. bisa ikut porseni SD mewakili kota saat kelas 3, membuat aku bisa menginjakan kaki di kota Manado. Pestasi tertinggiku yang lain adalah juara 3 kejuaraan tenis meja sekota saat kelas 4 SD. Meski hanya tingkat kota, aku cukup bangga karenanya itu medali pertamaku.
Kembali kecerita bulutangkis. Aku waktu itu tidak boleh ikut tim di desaku meski cuma untuk latihan. Aku dianggap anak kecil yang cuma bisa tenis meja. Namun keadaan itu justru membuat aku berfikir. Bersama Hendra teman kecil ku itu, aku bermain-main selayaknya pemain bulu tangkis sungguhan, kami sering menggunakan bambu tempat jemuran baju sebagai Net kadang-kadang juga jemuran tetangga. Namun karena merasa mengganggu tempat menjemur, lalu kami membeli tali rafia dan merajutnya menjadi sebuah net bulu tangkis. Dikebun pepaya sebelah rumah Hendra yang juga tetangga rumahku, kami berdua membuat lapangan kecil. Diantara rimbun nya pohon-pohon pepaya, kami menyapu dan membersihkan kebun untuk tempat kami bermain-main, kebetulan pada saat itu orang tua Hendra membelikan dua buah Shuttlecock. Kami memasang net rafia rajutan kami diantara dua batang pohon pepaya, dan untungnya juga kami berdua mempunyai raket masing-masing. setiap sore, sebelum orang-orang dewasa latihan, aku dan Hendra bermain pertandingan bulu tangkis dikebun itu, sesekali kami berpasangan melawan teman yang lain, Okto dan Mikel. Setelah dilapangan orang-orang dewasa mulai berkumpul dan berlatih.
Selang waktu berganti, aku lulus SD. Sebelum nya kegiatan tenis mejaku mulai berhenti karena aku harus konsentrasi EBTANAS waktu itu. Karena berhenti kurang lebih 1 tahun, aku jadi malas untuk memulai nya lagi. Waktu awal SMP aku sempat bermain tenis meja lagi, karena ada kejuaraan antar sekolah dan pemilihan bibit unggul. Aku kalah, saat itu aku belum berpikiran untuk bulu tangkis, hingga suatu ketika ayahku bilang,
"biaya ikut tenis meja mahal nak, bapak keberatan, lagi pula kamu sudah tidak berkembang lagi dicabang itu" Aku cuma bisa ikuti kata-kata itu, lagi pula aku belum bisa mikir bagaimana masa depan ku.
Kebetulan di SMP saat itu ada Class Meeting bulu tangkis. karena aku dipaksa oleh salah satu guruku aku ikut tim sekolah.
Disitulah aku mulai tau bulu tangkis. sepatu yang dulu aku pakai untuk tenis meja, sekarang aku pakai untuk bulu tangkis, sejak kelas 2 SMP itu aku mulai ikut beberapa pertandingan bulu tangkis antar SMP. Hal yang aku ingat hingga sekarang adalah waktu tim SMP ku berlatih tanding melawan SMP tunas bangsa dihalaman belakang toko. Itu pertandingan pertama ku, aku sangat senang sekali bermain di single/tunggal karena menurutku sektor itulah yang sangat aku bisa kuasai.
Melihat aku sering bermain bulu tangkis, aku dibelikan sepatu merk Flypower oleh ayahku. Aku mulai ikut didaftar masuk di PB Raja Wali untuk berlatih.
Baru beberapa bulan bergabung, aku harus kembali konsentrasi ujian EBTA dan EBTANAS SMP, sehingga aku harus meninggalkan hobi baru ku itu.
Akhirnya aku lulus dengan nilai terbaik ke-3 sekecamatan, aku mendapatkan tawaran untuk melanjutkan di SMU Atlet Tahuna, Sulawesi Utara, namun Ibu tidak mengijinkan dan akhirnya aku mendaftar di SMU Unggulan di Kota Manado. dan puji Tuhan aku diterima SMA Fransiskus Manado. Aku mendapat hadiah sepatu olah raga merk RS warna biru Size 44 dengan harga 49 ribu dari ayah ku, beli ditoko olah raga dekat rumah.
Sejak masuk SMA itulah aku bergabung dengan PB yang membesarkan aku hingga sekarang, PB Raja Wali. Disitu aku mulai mengikuti beberapa pertandingan penting tingkat daerah dan nasional.
Bahkan ditahun 2006 aku mulai mencicipi keras nya PON (Pekan Olah Raga Nasional) ke-16 di Kalimantan Selatan dan aku membawa Tim Sulawesi Utara masuk 4 besar. Diputaran pertama aku jadi pemain terbaik dan best, tapi akhir musim aku mendapat gelar di PON ke-16 itu dengan meraih medali perunggu, tapi aku sangat senang sekali dengan prestasiku bisa membanggakan provinsi ku di tingkat Nasional.
Ovelza
Kelas XII IPSA




0 komentar to “Masa Kecilku”